Suerrr, Akang Belum Ikhlas

ANGIN malam berhembus pelan meniup setiap dedaunan yang seketika asyik bergoyang dengan syahdunya. Seperti sebuah orkestra, angin adalah sang arranger yang mengatur dedaunan untuk memunculkan sebuah alunan musik yang indah didengar. Meski tak bersyair, namun sesungguhnya irama orkestra malam itu mengandung pemaknaan nan indah tentang ciptaan Tuhan. Mereka bertasbih dan memuji seraya menyeru keagungan Tuhan dalam setiap desah dan liuk tubuhnya.

Semakin lama orkestra malam semakin seru, apalagi jangkrik dan bangkong sawah mulai bergabung dengan menyumbangkan suara khas. Orkestra malam, kini, mulai berlagu. Syairnya berasal dari jangkrik dan bangkong sawah yang saling bersahutan melantunkan syair berpantun. Tak sulit mengundang jangkrik dan bangkong sawah, karena keduanya merupakan biduan alam yang selalu senang menyumbangkan gemilang suaranya.

Alam selalu memiliki biduan-biduan terindah di jagat raya ini. Selain jangkrik dan bangkong sawah, alam di antaranya memiliki tonggeret dan burung hantu yang selalu melantunkan syair karya Sang Maha Maestro. Sementara di siang hari, panggung orkestra akan dipenuhi para biduan unggulan, mulai dari kenari, kutilang, hingga perkutut yang berkolaborasi indah dengan seruling yang ditiupkan angin.

Malam ini adalah yang kelima belas di bulan Jumadil-Akhir. Tepat pukul tujuh, bulan nan benderang menerangi alam Telaga Kahuripan yang tak seluruhnya berpijar lampu buatan. Walau purnama, danau Cilala tak ramai seperti halnya malam Minggu. Tak ada kelompok geng motor yang semalaman berjoget dangdut di tepi danau, pun tak ada sekelompok satpam yang harus menjaga keamanan. Cilala senyap, meski di beberapa titik terlihat beberapa pasang kekasih tengah asyik-masyuk. Ah, mungkin suasana seperti inilah yang dikatakan sebagai malam terindah oleh orang yang tengah dimabuk cinta.

Menerobos malam yang indah, Mang Endut melarikan sepeda motornya dengan santai. Melintasi Cilala yang sepi tak membuatnya takut atau ngeri dipergoki kuntilanak, gondoruwo, atau jin blegedek ireng (Jin dari jenis apa? Penulis sendiri tidak tahu, no comment!). Bahkan bagi Mang Endut, melintasi Cilala membuat aktifitasnya makin bertambah. Matanya wara-wiri memerhatikan titik-titik tempat sejumlah pasang manusia tengah memadu kasih. Bak kampret Gua Batman (?), mata Mang Endut menelanjangi malam sekadar menciptakan kesenangan hatinya.

Beberapa depa setelah melintasi Cilala, Mang Endut memoncongkan mulutnya untuk menghirup udara sekuat tenaga. Mang Endut bukan sejenis beruk yang gemar memoncongkan mulut, tapi ia sedang memamerkan hobinya menikmati udara nan segar. Tiga jam sebelumnya, Telaga Kahuripan basah diguyur hujan khas Bogor. Bau tanah basah masih menyengat hidung siapapun yang melintasi jalan. Bagi Mang Endut, mengendus bau tanah basah selepas hujan melebihi nikmatnya mengendus asap bakaran sate kambing Abah Warjan. Mang Endut akan mengisi penuh seluruh rongga di dadanya dengan udara segar bau tanah basah.

***

“Sudah makan, Pak?” dengan senyum nan manis Nyi Larung membuka pembicaraan seraya menyorongkan gelas berisi air putih.

“Alhamdulillah, sudah, Nyi,” jawab Mang Engdut yang dengan sigap langsung menenggak habis isi gelas bergambar Tom and Jerry itu.

“Sudah? Di mana? Lauknya apa? Sama siapa?” Nyi Larung bertanya penuh semangat. Tiba-tiba saja di hatinya muncul segunduk perasaan tidak senang atas jawaban Mang Endut.

“Di kantor sama teman-teman. Tadi kita ramai-ramai makan di warung tenda dekat kantor. Enak lho, Nyi. Pecel lelenya gurih dan sambalnya mantaaap pisan!” kisah Mang Endut dengan bangga.

“Oh, jadi begitu ya, Pak? Sejak sore saya tunggu untuk makan bersama, eh, tidak tahunya malah makan di luar. Apa Bapak tidak tahu kalau saya sudah bikin sayur asam, tempe goreng, dan ikan asin jambal roti kesukaan Bapak?”

“Maaf, Nyi. Sehabis rapat di kantor, tiba-tiba kami kelaparan. Jadi, ya..kami makan deh,”

“Lagi pula, bukankah saya sudah pesan tadi pagi supaya Bapak makan malam di rumah?”

“Iya, Nyi. Maaf, itu mah karena accident sedikit saja..”

“Hah? Accident apa-apaan? Bapak sering seperti ini. Tiba-tiba pulang dengan perut kenyang, sementara saya di sini menunggu sendirian seperti kambing congek!”

Gundukan kekesalan yang menyesakkan dada Nyi Larung akhirnya meletup. Suhu malam yang sejuk seketika berubah panas. Senyum manis Nyi Larung yang mengembang ketika Mang Endut datang pun seketika berubah menjadi getir, pahit bukan kepalang. Nyi Larung meradang. Dalam hatinya keluar seribu satu serapah tak jelas maknanya.

Mang Endut yang tersudut hanya diam. Tak ada cengar-cengir yang menjadi ciri khasnya. Suasana hatinya kecut, karena nyali kelelakiannya menjadi ciut. Ibarat bangkong sawah, Mang Endut berada dalam tempurung. Detak jantungnya melemah.

“Maaf, Nyi..”

“Tidak ada kata maaf bagimu!”

“Oh, ya? Nyai tidak mau memaafkan saya?”

“Jika dihitung, ini sudah yang ketiga puluh delapan kali, Pak! Selalu saja makanan di luar lebih Bapak pilih daripada masakan saya!”

“Sekali lagi, maaf, Nyi..”

Permintaan maaf Mang Endut di atas adalah yang terakhir, karena setelah itu suasana menjadi hening. Adapun Nyi Larung dan Mang Endut memiliki suasana hati yang berbeda. Keduanya terdiam, sejenak terlarut suasana hati yang bertolak belakang itu. Denting jam dinding yang menunjukkan tepat pukul delapan berderit parau seolah memiliki suasana hati yang kacau, sebagai bukti partisipasinya pada peristiwa yang tengah terjadi.

***


“Assalamu’alaikum.”

Sebuah suara yang datang dari arah depan mengubah kebekuan suasana. Nyi Larung dan Mang Endut yang terdiam, kini, bergeming. Suasana hati yang semrawut mulai ditata agar peperangan kecil itu tak diketahui orang lain. Seulas senyum pun siap siaga dipasang menghadang siapapun yang tadi mengucapkan salam.

“Wa’alaikumussalam.”

Nyi Larung dan Mang Endut serentak kompak menjawab salam. Tidak ada komando atau aba-aba. Ternyata masih ada sinergi yang menghubungkan hati keduanya.

“Eh, Abah Astagina. Silakan masuk, Abah,” Mang Endut yang membuka pintu dengan ramah menyambut tangan lelaki yang disebutnya Abah Astagina itu untuk diciumnya. Begitu pula Nyi Larung yang tidak ingin ketinggalan mencium tangan Abah Astagina.

Rasa hormat Nyi Larung dan Mang Endut kepada Abah Astagina begitu tinggi. Maklum saja, Abah Astagina merupakan ayah dari Nyi Larung, yang berarti juga merupakan mertua Mang Endut. Tak hanya sepasang suami-istri itu saja yang menaruh hormat kepada lelaki berusia 70 tahunan itu. Hampir seluruh warga di Gugus Candraloka, Telaga Kahuripan pun turut menaruh hormat kepadanya. Selain dituakan, Abah Astagina merupakan tempat bertanya setiap warga karena luasnya kebijaksanaan, pengalaman hidup, dan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Bahkan konon dirinya merupakan sosok yang weruh sa’durunge winarah, mengerti yang akan terjadi.

“Abah tidak sengaja mendengar percakapan sengit kalian. Maaf, bukan bermaksud menguping, tapi kebetulan saja Abah memang sengaja ingin berkunjung ke sini,” Abah Astagina menuturkan maksud kedatangannya.

Nyi Larung dan Mang Endut saling melirik. Ada perasaan tidak nyaman yang dirasakan keduanya karena peristiwa tadi di dengar Abah Astagina. Mang Endut tertunduk, sementara Nyi Larung menarik napas lebih dalam. Keduanya masih bingung, bagaimana menjelaskan peristiwa.

“Ya, seperti yang telah Abah dengar. Kang Endut ini telah membuat hati nyai kecewa..” Nyi Larung mencoba memberanikan diri untuk menjelaskan duduk persoalan.

“Meski telah membuat kecewa, apakah Nyai kehilangan rasa ikhlas telah membuat masakan untuk suami?”

“Ya, jelas, Abah..”

“Dan kamu, Endut. Perilakumu yang mengecewakan hati Nyi Larung, apakah benar-benar telah kamu sadari?”

“Sudah, Abah. Saya berjanji untuk tidak mengulanginya lagi,” kali ini Mang Endut menjawab dengan mantap.

“Nah, sebenarnya sudah selesai persoalannya, kan? Apakah Nyai masih tetap kesal?”

“Ya, jelas, Abah..”

“Cobalah untuk memaafkan, Nyai. Ikhlaskan apa yang telah terjadi. Tugas Nyai sudah benar dengan menyiapkan masakan buat suami. Adapun masakan itu, jika akhirnya tidak dimakan suami, mungkin saja hal itu sudah menjadi bagian dari rencana Tuhan. Ikhlaskan, Nyai. Insya Allah, Nyai akan mendapat balasan kebaikan yang setimpal.”

“Abah, ini bukan persoalan ikhlas atau tidak ikhlas. Ini persoalan betapa Kang Endut telah lalai dan melanggar janji yang telah diikrarkan!”

“Nyai, ikhlas itu merupakan sebuah tindakan yang tidak meminta imbalan apapun bentuknya. Begitu juga dengan apa yang telah dilakukan Nyai. Jika imbalan yang diminta Nyai hanyalah sebatas agar suamimu memakan apa yang Nyai masak, hal itu mungkin masih wajar. Akan tetapi jika imbalan itu dipinta dengan paksaan, maka niscaya hilanglah substansi keikhlasan itu. Adapun janji yang dilanggar suamimu itu pun akan menjadi pertimbangan di hadapan Tuhan!”

Nyi Larung dan Mang Endut yang mendapat penjelasan itu kembali tertunduk. Keduanya semakin menyadari betapa tindakan yang telah dilakukan tak sepatutnya terjadi jika saja keduanya memahami posisinya masing-masing. Penjelasan Abah Astagina kali ini benar-benar menohok batin sepasang suami-istri itu.

“Sudah saatnya kalian belajar bertindak ikhlas. Sebab keikhlasan itu sangat dekat dengan keridhaan Tuhan. Dalam sebuah hadis, Rasulullah Saw. berkisah...”

“Maaf sebentar, Abah. Sebelum melanjutkan, apakah Abah ingin minum? Air putih saja, kan?” Nyi Larung memotong ucapan Abah Astagina.

“He, he, heh.. Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar juga, Nyai. Apa saja yang penting enak,” Abah terkekeh melihat putrinya tanggap pada situasi.

Nyi Larung bergegas menuju dapur menyiapkan air putih untuk sang ayah. Sebagai seorang anak, Nyi Larung paham betul jika ayahnya memiliki masalah dengan tenggorokan. Usia Abah Astagina yang sudah tua ditandai pula dengan batuk yang beberapa kali diperdengarkan. Tak mungkin jika Nyi Larung memberikan teh manis yang nantinya dapat memicu batuk.

“Terima kasih, Nyai,” ujar Abah Astagina saat sebuah gelas dan sepiring singkong rebus menghampirinya.

“Endut, Nyai, ketahuilah bahwa sangat sedikit orang-orang yang memiliki keikhlasan di hatinya. Karena keikhlasan, sejatinya, bukanlah hal yang dapat di-cloning ke siapapun atau bersifat genetik. Para ulama mengatakan, ikhlas merupakan anugerah yang Allah Ta’ala berikan kepada hamba-hamba yang benar-benar mencintai-Nya. Konon, karena persoalan ikhlas inilah Baginda Rasulullah Saw. pernah mengernyitkan dahinya ketika seorang sahabat bertanya tentang apa yang dimaksud dengan ikhlas.

Setelah mematung sejenak, Rasulullah Saw. memusatkan perhatian dan menyampaikan pertanyaan serupa kepada Malaikat Jibril a.s., ‘Aku bertanya kepada Jibril As tentang ikhlas, apakah ikhlas itu?'' Lalu Jibril bertanya kepada Tuhan Yang Mahasuci tentang ikhlas, apakah sebenarnya? Allah Swt. menjawab Jibril dengan berfirman, ‘Suatu rahasia dari rahasia-Ku yang Aku tempatkan di hati hamba-hamba-Ku yang Kucintai.’ Demikianlah, begitu sulitnya menemukan ikhlas di hati semua orang, sampai-sampai Rasulullah Saw. sangat berhati-hati mengupas definisi ikhlas.

Endut, Nyai, seorang ulama kenamaan, Imam Al-Qusyairi An-Naisabury berpandangan bahwa bila seseorang memiliki sifat ikhlas, sesungguhnya ia akan menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan hidup. Apa yang dilakukannya semata-mata untuk Allah meski yang dia perbuat untuk mengurangi penderitaan sesama manusia. Ia akan selalu membantu orang, dengan alasan karena Allah memang Zat yang senang membantu. Ia akan bekerja kalau Allah yang menjadi tujuannya.”

“Wah, wah, beruntung sekali orang yang diberikan rasa ikhlas oleh Allah. Tapi, Abah. Apakah kita bisa menilai seseorang yang memiliki rasa ikhlas?” tanya Mang Endut.

“Oh, bisa. Sahabat Anas Ibnu Malik menuturkan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda mengenai ciri-ciri seorang mukhlis (orang yang memiliki keikhlasan), ‘Belenggu tidak akan masuk ke dalam hati seorang muslim jika ia menetapi tiga perkara; ikhlas beramal hanya bagi Allah, memberikan nasihat yang tulus kepada seorang penguasa dan tetap berkumpul dengan masyarakat muslim.’ Kalau kita bedah ketiga perkara ini, maka di dalamnya terdapat sebuah jihad an-nafs yang luar biasa. Kita dianjurkan untuk beramal hanya karena Allah Ta’ala saja, kita juga dianjurkan untuk memberikan nasihat kepada penguasa yang harus kita berikan nasihat dengan tanpa meminta pamrih apapun, baik uang maupun kekuasaan atau yang lainnya. Dan yang terakhir, kita pun dianjurkan untuk berkumpul dengan orang-orang muslim, yang tentunya mampu saling mengingatkan tentang kebenaran dan kesabaran.

Dan bagi seorang yang ikhlas, seluruh perbuatannya akan selalu berdasarkan suara nurani untuk kebaikan semua orang dan semua makhluk. Jika timbul dalam hatinya sebuah niat baik, ia akan melakukannya. Hidupnya mengalir seperti air bah, menerjang apa saja yang ada di depannya. Untuk apa yang dia perbuat, dia sudah melupakan apa yang disebut dengan pujian dan cercaan. Kata Dzun Nun Al-Mishry, ‘Amalnya tak lagi memberi ruang bagi lahirnya pujian atau cercaan’. Orang yang ikhlas akan tetap bekerja sesuai pesan Allah, meski manusia di sekitarnya memberikan pujian atau malah mencelanya.

Demikian tingginya derajat keikhlasan itu sehingga tidak semua orang mampu menjangkaunya. Dan ingat! Gara-gara ketidak-ikhlasan inilah orang-orang yang kita anggap saleh, justru pada akhirnya banyak yang tergelincir di jurang neraka!”

“Kenapa bisa begitu, Abah?” Mang Endut bertanya dengan serius.

“Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim r.a. dijelaskan bahwa Rasulullah Saw. mengisahkan tentang keadaan tiga orang yang melakukan amalan saleh: Orang yang pertama adalah seorang yang pandai membaca dan mengajarkan Al-Qur’an. Orang kedua adalah orang yang banyak bersedekah. Orang yang ketiga adalah orang yang berjihad di jalan Allah. Ketiganya merupakan orang-orang yang bergelimang pujian di mata masyarakat.

Ketika di akhirat, ditampakkan kepada ketiga orang ini nikmat-nikmat yang telah Allah berikan kepada mereka. Mereka lalu ditanya untuk apa nikmat yang Allah berikan tersebut. Orang yang pertama mengatakan bahwa nikmat yang Allah berikan itu dia pergunakan untuk membaca dan mengajarkan Al-Qur’an ikhlas karena Allah. Orang yang kedua begitu juga, dia menyebutkan bahwa nikmat dari Allah dia manfaatkan untuk bersedekah di jalan Allah. Dan orang yang ketiga berucap bahwa nikmat yang Allah berikan dia manfaatkan untuk berjihad di jalan Allah.

Setelah mereka menjawab pertanyaan tersebut, mereka ternyata tidak dipercayai oleh Allah. Orang pertama yang membaca serta mengajarkan Al-Qur’an, ternyata, memiliki secuil niat di dalam hatinya agar disebut sebagai qari’ (pembaca Al-Qur’an). Adapun orang kedua yang banyak bersedekah, memiliki secuil niat yang jauh di hati sanubarinya agar dipanggil sebagai dermawan. Sedangkan orang ketiga yang menghabiskan sebagian umurnya untuk berjihad, pun dinilai Allah memiliki secuil niat agar dia populer dengan panggilan pemberani dan saat meninggal nanti berharap mendapat gelar pahlawan.

Nasib mereka kemudian sangat tragis. Allah memerintahkan para malaikat agar ketiganya diseret ke dalam api neraka. Bahkan, lebih dari itu mereka diseret dengan sangat terhina!”

“Iiiih, serem sekali, Abah,” Nyi Larung yang merinding mengusap tangannya.

“Ya, begitulah, Nyai. Tiga orang yang melakukan perbuatan begitu mulia ternyata malah diseret ke dalam api neraka dengan sangat terhina. Apalagi kita yang hanya melakukan pekerjaan biasa saja, atau bahkan cenderung lalai terhadap apa yang diperintahkan Allah Ta’ala?”

“Berarti ketiganya memiliki persoalan dalam masalah niat, ya, Abah?” Mang Endut yang mencoba menganalisis kisah tadi bertanya dengan nada serius.

“Betul, Endut! Perbuatan baik mereka tercoreng oleh niat yang tidak diridhai Allah, meski hanya secuil! Oleh karena itu, Endut dan Nyai, marilah luruskan niat kita. Jangan sampai ibadah kita sia-sia karena tidak pandai menata niat. Jangan sampai sedekah kita diniatkan untuk popularitas, memberi makan orang miskin diniatkan agar dibicarakan orang, membaca Al-Qur’an di masjid-masjid supaya kelihatan alim, salat berjamaah di masjid biar dikira kita banyak ibadah, memerangi kemaksiatan supaya mendapat apresiasi dari banyak kalangan sebagai pemberani, atau lain sebagainya.”

“Wah, kalau begitu, sulit juga kita melakukan amal kebaikan. Bukankah terkadang kita sulit untuk melakukan sesuatu kalau tidak ada pamrih, Abah?” lagi-lagi Mang Endut bertanya.

“Itulah gunanya latihan beramal. Biasakan kita berniat dengan tulus hanya karena mengharapkan ridha Allah Swt. saja.”

“Kasihan juga, ya, para politisi kita yang menebarkan uangnya atas nama kadeudeuh. Karena di saat membagikan sembako, uang, sarung, dan Al-Qur’an, mereka juga membagikan kartu nama agar warga mengingat dirinya dan pada akhirnya memilih dia saat pilkada,” kata Nyi Larung.

“Memang, sejatinya para pemimpin dan calon pemimpin di negeri kita ini memberikan contoh terbaik kepada rakyatnya. Para pemimpin yang memiliki keikhlasan tentu akan selalu bekerja sesuai amanat rakyat, meski dia sadar tak ada orang yang memujinya. Dia selalu bekerja tanpa kompromi terhadap pelanggar dan pengkhianat rakyat, meski tahu akan dicerca banyak orang, bahkan koleganya.
Bagi orang yang hidupnya diliputi tabir keikhlasan, malah akan selalu melupakan apa yang telah dia amalkan. Anehnya, para pemimpin yang mendapatkan amanat rakyat justru tidak pernah mau bekerja dan beramal. Bahkan, kalau pun harus bekerja, dia masih menunggu apakah memang terbuka peluang bagi munculnya pujian. Keberaniannya memberantas korupsi langsung mengkerut, setelah berhitung betapa banyak yang akan mencercanya.

Para pemimpin yang hatinya bersimbah keikhlasan ini akan berlaku adil, tidak hanya memihak golongannya saja, tetapi juga mendengarkan aspirasi sebagian rakyatnya yang lain. Ia pun akan bersifat universal, lintas agama, lintas golongan ataupun lintas kepentingan politik, asalkan masih berada dalam koridor kebenaran. Pemimpin semacam inilah yang selalu menjadi gunjingan positif publik dunia sekaligus didengarkan segala aspirasinya.”

“Betapa indahnya negeri ini jika memiliki para pemimpin dan wakil rakyat yang hatinya berselimut tabir keikhlasan, ya, Abah. Sayangnya, para pemimpin kita dan wakil rakyat, sepertinya, memiliki political will yang jauh dari keikhlasan untuk menyejahterakan rakyatnya. Mereka malah sibuk mementingkan kebutuhan pribadi dan golongannya dengan menghalalkan segala cara dan tidak peduli pada kondisi riil rakyatnya.”

“Tapi ingat, Nyai, bukan karena kisah dari Rasulullah Saw. tadi kita kemudian menyurutkan langkah untuk beramal kebaikan. Bisa jadi orang-orang yang mendengarkan kisah di atas berpendapat untuk lebih memilih tidak berbuat amal kebaikan dibandingkan berbuat namun tetap saja dijebloskan ke neraka. Bukan begitu. Teruskan saja kita beramal kebaikan, namun, yang perlu diingat dan diperhatikan adalah: kita harus menjaga niat!”

“Oh, begitu. Hampir saja saya berpendapat bahwa mungkin lebih baik saya tidak menyiapkan masakan untuk Kang Endut. Karena saya takut jika salah niat, apa yang saya kerjakan pun menjadi sia-sia.”

“Wah, jangan begitu dong, Nyai. Bagaimana dengan cacing-cacing yang ada di perut saya?” Mang Endut memprotes dengan kekanak-kanakannya.

“Betul, jangan begitu, Nyai. Sebagai manusia, kita adalah mahalul khatha’ wa an-nisyan, tempat salah dan lupa. Jadi, saat kita merasa ada sedikit saja niat kita yang melenceng dari koridor yang benar, maka perbaikilah. Ucapkan istighfar ketika kita tergeincir, agar Allah Swt. berkenan mengampuni kita dan meluruskan kembali niat kita. Setelah memohon ampun, tatalah kembali hati kita untuk berniat, apa pun yang kita kerjakan hanya berharap mendapat keridhaan Allah Swt..”

“Sekarang saya mengerti, Abah. Mulai sekarang saya akan tetap tersenyum meski masakan saya tetap saja tidak dimakan Kang Endut,” Nyi Larung mengangguk dengan nada bersemangat.

“Nah, begitu dong, Nyai. Sebagai istri, melakukan service terbaik untuk suami adalah kewajiban. Kalaupun hasilnya tidak seperti yang diharapkan, ya, itu persoalan lain. Jika suami tidak mau memakannya, mungkin saja dia sudah kenyang atau memang kurang menghargai usaha istrinya. Hal itu jangan kamu pikirkan, Nyai. Biar saja itu urusan suamimu di hadapan Allah.”

“Betul, Abah! Biar saja Kang Endut digerus ulekan malaikat Malik jika sekali lagi berani mengingkari janjinya!” tiba-tiba Nyi Larung berpaling ke arah Mang Endut sambil memelototkan matanya.

“Iih, ulah kitu, Nyai. Saya janji tidak mengulanginya. Sueerr,” Mang Endut yang bergidik melihat ulah istrinya langsung mengacungkan dua jarinya.

***

Kehadiran Abah Astagina benar-benar menjadi pelita dalam keluarga Mang Endut dan Nyi Larung. Setidaknya, keributan yang terjadi dapat padam dan berubah menjadi sebuah kebahagiaan. Kini, di hadapan Abah Astagina tampak sebuah pertunjukan dagelan yang diperankan Mang Endut dan Nyi Larung yang saling berbantahan sambil sesekali tertawa.

Denting jam berulang sepuluh kali, pertanda tepat pukul sepuluh malam. Aura kebahagiaan yang terpancar di ruangan lagi-lagi memberikan imbas pada jam dinding. Kini, suara dentingannya tak lagi parau, melainkan nyaring pertanda turut bahagia pada suasana hati sang majikan.

“Alhamdulillah. Tidak terasa, ternyata sudah pukul sepuluh malam. Nyai, Endut, Abah pamit pulang,” Abah Astagina berdiri sambil merapikan bajunya.

“Abah, ini kan sudah larut. Sebaiknya Abah menginap saja di sini. Kamar depan sudah saya persiapkan untuk Abah,” Nyi Larung menawarkan.

“Terima kasih, Nyai. Mungkin lain kali saja, ya,”

“Tidak, Abah. Nyai berharap sekali Abah menginap malam ini. Bukankah di rumah ada Nyi Laras dan Dawala? Biar nanti saya menelepon ke rumah. Menginap saja, Abah,” Nyi Larung merengek seperti anak kecil meminta balon kepada ayahnya.

“Baiklah. Kalau begitu, Abah langsung tidur saja. Sudah mengantuk.”

“Sudah salat isya, Abah?” tanya Mang Endut.

“Alhamdulillah sudah.”

Abah Astagina langsung menuju kamar yang ditunjukkan Nyi Larung. Setelah pintu kamar tertutup, suasana ruang keluarga itu kembali hening.

“Nyai, kenapa Abah diminta menginap di sini?” tanya Mang Endut.

“Lho, memang kenapa, Pak?”

“Nyai, apa kamu lupa kalau malam ini malam Jumat?”

“Ada apa dengan malam Jumat, Pak?”

“Iih, Nyai. Kata orang, malam ini kan sunah rosul kalau kita...”

“Oh, begitu.. apa hubungannya dengan Abah?”

“Ya.., tidak nyaman saja.”

“Pak, ikhlaskan saja kehadiran Abah di sini. Mudah-mudahan amal kebaikan kita mendapat ridha Allah. Belajar ikhlas, ya, Pak,” begitu lembut Nyi Larung membelai wajah suaminya.
Ikhlas? Kata-kata itu masih mengganjal dalam hati Mang Endut. Untuk situasi yang lain, mungkin kata-kata itu masih bisa dipahami. Tapi, dalam keadaan seperti ini? Mang Endut masih harus berpikir ulang untuk menggarisbawahi kata ikhlas!

"Nyai, suerrr..Akang belum ikhlas," gumam Mang Endut lirih.

Ah, Mang Endut...

Baca Selanjutnya......

Memanen Rahmat Menjelang Subuh


“Wahai Tuhan kami, terimalah (amalan) kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Wahai Tuhan kami, (jadikanlah) di antara anak-anak kami umat yang tunduk patuh pada Engkau dan tunjukkanlah pada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang,” (QS. Al-Baqarah: 127-128).

*****


Seperti biasa, kemacetan ibukota memuncak setiap Senin. Tak kecuali Senin pertengahan Februari lalu, saat TAUBAH berkesempatan melakukan silaturahim dengan Dr. Dewi Motik Pramono, Msi, di kediamannya yang asri di kawasan Jl. Surabaya, Jakarta Pusat. Hawa di kawasan sebelah Cikini itu begitu sejuk. Acara silaturahim nan santai itu pun semakin akrab saat teh hangat mulai terasa kenikmatannya.

Berbincang dengan Dewi Motik, demikian biasanya ibu cantik ini disapa, selalu ramai dan tak menjenuhkan. Ada saja celoteh cerdas yang menggambarkan keluasan pengetahuan pendiri Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi) ini. Mulai dari obrolan ringan tentang taman di samping kolam renang di belakang rumah, hingga permasalahan keluarga dan wanita Indonesia saat ini.

Sebagai perempuan yang selalu bangga dengan posisi ibu rumah tangga, Dewi begitu fasih membagi pengalamannya mendidik anak-anak dan menjaga keharmonisan rumah tangganya. Kesan itu begitu dalam ketika ibu dari Moza Pramita Pramono dan Adimaz Prarezeki Indra Muda ini membeberkan sejumlah ‘rahasia’ keharmonisan keluarganya.

‘Rahasia-rahasia’ itu di antaranya muncul saat subuh. Ya, saat itulah keharmonisan keluarga Dewi berawal setiap harinya. Ada apa dengan subuh? Menurut istri dari Pramono Soekasno ini, ada beberapa hal yang ia temukan saat subuh. Pertama, saat subuh adalah pertama kali manusia dibukakan matanya setelah sebelumnya dimatikan oleh Allah. “Saya bilang kepada anak-anak bahwa setelah bangun tidur, biasakan membaca doa bangun tidur kemudian membaca hamdalah, syahadat, istigfar, Al-Fatihah, dan Al-Ikhlas sebanyak sebelas kali,” paparnya membagi resep.

Alasan yang kedua, subuh memberikan suasana kasih sayang yang luar biasa. “Peluk pasangan hidup kita sebagai tanda kasih sayang. Saat memeluk pasangan hidup inilah masing-masing aura kuat sekali. Kalau belum memiliki pasangan hidup, kita ucapkan banyak pujian kepada Allah SWT. Hal ini penting karena kita baru dihidupkan kembali setelah mati,” tambahnya.

Dalam keluarga Dewi, saat subuh memang selalu spesial. Setelah melakukan dua tahapan di atas, Dewi dan anak-anaknya selalu melaksanakan salat subuh berjamaah yang dipimpin oleh sang kepala keluarga. Ini adalah tradisi yang telah berlangsung lama sejak Dewi kanak-kanak. Dahulu, kenang Dewi, ibunya tak pernah bosan mengajak Dewi dan saudara-saudaranya melaksanakan salat subuh berjamaah.

Dalam memilih calon menantu pun, Dewi dan Pramono memiliki syarat mutlak. Mereka tidak mementingkan seberapa kaya calon menantu. Saat Moza akan menikah, Dewi dan Pramono hanya memberikan syarat agar calon suami Moza itu bisa menjadi ‘Imam’ dalam salat. Mereka tidak ingin melihat keluarga Moza nantinya melaksanakan salat secara terpisah (sendiri-sendiri). “Apapun itu, salat berjamaah lebih baik 27 kali di banding salat sendiri. Kalau belum bisa menjadi ‘Imam’, tolong jangan kawini dulu anak saya,” tegas Dewi.

Rahasia lainnya adalah komunikasi. Meski anak keduanya, Adimaz, saat ini tengah menimba ilmu di London, Inggris, Dewi selalu menyempatkan diri untuk menjaga komunikasi dengan Adimaz. “Biasanya dua minggu sekali. Sekarang ini kan serba mudah. Angkat telepon, langsung ngobrol,” ujar mantan none Jakarta ini.

Sedangkan komunikasi dengan Moza, Dewi melakukannya hampir setiap saat. Maklum, Moza dan Panya Siregar, suaminya, memiliki kesibukan di Jakarta. Apalagi, Dewi mengaku selalu kangen kepada cucunya, Malik.Arifin Siregar.

Bahkan untuk berkomunikasi, Dewi telah membiasakannya saat Moza dan Adimaz masih bayi. “Saya punya pandangan, jangan pernah menganggap anak yang tidur itu betul-betul terlelap. Biasakan menyapanya meski pun kita baru pulang larut malam. Peluk anak kita dan berikan doa saat mereka sedang tertidur, kemudian berikan kata-kata indah, betapa sayangnya kita kepada mereka,” tegasnya.



Rahasia Ya Sin

“Kalau musik Bethoven dan Mozart saja bisa dikatakan dapat memicu otak bayi di dalam kandungan, kenapa tidak dengan bacaan ayat-ayat suci Alquran?” Barisan kalimat ini begitu tegas dilontarkan Dewi yang kini juga aktif sebagai koordinator Aliansi Perempuan Untuk Pembangunan Berkelanjutan (APPB) bidang lingkungan hidup ini.

Sejak dulu, orang tua di negeri ini terbiasa menyanyikan lagu saat akan menidurkan anaknya. Kebiasaan ini, menurut Dewi, merupakan hal positif sebagai bagian dari proses pendidikan. Namun, lebih baik lagi jika dilakukan lebih dini, saat anak masih di dalam kandungan. Apalagi, yang diberikan adalah bacaan-bacaan mulia seperti Alquran dan shalawat.

Memberikan pendidikan kepada anak, menurut Dewi, merupakan keharusan bagi orang tua. Baginya, keluarga merupakan sekolah pertama bagi anak-anaknya, meski semua anaknya disekolahkan di sekolah islami. Sejak masih kecil, selain dibiasakan melaksanakan salat subuh berjamaah, Dewi pun menanamkan pentingnya menjaga salat kepada anak-anaknya. Sebab dengan menjaga salat, menurutnya, kehidupan anak-anaknya pun akan tertata rapi sesuai kaidah dalam Islam.

“Dalam mendidik anak, bagi saya, yang penting adalah agama. Apa pun bisa saja terjadi pada anak-anak kita, dan pelindung yang paling utama adalah agama. Bisa saja anak saya melakukan kesalahan. Namun, dengan memiliki pengetahuan agama yang benar, maka dia bisa secepatnya sadar dan menemukan solusinya,” paparnya.

Pendidikan agama yang telah ditanamkan Dewi kepada anak-anaknya sejak kecil, sudah lama terlihat hasilnya. Misalnya, ketika Moza dan Adimaz masih belajar sepatu roda, tak jarang mereka berhenti untuk salat saat adzan terdengar. Moza dan Adimaz memang dibiasakan membawa peralatan salat ke mana pun.

Hati Dewi pernah terharu bercampur bahagia saat menelepon Adimaz, beberapa waktu lalu. Adimaz minta dititipkan buku “Ya Sin” kepada temannya yang sedang berlibur di Jakarta. Buku “Ya Sin” yang pernah diberikan Dewi untuk Adimaz ternyata telah sobek di bagian cover-nya karena sering digunakan. “Mah, minta buku yang cover-nya tebal, ya...” pinta Adimaz di telepon.

Tentang buku “Ya Sin” ini, Dewi memang memiliki kesan tersendiri. Dewi sering berpesan kepada anak-anaknya bahwa obat pelipur lara yang paling mujarab adalah membaca Alquran. “Dan surat Ya Sin adalah jantung Alquran. Jadi sering-sering lah membaca Ya Sin agar hati kita selalu tenang,” kata Dewi memberikan nasihat.

Mengajak Anak Bergaul dengan Dhuafa

Sebagai sosok ibu rumah tangga dan wanita karir yang aktif dalam berbagai kegiatan usaha dan kemasyarakatan, tak jarang Dewi mengajak Moza dan Adimaz dalam kegiatannya. Pelbagai kegiatan sosial seperti menyantuni anak yatim, piatu, fakir, dan miskin yang dilakukan Dewi hampir pasti melibatkan kedua anaknya tersebut. Dewi memiliki moto, tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah.

Tampaknya, Dewi memang ingin memberikan pendidikan sosial kepada kedua anaknya. Salah satunya adalah menanamkan jiwa penyantun seperti meminta Moza dan Adimaz menyerahkan bantuan secara langsung, baik berupa barang atau uang recehan kepada kaum dhuafa. “Bagi kita yang sudah dewasa, mungkin, menjadi hal biasa. Tapi bagi anak-anak, hal tersebut menjadi sebuah metode pendidikan yang sangat berkesan,” jelas Dewi.

Nyatanya, pendidikan seperti itu betul-betul membekas bagi Moza dan Adimaz. Saat Malik, putra Moza dan Panya Siregar, berulang tahun kali pertama, Moza membawa Malik ke tempat anak-anak yatim piatu. Usia satu tahun Malik pun dirayakan dengan kegembiraan bersama anak-anak kurang beruntung itu. Tampaknya, Moza ingin menanamkan jiwa penyantun kepada anaknya.

Beberapa minggu lalu, saat Moza mengunjungi rekannya yang menjadi dokter di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), rasa kaget singgah di dadanya. Moza melihat para pasien yang hampir semuanya adalah kaum miskin. Kekagetannya bertambah saat melihat betapa kotornya lingkungan rumah sakit umum itu.

Dalam hatinya, Moza memiliki ide untuk memberikan sejumlah kupon bagi beberapa pasien. Kupon ini dapat ditukar dengan sejumlah uang yang secara langsung dapat diakses di bank. Rencananya, niat itu akan direalisasikan saat Malik berulang tahun kedua kalinya.

Management by Love

“Cinta itu ibarat tanaman. Dia perlu perhatian dan perawatan. Jika tidak, maka tanaman akan layu dan pelan-pelan mati. Untuk tanaman diperlukan air dan pupuk. Untuk cinta diperlukan perhatian dan kasih sayang. Tanpa perhatian dan kasih sayang mustahil cinta akan dapat terus tumbuh. Tanpa cinta, rumah tangga akan terasa hambar, bak sayur tanpa garam.”

Paragraf di atas merupakan sebagian kecil barisan kalimat indah yang tertera dalam “Management by Love, Membuat Suami dan Orang Lain Mencintai Kita”, sebuah karya Dewi Motik yang dirilis Juni tahun lalu. Dalam buku tersebut, Dewi memberikan inspirasi bagaimana menciptakan keharmonisan dalam rumah tangga. Senyatanya, isi buku tersebut adalah serpihan-serpihan kehidupan rumah tangga Dewi bersama Pramono setelah lebih dari 30 tahun mengarungi bahteranya.

Dewi menginginkan rumah tangganya terbingkai rasa cinta, baik cinta kepada Allah Ta’ala, keluarga, lingkungan, diri, dan profesi. Dengan mencintai Allah Ta’ala berarti mengerjakan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Dewi meyakini bahwa semua perintah Allah itu pasti baik dan benar. Oleh karena itu, kalau semua anggota keluarganya mencintai Allah, maka otomatis perilaku semua anggota keluarganya pun jauh dari hal yang buruk dan tercela.

Mencintai keluarga merupakan implementasi rasa cinta kepada hamba Allah yang paling dekat. Keluarga bisa berarti orang tua dan saudara-saudara, pasangan hidup dan anak-anak, mertua dan saudara-saudara pasangan. “Tanpa mereka, hidup kita tidak akan seperti ini. Dari keluarga, kita mendapatkan nilai-nilai luhur yang menjadi tuntutan kita dalam menjalani kehidupan. Dari keluarga pula kita mendapatkan curahan kasih sayang yang membuat kita tumbuh menjadi insan yang santun,” papar Dewi.

Begitu pula dengan lingkungan tempat manusia tinggal, sekolah, maupun bekerja. Dari lingkungan, manusia memperoleh tambahan nilai-nilai luhur yang semakin membentuknya menjadi pribadi yang mulia. “Adapun sebagai pekerja, kita harus bisa bekerja dengan sepenuh hati, yaitu dengan mencintai profesi kita. Seberat apa pun tugas kita, jika kita mencintai profesi itu, maka tugas tersebut akan terasa ringan,” tambahnya.

Dan yang tak kalah penting, menurut Dewi, adalah mencintai diri sendiri. Syaratnya adalah mengenali diri sendiri dengan baik. Banyak orang yang tak mengenali dirinya. Akibatnya, dia tidak mengetahui kelebihan dan kekurangannya. Padahal, dengan mengenali kekurangan diri, manusia akan termotivasi untuk belajar dan memperbaiki diri. Adapun dengan mengenali kelebihan diri, manusia akan bersyukur dan berusaha memeliharanya dengan baik.

Begitulah Dewi memaparkan ‘rahasia-rahasia’ keharmonisan keluarganya. Ia begitu yakin dengan kasih, sayang, dan cinta yang terpancar dari setiap anggota keluarganya, maka bahtera rumah tangga pun akan berjalan sesuai keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Tips:

Membangun Kerajaan Cinta Dalam Rumah Tangga

  1. Salat berjamaah: Salat merupakan representasi kehidupan sosial dalam rumah tangga. Di dalamnya ada seorang ‘Imam’ yang memimpin para makmum sebagai masyarakat yang siap mendukungnya. Dengan berjamaah, salat tidak hanya memiliki makna kesalehan individu, namun juga mencerminkan aktifitas sosial.
  2. Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah: Islam mengajarkan sikap dermawan kepada siapa pun. Saling tolong dalam hal kebaikan merupakan kunci keharmonisan dalam bermasyarakat. Maka, mendidik anak-anak agar menjadi seorang penyantun berarti mendidik anak-anak menjiwai Islam sesungguhnya.
  3. Komunikasi: Sampaikan setiap pesan atau pun perintah kepada anak dengan bahasa yang santun. Memori anak akan merekamnya hingga ia besar dan ia akan mempraktekannya kelak. Bukankah perkataan lebih tajam dibanding pedang?
  4. Ajarkan Cinta: Orangtua merupakan teladan bagi anak-anaknya. Mengajarkan rasa cinta dengan memberikan contoh perilaku kasih dan sayang kepada mereka dapat membentuk generasi rahmatan lil ‘alamin.
  5. Suami adalah Imam dalam Keluarga: Satu hal yang ditekankan Dewi Motik dalam menjaga keharmonisan rumah tangga, yaitu sikap manut-nya terhadap suami. Meski Dewi begitu dikenal sebagai wanita karir, namun menurutnya, kemandirian serta kematangannya sebagai wanita tak terlepas dari peran suami. “Bagaimana pun, suami adalah Imam dalam keluarga,” tegasnya.


(Disadur dari Majalah Taubah Edisi Maret 2006, Imam Fathurrohman)

Baca Selanjutnya......

Mencintai Rakyat A la Keluarga Pemimpin



“Sembahlah Allah dan janganlah kamu menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat, dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu,” (QS. An-Nisa: 36).

*****

Ibarat pepatah, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Makna dari pepatah itu, tampaknya, sesuai benar dengan alur hidup keluarga besar H. Ismet Iskandar, Bupati Tangerang saat ini. Kiprah pria berkaca mata yang murah senyum ini begitu dikagumi masyarakat Kabupaten Tangerang. Tak hanya kiprah sang Bupati, namun apa yang dilakukan oleh seluruh anggota keluarganya pun mendapat simpati positif dari masyarakat.

Dalam pandangan sebagian besar masyarakat di kabupaten pinggiran Jakarta tersebut, keluarga sang Bupati tak cuma dikenal baik, tapi juga sangat dekat dengan meraka. Keluarga besar H. Ismet Iskandar tak akan segan berkumpul dengan pelbagai kalangan, baik pejabat hingga warga yang tinggal di kolong jembatan.

Tak berbeda dengan sang suami, Hj. Chandra Elia dikenal pula sebagai sosok perempuan yang gigih memperjuangkan kesejahteraan rakyat. Kesehariannya hampir dipadati jadual bertatap muka dengan masyarakat, hingga yang berada di daerah pelosok. “Ini adalah tekad dan amanah bagi kami. Sebagai orang yang dipercaya rakyat, maka kami pun harus memperhatikan kesejahteraan mereka,” katanya dengan nada serius.

Menjadi Ketua Umum Tim Penggerak PKK Kabupaten Tangerang menjadi salah satu alasan mengapa dirinya rela bersimbah keringat untuk menemui dan memberikan bantuan kepada warga. Alasan lainnya, menurut perempuan cantik berjilbab ini, karena dirinya adalah hamba Allah yang ingin selalu bermanfaat bagi sesamanya.

Sebagai putri asli Tangerang yang terlahir pada 23 Agustus 1949, Hj. Chandra Elia benar-benar mengeluarkan totalitasnya dalam membina dan mengembangkan sumber daya manusia di salah satu kabupaten di Propinsi Banten ini. Lebih dari separuh umurnya pun dihabiskan untuk memikirkan kemajuan dan kesejahteraan rakyat.

Tengok saja perjalanan karirnya yang pernah memangku sejumlah jabatan dan bersentuhan langsung dengan rakyat. Peraih pengelola 10 program pokok PKK se-Jawa Barat di tahun 1985 ini tercatat pernah menjadi anggota DPRD sejak 1992 hingga 2004. Tak heran jika penerima Manggala Karya Kencana dari BKKBN Pusat ini pun kini begitu aktif menyokong kiprah sang suami sebagai Bupati.

“Ibu (Hj. Chandra Elia) ini, mungkin termasuk segelintir keluarga pejabat yang sibuk memikirkan rakyat. Setiap hari, ada saja kesibukannya di sejumlah daerah untuk terjun langsung memberikan pengarahan dan bantuan kepada masyarakat,” papar Ibu Duroh, salah seorang pengurus PKK, mengisahkan. Karena aktifitas Hj. Chandra Elia yang begitu padat tersebut, Ibu Duroh dan para pengurus lainnya pun harus rela mengimbangi ritme sang ketua.

Aktifitas yang dilakukan keluarga besar ini tak melulu didasarkan pada jabatan politis yang tengah diemban H. Ismet Iskandar. Lebih dari itu, aksi sosial yang kerap dilakukan keluarga ini, jauh dari kesan politis. Bahkan, banyak kalangan masyarakat yang tak sadar saat mereka tengah dikunjungi salah seorang putra-putri sang bupati.

Menjadi Keluarga Inklusif

Penanaman nilai-nilai kemanusiaan memang menjadi standar pendidikan dalam keluarga besar H. Ismet Iskandar, di samping ketatnya pendidikan agama. Sejak kecil, Achmed Zaki Iskandar, Nunis Akmalia, Intan Nurul Hikmah, dan Achmed Zulfikar telah ditanamkan budaya disiplin untuk mempelajari ragam ilmu pengetahuan dan agama berikut aplikasinya.

Beragam ilmu pengetahuan yang didapat tak hanya melalui bangku sekolah, namun juga melalui guru-guru privat yang didatangkan ke rumah. Tak heran jika kempatnya terbiasa melafalkan bahasa inggris dalam keseharian dan menjadi siswa unggulan di masing-masing sekolahnya.

“Penanaman nilai-nilai keislaman tak hanya kami wujudkan dengan memberikan model pendidikan agama. Yang penting adalah bagaimana mereka mengaplikasikannya di masyarakat,” tutur Hj. Chandra Elia.

Ya, aplikasi kemampuan diri di masyarakat, tampaknya memang menjadi obsesi dan keharusan bagi keluarga ini. Sejak H. Ismet Iskandar menikahi Hj. Chandra Elia pada 4 Maret 1973 silam, obsesi tersebut dipancangkan kuat hingga diikuti putra dan putrinya kini. Keempat anaknya, saat ini, berkecimpung di sejumlah organisasi kemasyarakatan, di samping berwirausaha. “Mereka tak satupun yang tertarik menjadi pejabat, seperti ayahnya,” kata Hj. Chandra Elia dengan tersenyum.

Menjadi seorang abdi negara yang diemban H. Ismet Iskandar dan Hj. Chandra Elia menuai kisah tersendiri dalam perjalanan bahtera rumah tangga. Keduanya menanamkan kesederhanaan kepada anak-anaknya. Apalagi ketika Zaki dan Intan harus belajar ke negeri kanguru, Asutralia. Kondisi keuangan keluarga pegawai negeri sipil yang ‘pas-pasan’ menjadi alasan bagi keduanya untuk mengatur keuangan sepintar mungkin.

Kesederhanaan yang terdidik sejak dini, berimbas pada lingkungan pergaulan. Seperti kedua orang tuanya, keempatnya tak sedikit pun risih ketika harus masuk pada lingkungan yang berbeda, baik kalangan di lingkungan para pejabat, politisi, pengusaha, maupun rakyat jelata. “Bagi kami, keterbukaan bergaul dengan siapa pun menjadi salah satu kunci, agar kita tetap dekat dan selalu mencintai sesama,” tutur Hj. Chandra Elia berbagi resep. []

Inbox

Kaya Ide dan Murah Hati

Mengenal lebih dekat sosok Hj. Chandra Elia, kita tak lagi perlu sungkan dalam berbagi kata. Kebiasaannya bergaul dengan masyarakat luas, membuat suasana perbincangan menjadi lebih hangat, karena kita pun sesekali akan diajaknya tertawa.

Menjadi seorang pemimpin, membuatnya selalu kaya akan ide. Perkataannya yang selalu runut dan dibalut tata kalimat yang apik mencerminkan luasnya pengetahuan yang dimilikinya. Ada saja gagasan yang mencuat untuk dijadikan sebuah program. “Hal seperti ini bagi kami adalah biasa. Kami yang mendampingi beliau setiap hari selalu kagum akan ide-idenya yang brilian tentang kesejahteraan rakyat,” tutur Ibu Yoyoh, sekretaris TP PKK Kabupaten Tangerang turut menjelaskan.

Pemikiran Hj. Chandra Elia ini, menurut Yoyoh, mencerminkan totalitasnya dalam menjalankan amanah sekaligus mencerminkan kemurahan hatinya. “Selama saya bekerja di TP PKK mendampingi ketua-ketua sebelumnya, tak pernah ada yang seaktif beliau ini,” tambah Yoyoh tanpa bermaksud menyombongkan sang ketua.




(Disadur dari Majalah Taubah Edisi Juli 2006, Imam Fathurrohman)

Baca Selanjutnya......

Menempa Kesalehan Sosial dalam Keluarga

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Berbuat baiklah kepada kedua orangtua, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu.” (QS. An-Nisa: 36)

*****

Kesalehan pribadi merupakan cermin terciptanya kesalehan sosial. Degradasi moral yang dipertontonkan masyarakat Indonesia, baik di level bawah hingga atas, adalah implikasi nyata lemahnya kesalehan sosial. Tengok saja faktanya, ibu pertiwi menduduki posisi kedua setelah Swedia untuk urusan negara dengan kasus pornografi dan pornoaksi lewat lokalisasi, sinetron, film, hingga media yang mengeksploitasi kemesuman. Belum lagi fakta bahwa negara ini menjadi salah satu negara terkorup di dunia. Kemiskinan merajalela di mana-mana, kelaparan hingga ketimpangan sosial yang terpampang di setiap sudut desa dan kota.

Miris hati Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS saat melihat kenyataan yang menjadi cermin negara ini. Lebih miris lagi, Indonesia adalah negara dengan jumlah pemeluk Islam terbesar di dunia. Sering terlintas pelbagai pertanyaan dalam benaknya, ke mana salat, puasa, zakat, dan haji yang selama ini dilaksanakan umat Islam? Alangkah nihilnya nilai ibadah yang dilakukan dalam keseharian, sehingga tak memiliki dampak positif bagi diri dan lingkungan sekitar. Sementara jamaah-jamaah taklim dan dzikir tumbuh bak jamur di musim hujan. Apalagi pelaksanaan ibadah umrah dan haji mengalami peningkatan.

Sebagai mantan pejabat eksekutif, Rokhmin sering memperhatikan perilaku ibadah di kalangan para pejabat negara. Di antara mereka, menurutnya, banyak yang hanya melaksanakan salat Jumat saja dalam seminggunya. Hal itu lebih kentara lagi saat dirinya sering melakukan tugas ke daerah bersama sejumlah pejabat muslim. Dan yang lebih parah adalah budaya suap yang saat ini menjadi tren di kalangan mereka. ”Sebagian besar dari para pejabat, saat saya menjadi menteri, memiliki karakter mata duitan. Seolah-olah segala kebaikan itu dinilai dengan uang. Siapa pun yang ngasih uang, baru dianggap sahabat. Padahal, yang merusak negara itu kan mereka yang melakukan itu,” papar menteri di era Abdurrahman Wahid dan Megawati Soekarnoputri ini dengan geram.

Sekali waktu dirinya menemukan orang yang rajin salat, namun banyak di antara mereka yang berkelakuan tidak baik. Orang-orang seperti inilah yang kadang tidak dapat dimengerti olehnya. Bisa jadi, mungkin, mereka melaksanakan salat lima waktu dalam sehari, namun hubungannya dengan rekan kerja atau lingkungannya begitu buruk. “Lalu di mana hakikat salatnya?” suatu saat Rokhmin bertanya kepada anak-anaknya. “Mungkin salatnya hanya jungkal-jungkel saja, Pa,” jawab mereka.

Berbagai kenyataan yang terjadi di masyarakat, betul-betul sangat diperhatikan Rokhmin. Bahkan, tema-tema seperti itulah yang sering dijadikan bahan ulasan saat Rokhmin berkumpul selepas salat berjamaah dengan istri dan anak-anaknya. Inilah salah satu cara Rokhmin berdialog dan membincang keislaman agar lebih dekat dengan realita di masyarakat.

Dalam pandangannya, kesalehan pribadi (individual) yang terealisasi dalam bentuk ibadah mahdloh (wajib) harus tercermin dalam ibadah muamalah yang berhubungan langsung dengan antar sesama manusia dan lingkungan. “Itulah yang disebut kesalehan sosial. Seimbang antara hablumminallah dan hablumminannas,” urai Rokhmin. “Bukankah menurut para mufassir, Alquran memberikan pernyataan tentang ibadah muamalah sebanyak 70 persen dan ibadah mahdloh 30 persen? Kadang kita hanya ingat yang 30 persen itu saja,” tambahnya.

Mengasah Empati

Dalam mendekatkan konsep kesalehan sosial, tak jarang Rokhmin mengajak keempat anaknya; Sri Minawati, Muthia Ramdhini, Rahmania Kannesia, dan Sylvana Afiati mengunjungi daerah-daerah nelayan. Tujuannya tak lain agar mereka merasakan kehidupan saudara-saudaranya yang sama sekali berbeda dengan keadaan mereka, baik secara ekonomi maupun budaya. Sebagai ayah yang hanya memiliki anak-anak perempuan, Rokhmin merasa bersyukur dapat dengan mudah memberikan arahan.

Untuk berbusana muslimah sekalipun, Rokhmin tak perlu bersusah payah menyarankan. Anak pertamanya, Sri Minawati, yang kini menimba ilmu di Australia dengan keikhlasannya sendiri mengenakan busana muslimah. “Alhamdulillah, anak kedua kami, Muthia Ramdhini, yang kini kuliah di Universitas Padjadjaran, sebulan lalu memutuskan untuk konsisten mengenakan busana muslimah,” kata Ir. Pigoselpi Anas, sang ibu memberikan penjelasan.

Keseriusan Rokhmin dalam membimbing anak-anak dan istrinya terlihat pula saat dirinya memiliki waktu luang. Kesibukannya yang luar biasa sebagai dosen dan pemateri di pelbagai seminar nasional maupun internasional, memang, sangat menyita waktu bersama keluarga. Maka tak heran, saat ada waktu luang, Rokhmin selalu menyempatkan diri mengajak keluarga untuk salat berjamaah dan mengkaji fenomena masyarakat dengan pendekatan keislaman. Di samping itu, Rokhmin pun mengajak keluarganya mengikuti program Emotional Spiritual Quotient (ESQ) di bawah arahan dai kondang, Ary Ginanjar dengan maksud memperuncing kecerdasan emosi dan spiritual.

Rokhmin berharap, lewat program itu, keluarganya memiliki rasa empati yang tinggi kepada masyarakat dan lingkungan. Ia sering menekankan kepada keluarganya bahwa tidak akan menjadi muslim yang kaafah (sempurna) jika masih terdapat saudara atau tetangganya yang masih kelaparan.

Dalam mendidik anak, yang terpenting bagi Rokhmin adalah mengasah kecerdasan emosional dan sipritual di samping kecerdasan intelektual. Dengan pola pendidikan seperti ini, ia yakin akan tercipta kebahagiaan yang hakiki. “Kebahagiaan yang sebenarnya adalah kebahagiaan hati di mana kita selalu dekat dengan Allah,” kata Rokhmin, seperti yang sering ia katakan kepada anak-anaknya.

Dalam anjurannya kepada anak-anak, Rokhmin menjelaskan bahwa kecerdasan emosional itu tidak didapatkan di bangku kuliah, tapi justeru saat menjadi aktifis. Karena salah satu definisi kecerdasan emosional adalah mampu memelihara dan memompa terus motivasi. Dalam kaitannya dengan hal tersebut, Rokhmin memberikan tamsil (analogi) tentang orang pintar yang tak memiliki kecerdasan emosi dan ketika down tidak dapat segera bangkit. Hanya dengan kecerdasan emosilah, menurutnya, orang dapat berempati sehingga dapat mengukur diri dan mengenal lingkungan sehingga tercipta kesalehan sosial. Sementara kesalehan sosial itu sendiri tidak mungkin tercapai tanpa melaksanakan ibadah mahdloh.

Selaku orangtua, Rokhmin pun sebisa mungkin menjadi tauladan bagi keluarganya. Tak heran jika anak-anaknya sering melihat rutinitas Rokhmin saat Subuh menjelang. Sudah menjadi rahasia umum dalam keluarganya, jika Rokhmin terbiasa bangun untuk melaksanakan salat tahajud dan mengkaji Alquran lewat terjemahannya. Ayat demi ayat dalam Alquran diperhatikan secara seksama. Maka tak heran, jika dirinya begitu kagum pada kandungan isi Alquran yang memberikan begitu banyak informasi tentang ilmu pengetahuan.

Kebiasaan lain yang dicontohkan Rokhmin kepada keluarganya adalah bagaimana dirinya memaksimalkan jeda waktu antara salat tahajud dan Subuh. Saat seperti itu dimanfaatkan Rokhmin untuk menulis sejumlah artikel yang dipersiapkannya untuk dipresentasikan. Selepas berjamaah Subuh, Rokhmin dan keluarga bersiap jogging sambil menghirup udara segar.

Membina Generasi Beriman

“Bagi saya, yang penting adalah pendidikan iman dan tauhid,” jelas Rokhmin berbagi resep membina keluarga sakinah. Lewat sejumlah aktifitas seperti salat berjamaah, diskusi, serta mengasah empati dengan mengunjungi dan beramal kepada saudara-saudara yang kurang mampu, Rokhmin sangat yakin dapat membimbing keluarganya ke arah yang diridloi Allah Ta’ala.

Dalam doanya, Rokhmin selalu berharap agar Allah menjaga iman keluarganya dan menjadikan keluarganya orang-orang yang selalu memberi dan bermanfaat bagi sesama. Rokhmin pun tak jarang memberikan nasihat bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya.

Pendidikan dalam keluarga tentu tak lepas dari peran Ir. Pigoselpi Anas sebagai seorang ibu. Kebetulan Pigoselpi, demikian mantan kembang Institut Pertanian Bogor itu biasa disapa, selain menjadi seorang pegawai negeri sipil juga tengah menyelesaikan tugas belajar doktoralnya. Meski demikian, dalam kesehariannya, justeru Pigoselpilah yang menjadi pengontrol sekaligus pendidik utama. Pigoselpi memiliki jadual anak-anak. Sehari saja, salah satu di antara anaknya telat pulang, Pigoselpi akan menelepon untuk menanyakan di mana keberadaan si anak. Begitu pula dalam memonitor pergaulan anak-anaknya, Pigoselpi menjadi orang pertama yang mencari tahu dengan siapa saja anak-anaknya bergaul. Bahkan, hingga saat ini, anak-anaknya dilarang menginap di rumah teman-temannya, kecuali yang sudah dikenali betul sifat teman dan keluarganya itu. Rokhmin dan Pigoselpi lebih suka kalau teman anak-anaknya yang main atau menginap di rumahnya.

Sikap Pigoselpi berbeda saat menghadapi anak-anaknya yang hendak memilih jurusan di bangku kuliah. Pigoselpi lebih suka memberikan saran, bukan penentu kebijakan. Dirinya sadar betul bahwa untuk urusan sekolah, anak-anak harus diberikan kebebasan mengembangkan minat dan bakatnya. “Saya lebih suka menjadi pengontrol bagi anak-anak. Saya lebih sering mengajak berdiskusi dan memberikan contoh kepada mereka,” papar Pigoselpi.

Konsep keseimbangan dalam hubungan dengan Allah (hablumminallah) dan hubungan dengan manusia (hablumminannas) tak hanya ingin diterapkan Rokhmin kepada anak-anaknya saja. Begitu pula dalam memilih calon menantu bagi anak-anaknya, kriteria saleh secara individu dan saleh terhadap lingkungan menjadi syarat mutlak. Jelas sekali Rokhmin ingin memilih menantu yang terbaik agar generasi beriman yang dicita-citakannya dapat terbina.

Di samping kriteria itu, Rokhmin pun menetapkan kecerdasan intelektual dan emosional dalam diri calon menantunya. Sebagai seorang dosen, Rokhmin paham betul perbedaan antara mahasiswanya yang aktif di organisasi dan yang tidak aktif. Ia kadang merasa kasihan kepada mahasiswanya yang memiliki kepintaran namun tidak didukung dengan kecerdasan emosional. Ternyata, kepintaran lebih sering tidak mendukung seseorang untuk berkembang ke arah lebih baik.

Saat ini, cara yang ditempuh Rokhmin untuk memilih calon menantu adalah dengan mengajaknya salat berjamaah dan dialog tentang segala hal, baik berkenaan dengan masalah keagamaan maupun pengetahuan umum. Meski demikian, aspirasi sang anak yang akan menjalani kehidupan rumah tangga tentu tak diabaikannya. Hanya saja, Rokhmin ingin mengawasi dan memberikan pilihan agar anaknya tak salah memilih.

Tips.

Anak adalah amanah dari Allah Ta’ala yang harus dijaga eksistensinya dalam keimanan dan ketakwaan. Meski terkesan ketat dalam mendidik anak, pelaksanaan ibadah mahdloh menjadi mutlak dibarengi dengan perilaku santun terhadap sesama.

  1. Pelaksanaan ibadah mahdloh: Pada dasarnya, Allah menciptakan makhluk-Nya adalah untuk mengabdi kepada-Nya. Rentetan ritual dalam Islam yang dicontohkan Rasulullah SAW dan sahabatnya merupakan hal yang mesti diikuti agar terbentuk ketakwaan yang hakiki.
  2. Kesalehan sosial: Konsep yang ditawarkan Rokhmin Dahuri kepada anak-anaknya tentang kesalehan sosial menjadi contoh positif dalam keluarga. Berikan motivasi dan contoh konkrit agar anak-anak mengerti betul makna empati terhadap lingkungan.
  3. Kecerdasan Intelektual: Memiliki anak-anak yang pintar merupakan dambaan setiap orangtua. Dengan arahan positif dari orangtua, anak-anak akan termotivasi menjadi makhluk dengan kecerdasan intelektual. Boleh jadi membebaskan pilihan anak dalam kadar minat dan bakatnya menjadi sebuah pilihan. Namun, orangtua tetap berkewajiban memberikan nasihat.
  4. Ciptakan Diskusi Menjadi Tradisi: Dialog merupakan cara efektif menciptakan keluarga yang harmonis. Keseimbangan pun akan tercipta jika diskusi telah menjadi sebuah tradisi dalam keluarga. Dalam diskusi, orangtua akan mengajak anak-anak berpikir dan mengasah rasa empati.


(Disadur dari Majalah Taubah Edisi Februari 2006, Imam Fathurrohman)

Baca Selanjutnya......

Mencipta Keluarga Maslahat

“Ya Allah, berilah kemaslahatan pada agamaku yang menjadi penjaga urusanku, berilah kemaslahatan pada duniaku tempat aku hidup, berilah kemaslahatan pada akhiratku tempat aku akan kembali, jadikanlah hidupku sebagai sarana mekarnya kebaikan dan jadikanlah matiku sebagai tempat istirahat dari tiap keburukan,” (HR. Imam Muslim)

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Terlahir dari kalangan masyarakat Nahdlatul Ulama (NU) adalah berkah yang tiada terkira bagi H.M. Rozy Munir, SE., MSc. Dari akar masyarakat inilah Rozy, demikian mantan Menteri BUMN dan Penanaman Modal di jaman Gus Dur ini biasa disapa, dapat mengimplementasikan arti Islam sebenarnya. Islam yang moderat, humanis, dan rahmatan lil ‘alamin.

“Islam menganggap kehidupan sebagai sesuatu yang mulia. Sebab hal itu berkaitan dengan tugas mensejahterakan alam dan isinya,” kata pria berkacamata ini memulai perbincangannya dengan TAUBAH. Dan sejurus kemudian, Rozy pun mengemas pernyataannya dengan membacakan QS. Al-Anbiyaa, ayat 107: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”

Dalam pandangannya, tugas manusia di muka bumi ini didukung oleh status makhluk tertinggi dibanding makhluk lainnya. Oleh sebab itulah, Allah SWT menjadikan manusia dalam bentuk kemakhlukan yang sebaik-baiknya (QS. At-Tiin: 4). Maka tak salah, tambah Rozy, jika manusia ditentukan sebagai khalifah di bumi untuk mengeksploitasi sumber daya dirinya dan alam sekitar secara positif.

Berbicara dengan suami dari Hj. Mufida Munir ini memang selalu terkait dengan dalil-dalil, baik naqly maupun ‘aqly, yang sangat terstruktur. Maklum saja, pria kelahiran Mojokerto 16 April 1943 ini merupakan salah seorang cendikiawan NU yang mumpuni. Jalur kehidupannya dipenuhi perbincangan akademis, bahkan saat ini pun dirinya tercatat sebagai Staf Pengajar S2 di Universitas Indonesia di samping sejumlah kegiatan lainnya di kepengurusan pusat NU.

5 Dasar Keluarga Maslahat

26 Desember 1970 lalu, Rozy dan Mufida mulai mengayuh bahtera rumah tangga. Sejak saat itu pula Rozy dan Mufida mencanangkan ‘keluarga maslahat’ sebagai impian ideal rumah tangga mereka. Keluarga maslahat yang dimaksud adalah keluarga yang berguna dan senantiasa mendatangkan kebaikan bagi lingkungannya sesuai dengan ridha Allah SWT.

Ada lima dasar kemaslahatan yang harus dipelihara untuk menciptakan impiannya tersebut, yaitu kebutuhan keselamatan agama, kebutuhan keselamatan akal pikiran, kebutuhan keselamatan jiwa (diri) dan kehormatan, kebutuhan keselamatan keturunan (nasab), dan kebutuhan keselamatan harta benda.

Kelima dasar tersebut, menurut Rozy, merupakan ketatapan mutlak yang kini tengah dipeliharanya. Dengan sepenuh hati, seluruh anggota keluarganya memahami betul fungsi masing-masing. Sebagai seorang suami, misalnya, Rozy membutuhkan dan berkepentingan kepada Hj. Mufida, sang istri, sebagai sosok yang mencintai, mengenal, menghargai, dan menghormatinya.

Pada konteks ini pula, Rozy beranggapan bahwa istri adalah sosok yang harus mematuhi dan setia kepadanya, sosok yang menangani rumah tangga dengan cermat, dan memperlakukan suami sebagai kepala keluarga. Dan hanya kepada sang istri, bibit untuk memperoleh keturunan saleh disemaikan. Istri pun berperan sebagai ibu yang tabah dan bijaksana merawat dan mendidik anak-anaknya ke arah kesempurnaan (insan kamil). “Sejauh ini, alhamdulillah, istri saya merupakan sosok yang sangat ideal,” katanya seraya mengurai senyum.

Sebagai seorang suami, Rozy pun menyadari bahwa sang istri membutuhkan dan berkepentingan kepada dirinya yang mencintai dan mengasihi istrinya, yang mengerti akan harkat kewanitaannya dan menghargai derajat kemanusiaannya. Istri membutuhkan perhatian dan perlindungan suami, sebagai implementasi sikap tanggung jawab atas keluarganya.

Fungsi suami dan istri, sambungnya, akan bersatu saat dikaruniai keturunan. Suami dan istri harus bahu membahu merawat anak-anaknya sejak bayi hingga menjadi remaja, dewasa sampai kemudian berkeluarga. “Itulah role yang benar, dan Insya Allah tengah kami jalani. Bagi kami, anak-anak adalah amanah Allah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya,” paparnya. “dan yang paling penting,” sambungnya, “adalah memperlakukan mereka secara adil!” tegasnya.

Generasi Intelektual dan Sosial

Meski darah Islam tradisional (NU) mengalir dalam tubuhnya, Rozy termasuk sosok liberalis. Dalam pemahamannya, Islam mengajarkan liberalisme dalam mempraktekan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Namun begitu, koridor berupa Alquran dan Hadits tetap menjadi patokan.

Begitu pula dalam mengelola keluarganya, Rozy pun tak segan untuk menanamkan jiwa kebebasan dalam bertindak dan berpikir kepada ketiga anaknya, Avianto Muhtadi, Beny Syaaf, dan Citra Fitri Agustina. Sejak kecil, Rozy mengarahkan ketiga anaknya masuk bangku sekolah umum, bukan pesantren seperti kebanyakan kalangan nahdliyin. “Saya menginginkan anak-anak dapat memahami penggunaan teknologi. Intinya sih, agar mereka dapat bersaing di era globalisasi,” kata Rozy memberikan alasan.

Sementara pendidikan agama, selain diajarkan oleh Rozy dan istri, ketiga anaknya pun mendapatkan pendidikan agama melalui guru privat. Menurut Rozy, inilah konsep keseimbangan dalam pendidikan. Ketiga anaknya tak boleh tertinggal dalam segala disiplin ilmu, baik ilmu pengetahuan umum maupun ilmu pengetahuan agama.

Dan memang, selain memahami dasar-dasar pendidikan agama, ketiga anaknya pun memiliki kemampuan di bidang lainnya. Inilah bekal yang hingga saat ini telah diimplementasikan di masyarakat. Ketiganya terbiasa membantu di saat beragam bencana dan musibah menimpa masyarakat.

Bahkan, meski masih usia belia, Citra Fitri Agustina, telah terbiasa membongkar pintu rumah penduduk untuk dijadikan sampan saat banjir melanda ibukota beberapa waktu lalu. Derasnya banjir saat itu tak menghalangi tekad Citra untuk tetap membantu masyarakat yang membutuhkan.

Saat tsunami memporak-porandakan Nanggroe Aceh Darussalam, akhir tahun 2004 lalu, ketiga anak Rozy ini bahu membahu bersama ribuan sukarelawan lainnya guna membantu evakuasi para korban. Sebagai Ketua Banser DKI Jakarta, Avianto terjun bersama para sukarelawan dari Banser NU. Sementara Beny menyalurkan bahan bantuan makanan dan obat-obatan dan Citra bersama para dokter memberikan pelayanan kesehatan bagi para korban. “Di saat-saat seperti inilah kami merasakan betapa beruntungnya kami dapat terlibat membantu saudara-saudara ketika tertimpa musibah,” kenang Avianto.



(Disadur dari Majalah Taubah Edisi April 2006, Imam Fathurrohman)

Baca Selanjutnya......