Tampilkan postingan dengan label Celoteh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Celoteh. Tampilkan semua postingan

Tuhan Fair Play, Dong..

Perempuan tua itu meringis kesakitan ketika anak asongan penjaja permen dan rokok sekonyong-konyong menerobos barisan para penumpang yang keletihan. Bahkan perempuan tua itu hampir terjatuh kalau saja bahunya yang doyong tidak tertopang badan gemuk lelaki berkumis tebal yang berlepotan asap rokok.

“Uups.., hampir saja,” gumam si nenek bersyukur meski sejurus kemudian hatinya mengumpat karena jantungnya yang karatan harus empot-empotan menahan sambaran asap rokok.

Si anak asongan yang menjadi pelaku insiden itu hanya cengar-cengir, dingin. Tidak ada kata maaf yang terucap. Begitu juga ketika laki-laki berjaket kulit lusuh mengumpatnya karena sepatu hitam yang dibelinya di emperan Blok M dua hari lalu terinjak. Kali ini si anak asongan pun diam, bahkan tak ada cengar-cengir. Lebih dingin, anarkis!

Mang Endut yang duduk ngedeprok tak jauh dari insiden itu ikut mengumpat dalam hati. Ooh, siakul (sialan, pen) benar si anak asongan itu. Tak tahu rasa hormat! Mang Endut yakin benar si anak asongan tak belajar banyak tentang tatakrama, unggah-ungguh, atau sopan santun. Diajari apa saja oleh orangtuanya?

Episode umpat-umpatan di benak Mang Endut tak berlangsung lama. Karena matanya yang sejak tadi mengikuti arah punggung si anak asongan terbentur badan seorang perempuan nan aduhai. Ah, dasar mata lelaki. Mang Endut yang sudah terlatih dalam perihal ini langsung mengambil sikap ‘waspada’. Matanya yang sebenarnya sudah kriyep-kriyep (mengantuk, pen) dicobanya untuk kembali terjaga.

“Ah, Tuhan memang Maha Adil. Di antara sekian banyak manusia kucel, ada saja bidadari yang dikirim untukku,” gumamnya sok tahu.

Bagi Mang Endut sosok perempuan itu, boleh jadi, adalah anugerah. Kepenatannya yang telah berlangsung sejak dari Stasiun Gambir sedikit pudar. Untuk kali ini, bahkan Mang Endut merasa kecolongan. Dia tidak habis pikir, kenapa baru sekarang matanya melihat perempuan itu. Kenapa setelah melewati Stasiun Universitas Indonesia bidadari itu menampar mukanya yang kusut? Mang Endut menjerit dalam hati. Mang Endut mendesis geram.

Oh, malangnya Mang Endut.

Kemalangan Mang Endut ternyata masih berlangsung. Perempuan nan aduhai itu ikut turun bersama penumpang lainnya ketika kereta berhenti di Stasiun Depok. Dengan sedikit berdesakkan, perempuan itu turun sambil menenteng tas biru berornamen bunga matahari.

Oh, malangnya Mang Endut.

Bayangan perempuan nan aduhai dengan kaus ketat warna putih, celana jeans biru, membuainya ke dimensi khayal.

Oh, andai saja dia mau diajak keliling ITC Depok sebentar saja. Oh, andai saja dia mau diajak menikmati es krim di ujung mall. Oh, andai saja dia mau diajak mampir ke warung tenda di seberang stasiun. Oh, andai saja dia mau diajak ‘sharing’ tentang cinta. Oh, andai saja dia mau... Nyi Larung, good bye.

Mang Endut terlelap membawa khayalan itu ke dimensi mimpi.


***

“Mbok, kenapa saya tidak boleh mencintai Larasati?” Janthuk meradang dengan tatapan serius memandang ibunya.

“Ooalah, Le.. mbok ya kamu sadar. Siapa dirimu dan siapa Ndoro Larasati.” tegas benar jawaban yang diberikan si ibu.

“Saya tidak mengerti, Mbok..”

“Le, kita ini hanya orang miskin. Sampai sekarang saja kita sudah tidak makan nasi sejak dua hari lalu. Beruntung masih ada sisa gaplek yang dikirim tetangga, sehingga kita tidak mati kelaparan. Dan kamu sendiri juga harus sadar, Le. Ndoro Larasati itu ayune kayak Dewi Sembodro. Sementara kamu.. Oh, mukamu bopeng karena bisul yang tak kunjung sembuh sejak kamu dilahirkan. Le, eling yo..”

Janthuk terdiam.

Memang benar apa yang dikatakan ibunya, bahwa mencintai Larasati ibarat punduk merindukan rembulan. Janthuk sendiri sebenarnya sudah paham kondisi ini. Bahkan, telah sejak lama Janthuk mengerti betapa jauh jurang yang menganga di antara dirinya dan Larasati. Janthuk telah sangat paham, lebih paham dari siapapun yang mengenal dirinya.

Yang tidak habis pikir dalam benak Janthuk adalah mengapa Tuhan begitu tega telah menciptakan dirinya berbeda dengan lelaki lainnya. Janthuk berbadan pendek, berkulit legam, bergigi tonggos, dan berwajah bopeng akibat bekas pecahan bisul-bisul yang dideritanya sejak kecil. Sementara lelaki lain berbadan sempurna, meski dengan standar yang berbeda. Jika ada yang jelek, tak ada satupun lelaki di kampung Janthuk yang melebihi kejelekannya. Apalagi Raden Emin yang rupawan ditunjang kepintaran di atas rata-rata.

“Mbok, jika perbedaan itu sangat lebar, siapa yang harus disalahkan? Bukankah saya sendiri tidak pernah meminta dilahirkan dengan rupa seperti ini. Mengapa ini terjadi, Mbok?” pertanyaan Janthuk menghujam tepat di jantung si ibu.

Si ibu terdiam. Suasana seketika hening.

“Ini sudah kersaning Gusti Allah, Le. Terima saja..” datar saja jawaban si ibu.

“Tidak bisa, Mbok. Saya tidak terima diciptakan seperti ini oleh Tuhan. Saya harus protes. Tuhan tidak fair play..”

“Oalah, Le. Sadar, yo..”

“Tidak bisa! Saya harus mencari Tuhan untuk menanyakan hal ini!”

“Ojo dumeh kowe, Le. Kamu jangan macam-macam. Jika Tuhan murka, siapa yang mau menolong kamu?”

“Tidak bisa! Tuhan tidak fair play!”

“Lalu, jika kamu anggap Gusti Allah tidak adil, mau ke mana kamu protes?”

“Ya.. ke Tuhan.”

“Tapi, di mana kamu bisa menemui-Nya?”

“Nah, itulah yang ingin saya tanyakan kepada Simbok. Di mana Tuhan?”

Seketika kepala si ibu dipenuhi kunang-kunang yang hilir mudik berputar tak henti. Pusing benar si ibu ketika alamat Tuhan ditanyakan anaknya. Seingatnya, Tuhan tidak pernah terdaftar dalam lembaran lontar yang tersimpan sebagai arsip di kantor Ki Kuwu. Di dusun ini saja tak ada satupun penduduk bernama Tuhan. Teman-temannya semasa kecil pun tak ada yang bernama Tuhan. Entah di kampung lain. Otak si ibu tiba-tiba lelah memikirkan itu semua.

“Simbok tidak tahu, Le. Ibu pun tidak pernah bertemu dengan-Nya.”

“Jadi, saya harus mencarinya ke mana?”

“Coba kamu tanyakan ke Kyai Bodronoyo atau Habib Rizieq atau Gus Dur atau Amien Rais atau mungkin saja Raden Susilo Bambang Yudhoyono. Barangkali mereka pernah bertemu dengan Tuhan di kampung lain.”

“Baik, Mbok. Kalau begitu saya pamit untuk mencari Tuhan. Doakan agar protes saya ini tersampaikan dan Tuhan mau bertindak fair play..”

“Iya, Le. Si Mbok doakan.”


***


Hari masih siang saat pelepah kelapa kering jatuh menimpa pohon ketela yang ditanam sembarang di tepi jalan setapak. Jatuh pelepah kering itu berdebam seolah-olah pohon kelapa itu melampiaskan emosinya karena jatah air yang diterimanya diserobot pohon ketela. Lagi pula, bukankah pohon ketela seharunya ditanam di ladang bersama sekelompok pohon ketela lainnya? Ah, iseng benar manusia yang menanam pohon ketela itu.

Tanah di jalan setapak melepuh, mengeluarkan asap tipis yang hampir tidak terlihat. Hanya uapnya saja yang sangat terasa mengeringkan kulit siapapun yang melintasi jalan setapak itu. Dan daun-daun lamtorogung turut merasakan panasnya hari dipanggang matahari. Dalam waktu yang tak lama, daun-daun hijau lamtorogung berubah menguning. Sementara yang berwarna kuning secepatnya mengering untuk kemudian jatuh perlahan, terjerembab berserakan menjadi ornamen tanah kecoklatan.

“Assalamu’alaikum, Kyai,” Janthuk menyapa sosok lelaki yang tidak begitu renta di ujung sebelah kanan jalan setapak.

“Wa’alaikumussalam.”

Lelaki setengah tua yang disebut kyai itu menjawab penuh kesopanan. Siapapun pasti mengenalnya sebagai sosok kyai meski sebelumnya tak pernah bersua. Dengan tasbih yang terus diputar di antara jemari dan gamis putih panjang yang dikenakannya, siapapun akan mengenalnya. Terlebih lagi sosok kyai ini juga berpakaian lengkap dengan udeng-udeng yang menghiasi kepalanya dan sorban hijau yang menjuntai hampir menyentuh tanah. Penampilannya persis wali songo atau habib-habib yang bermarkas di Petamburan.

“Kyai, saya ada keperluan mendesak dengan Tuhan. Apakah Kyai mengenal-Nya?”

“Insya Allah saya mengenal-Nya. Allah adalah pencipta semesta alam ini. Dialah yang Maha Kuasa, Maha Rahman, dan Maha Rahim.”

“Kalau itu saya tahu, Kyai. Tapi, apakah Kyai dapat menunjukkan di mana alamat Tuhan? Saya benar-benar memiliki keperluan mendesak yang harus saya sampaikan sendiri kepada-Nya!”

Kyai bersorban hijau itu terdiam. Yang ia tahu Tuhan itu bersemayam di Arsy. Tapi apakah ia musti memberikan alamat Arsy itu kepada anak muda jelek ini? Sementara ia sendiri pun tidak pernah berkunjung ke Arsy. Ah, hati kyai itu menjadi ragu. Ia tidak ingin memberikan alamat yang ia sendiri pun tidak pernah mengetahuinya.

Ataukah Baitullah? Bukankah Baitullah itu merupakan Rumah Allah? Tapi..?

Hati kyai kembali ragu. Telah lima belas kali ia mengunjungi Baitullah untuk berhaji dan telah tiga puluh kali ia berumroh untuk menghiba di Rumah Allah. Tapi, ia sendiri belum pernah menemui Allah di tempat itu. Ah, hati kyai itu menjadi tambah ragu. Ia tidak ingin memberikan alamat yang ia sendiri pun tidak pernah bertemu dengan tuan rumahnya. Ia sendiri tidak yakin benar, apakah ia benar-benar mengenal Tuhannya.

“Kyai..” Janthuk mencoba menyadarkan lamunan Sang Kyai.

“Oh... anak muda, sejujurnya saya sendiri belum pernah bertemu dengan Tuhan. Saya tidak mengetahui secara pasti di mana alamatnya.”

“Bukankah Anda seorang Kyai? Anda tentu lebih menguasai ilmu agama dibanding orang kebanyakan. Anda tentu mengenal Tuhan..”

“Oh, bukan begitu. Saya hanya mengerjakan apa yang telah digariskan sebagai kewajiban. Apapun yang diperintahkan Allah pasti saya lakukan, adapun yang terlarang pasti saya hindari.”

“Bagaimana mungkin? Kyai sendiri tidak mengenal siapa yang memerintahkan kewajiban-kewajiban itu? Apakah Kyai membeli kucing dalam karung?”

Kyai kembali terdiam. Baru kali ini ia mendapat serangan sangat hebat. Selama 35 tahun memimpin pesantren tak satupun santrinya pernah bertanya seperti ini. Tiba-tiba saja ia tersadar betapa dangkalnya ilmu yang ia miliki. Hampir seluruh hidupnya habis untuk menggeluti ilmu agama. Sampai-sampai ia memahami betul tafsir Alquran dan mampu menguak kandungan Alhadits. Kyai benar-benar tersadar bahwa selama ini ia terjebak oleh rutinitas keagamaan yang ia sendiri kurang paham tentang perwujudan sesembahannya.

Miris benar hatinya. Bertahun-tahun ia gigih memperjuangkan nilai-nilai yang dianggapnya benar berasal dari Allah dan Nabi Muhammad SAW. Bertahun-tahun pula ia berbantah-bantahan tentang perihal bid’ah dengan kyai-kyai yang berseberangan dengannya. Ia tak sekadar mencaci bahkan mencap siapapun yang berseberangan dengannya sebagai kafir.

Kini, seorang anak muda menyibak tirai kebodohannya. Kyai tersadar bahwa selama ini ia sosok egois yang tidak mengerti apa-apa!

“Baiklah, Kyai. Kalau begiatu saya pamit meneruskan perjalanan untuk mencari Tuhan.”

“Silakan, Nak. Sampaikan salam kepada-Nya dan katakan pula bahwa saya siap jika sewaktu-waktu dipanggil menghadap-Nya untuk masuk surga.”

“Baik, Kyai. Assalamu’alaikum!”

“Wa’alaikumussalam.”


***

Pegal benar badan Janthuk setelah berhari-hari berjalan menyusuri arah timur mencari Tuhan. Jika dihitung, telah dua puluh satu hari Janthuk menghentakkan kakinya mencari alamat Tuhan. Setiap orang yang ditemui selalu ditanyakan kepadanya di mana alamat Tuhan. Pun ketika Janthuk menemukan pesantren, masjid, mushalla, atau madrasah yang diyakininya berpenghuni orang-orang alim. Hasilnya? Nihil. Tak satupun orang-orang yang ditanyai mengenal Tuhan dan mengetahui alamatnya. Sulit benar mencari Tuhan dan alamat-Nya.

“Selamat sore, Pak.” Janthuk menyapa lelaki tegap bertato naga yang tengah menyantap daging bebek bakar.

“Sore,” singkat saja jawabannya.

“Pak, apakah Anda mengenal Tuhan? Saya ingin bertemu dengan-Nya. Ada keperluan mendesak yang mengharuskan saya bertemu langsung dengan-Nya. Anda tahu di mana tempat tinggal-Nya?”

Berguncang tanah yang dipijak Janthuk ketika lelaki bertato naga itu terbahak menggelegar. Sebagian daging yang berada di mulutnya berloncatan keluar karena lebarnya ukuran mulut lelaki bertato naga itu saat terbahak. Ia terpingkal-pingkal, seolah baru saja melihat bualan Tukul di acara Empat Mata.

“Tuhan? Siapa Tuhan? Saya tidak pernah peduli siapa Tuhan. Yang saya tahu, saya adalah kepala perampok penguasa daerah ini. Bagi saya, Tuhan hanyalah pepesan kosong yang banyak menipu banyak orang. Hei, anak muda! Jadilah dirimu sendiri! Jangan pernah mencari Tuhan karena Dia tidak akan pernah kau temui atau menemuimu!”

“Tapi.., ada persolan mendesak yang harus saya tanyakan kepada-Nya.”

“Persoalan apa? Selesaikan sendiri. Jangan pernah menghiba kepada-Nya!”

“Baik, baiklah. Tapi, tolong tunjukkan saja kepada saya di mana alamat Tuhan!”

Lelaki bertato naga itu terdiam. Ada sesuatu yang mengganjalnya. Bukan, bukan tulang bebek yang mengganjal tenggorokannya. Tapi ada sesuatu yang benar-benar mengganjal hatinya. Tampaknya, lelaki bertato naga itu sebenarnya telah sejak lama mencari Tuhan, cuma dia tidak tahu harus ke mana mencari-Nya. Dia sebenarnya penasaran dengan Tuhan, meski rasa ketidakpedulian lebih menguasai jiwanya.

“Saya tidak tahu. Coba kamu berjalan terus ke timur. Konon di sana ada Rumah Tuhan yang sering ditemui orang banyak.”

“Baik, terima kasih..”

“O, iya. Sampaikan salam kepada-Nya dan katakan bahwa saya siap bertemu dengan-Nya meski di neraka sekalipun. He, heh, heh...”


***


Kali ini rasa penat benar-benar menguasai jiwa Janthuk. Begitu pula letih dan pegal yang menggerumuti tulang belulang di badannya. Janthuk kelelahan. Telah genap tiga puluh hari ia berjalan menjalani misinya. Tidak ada titik terang misinya akan berakhir.

Di tengah keletihan yang sangat, hatinya melonjak girang ketika di depannya terlihat sungai kecil yang dialiri air bening. Badan Janthuk segera meronta, kakinya seketika melompat mengejar kebahagiaan di depan mata. Aliran air itu diyakininya mampu menghilangkan kelelahan sekaligus melenyapkan dahaga yang mengeringkan tenggorokan.

“Selamat pagi, Nek,” sapa Janthuk ketika bertemu seorang nenek yang tengah mencuci beras di pinggir sungai kecil itu.

“Pagi, Nak. Kamu bukan penduduk sini, kan?”

“Bukan, Nek. Saya Janthuk yang sedang mencari alamat Tuhan. Apakah nenek pernah bertemu dengan-Nya? Di mana alamat-Nya?”

Si nenek terdiam.

Diam si nenek bukan diam karena tidak mengerti. Diam si nenek adalah emas yang kemilau karena keluasan ilmu yang dimilikinya. Si nenek adalah mutiara yang kedalaman jiwanya bening, lebih bening dari apapun. Meski bentuk rupa mutiara adalah hitam, namun ‘isinya’ penuh kesucian. Jelas betul perbedaan antara jasad dan isi, antara bathil dan haq.

Si nenek hanyalah tamsil betapa manusia sering terkecoh oleh bentuk, rupa, perwujudan. Manusia kerap melihat sebuah hal hanya dari satu sisi, tidak dari sisi lainnya. Manusia hanya lebih suka melihat yang kasat mata, tapi tidak dari substansinya. Inilah kebodohan yang memang menjadi trademark manusia seutuhnya.

“Nak, kamu benar-benar ingin bertemu Tuhan?” tanya si nenek memastikan.

“Benar, Nek. Tolong tunjukkan di mana Dia bisa saya temui?”

“Baiklah. Saya melihat kesungguhan yang luar biasa dari dirimu. Mudah-mudahan Gusti Allah mendengar kebulatan niatmu.”

“Amin. Tapi di mana Dia?”

“Nak, naiklah ke dheling itu. Niscaya kamu dapat menemui Tuhan dipucuk dheling,” si nenek menunjukkan dheling (pohon bambu) yang tak jauh dari tempatnya mencuci.

“Dheling? Dengan apa saya bisa menaikinya, Nek?”

“Terserah dirimu. Kalau kamu benar-benar berniat menemui-Nya, pasti kamu bisa.”

Si nenek beranjak dari tempatnya. Sementara Janthuk harus terdiam sambil memikirkan cara yang cepat menaiki dheling agar segera menemui Tuhan. Dheling yang dimaksud si nenek, sejatinya, adalah kiasan. Dalam bahasa Jawa, dheling yag dimaksud bermakna kandhele eling-eling, tebalnya iman. Janthuk benar-benar percaya bahwa Tuhan mampu ditemuinya.

Namun, Janthuk bukanlah anak sekolahan yang setiap hari belajar memecahkan masalah dengan teori-teori. Di sampingnya pun tidak ada seorang profesor, dosen, atau ustadz yang bisa dijadikan tumpuan pertanyaan. Lagi pula Janthuk tak yakin benar apakah mereka mampu memberinya solusi. Sejumlah orang yang ditemuinya di sepanjang jalan saja tidak ada yang tahu cara menemui Tuhan.

Akhirnya, Janthuk tak lagi mampu berpikir. Namun, Janthuk tidak mau diam. Tekadnya yang bulat untuk ‘mendemo’ Tuhan harus dilakukan. Janthuk mulai memanjat dheling yang dianggapnya paling tinggi. Ia sangat yakin bahwa Tuhan berada di puncak yang paling tinggi. Tidak mungkin Tuhan bersemayam di dheling yang sedikit rendah. Pastilah yang paling tinggi.

Janthuk segera memanjat dengan sangat hati-hati. Baru sampai ruas bambu yang kedua, Janthuk terjatuh. Begitu pula ketika ia kembali memanjatnya untuk kali kedua, ia pun terjatuh. Janthuk tidak putus asa. Janthuk terus memanjat dheling meski berkali-kali ia terjatuh, meski badannya terbentur tanah keras dan batu-batu. Siang dan malam menjadi saksi betapa Janthuk benar-benar berupaya sangat keras mewujudkan keinginannya bertemu Tuhan.


***

Hari ini adalah yang kesebelas atau keempat puluh satu sejak Janthuk pergi dari rumahnya untuk mencari Tuhan. Sudah beribu kali Janthuk jatuh bangun memanjat dheling. Beberapa bagian badannya terdapat luka-luka, sebagian kering dan sebagian lainnya masih basah. Janthuk adalah petarung sejati yang tak kenal lelah dan tak pernah mengeluh meski beribu kali usahanya gagal. Janthuk sangat yakin jika Tuhan benar-benar dapat ditemuinya.

Dan, benar saja. Usaha Janthuk tidaklah sia-sia. Di tengah malam saat bulan purnama menerangi kegelapan, Janthuk telah mencapai ruas dheling paling tinggi. Janthuk benar-benar berada di pucuk dheling yang menjulang. Di situlah Janthuk, untuk pertama kali, melihat Tuhan. Segala keletihan raga, kepenatan jiwa, luka-luka yang berserakan, seolah sirna seketika. Janthuk benar-benar bersuka ria.

“Benarkan Engkau Tuhan pencipta langit, bumi, dan segala isinya?” Janthuk langsung nyerocos mengajukan pertanyaan pertamanya. Ia tidak ingin setiap waktu yang dilaluinya bersama Tuhan hilang tanpa makna.

“Benar,” Tuhan menjawab.

“Oh, sungguh senangnya hati saya. Tuhan, langsung to the point aja, ya..”

“Silakan,”

“Kenapa Engkau ciptakan saya dengan keadaan seperti ini? Tubuh pendek, kulit legam, dan wajah yang menyeramkan. Berbeda sekali dengan teman-teman saya Anjasmara, Ariel Peter Pan, Thomas Djorghi, atau Raden Tukul Arwana. Engkau juga menciptakan saya sangat berbeda dengan teman-teman di sebelah kampung, seperti Van Damme, Nicolas Cage, Alessandro Del Piero, Trezeguet, David Beckham, Steven Gerard, atau James Bond. Mereka orang-orang yang sangat ‘enak’ dipandang dan digilai banyak wanita. Engkau juga tidak menciptakan saya dalam keadaan pintar, seperti Gus Dur, Amien Rais, Habib Rizieq, Thomas Alfa Edison, James Watt, atau B.J. Habibie. Kenapa? Bahkan untuk mencintai Ndoro Larasati saja saya tidak berhak. Kenapa Engkau tidak fair play, Tuhan?”

Protes yang dilancarkan Janthuk, sesungguhnya jauh dari kesan marah apalagi dikuasai amarah. Janthuk menangis dengan wajah yang tertunduk. Janthuk malu, membiarkan mulutnya mengeluarkan kata-kata itu. Tapi, kata-kata itu musti terucap agar tanda tanya besar yang ada di otaknya mendapatkan jawaban kebenaran.

“Janthuk, sesungguhnya kamu adalah hamba pilihan-Ku. Tahukah kamu, jika Aku telah menetapkan seseorang sebagai hamba pilihan-Ku, maka Aku akan mengujinya. Jika ia bersabar maka Aku benar-benar memilihnya. Dan jika ia ridha maka niscaya Aku akan mengutamakannya. Ikhlaslah atas apa yang telah Aku takdirkan kepadamu, Janthuk.

Kesabaran yang kamu miliki atas apa yang terjadi dalam setiap detik kehidupanmu, itupun menjadi perhatian-Ku. Ketika orang-orang lebih senang mengejekmu, kamu malah rajin bersyukur atas pemberian-Ku. Lidahmu pun tak pernah kering memuji-Ku setiap orang-orang menertawakanmu. Kamu tidak mendendam atas perbuatan mereka, bahkan mendoakan mereka. Ketahuilah Janthuk, sabar adalah sifat utama. Sabar atas apa yang kamu benci, di dalamnya terdapat banyak keutamaan.

Janthuk, meski Kuciptakan kamu dalam keadaan rupa seperti itu, namun kamu memiliki hati yang bersih. Sesungguhnya Aku tidak pernah melihat seseorang dari rupa, pakaian, atau identitas tertentu. Tapi yang Aku perhatikan adalah hati mereka, apakah bersih dan selalu mengingatku ataukah tidak. Begitu pula orang-orang yang mengaku dirinya dekat dengan-Ku, belum tentu Aku pastikan dia masuk ke dalam surga-Ku. Banyak di antara mereka yang merasa pintar dan benar, tetapi sebenarnya mereka congkak dengan menciderai hati banyak orang.

Aku senang atas apa yang telah kamu perjuangkan untuk menemui-Ku. Selama 41 hari ini kamu tidak berputus asa, meski beban yang dipikul jiwa dan ragamu begitu berat. Kamu istiqamah atas niat untuk bersua dengan-Ku. Kini, bersiaplah menerima kenikmatan yang sebenarnya, yang tidak setiap orang mendapatkannya. Bersyukurlah, Janthuk. Protesmu telah mengantarkanmu ke haribaan-Ku.

Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku.”

Mulut Janthuk terkatup. Hatinya berdesir dengan melamatkan Takbir; ‘Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar..’, terus, berulang-ulang. Janthuk tidak menyadari dirinya kini berada di dalam surga yang dijanjikan Tuhan. Saat Janthuk memberanikan diri untuk membuka mata, di sekelilingnya terlihat pemandangan yang sangat indah. Terlebih lagi, puluhan bidadari memutari dirinya mengajak bersenda gurau.


***

“Mang, bangun. Sudah sampai Stasiun Bogor. Habis!”

Lamat-lamat terdengar suara seseorang. Mang Endut yang sejak tadi tertidur masih tetap terbuai dengan mimpinya. Kisah perjalanan Janthuk yang terpampang di televisi mimpinya masih terus berputar. Apalagi episode kali ini memerlihatkan puluhan bidadari yang tengah bermain-main dengan Janthuk di dalam surga. Oh, betapa cantiknya para bidadari itu. Oh, betapa bahagianya Janthuk. Oh...

“Mang, bangun euy. Sudah habis, nih!”

“Mang, mang, kebluk, nya?”

Seperti Janthuk, Mang Endut merasakan kedua tangannya ditarik-tarik. Sejenak, Mang Endut merasakan nikmatnya puluhan bidadari berebut tanganya. Dengan tertawa, puluhan bidadari itu saling tarik-menarik, memperebutkan dirinya.

“Mang! Ayo dong, Mang. Bangun!”

“Tau, nih. Kita cium aja, Yuk!”

Mang Endut terbangun, persis sebelum kedua orang itu berhasil menciumya.

“Oaah.. Eh, di mana saya? Siapa kalian? Jangan macam-macam, ya..” Mang Endut segera terbangun. Betapa kaget dirinya, dia telah dikelilingi dua ‘wanita jejadian’ yang berpakaian menor tak karuan. Tanpa berpikir panjang lagi, Mang Endut segera meninggalkan tempat itu dengan perasaaan bercampur aduk.

Sungguh, Mang Endut senang jika mengingat kembali peristiwa yang terpampang di televisi mimpinya. Namun, Mang Endut akan bergidik jika mengingat dua ‘wanita jejadian’ itu. Mang Endut tak habis pikir, bagaimana jika keduanya berhasil menodai dirinya?

Ah, Mang Endut. Terkadang dirinya kege-eran. Seolah-olah dirinya merupakan manusia paling laku di dunia.


Baca Selanjutnya......

Suerrr, Akang Belum Ikhlas

ANGIN malam berhembus pelan meniup setiap dedaunan yang seketika asyik bergoyang dengan syahdunya. Seperti sebuah orkestra, angin adalah sang arranger yang mengatur dedaunan untuk memunculkan sebuah alunan musik yang indah didengar. Meski tak bersyair, namun sesungguhnya irama orkestra malam itu mengandung pemaknaan nan indah tentang ciptaan Tuhan. Mereka bertasbih dan memuji seraya menyeru keagungan Tuhan dalam setiap desah dan liuk tubuhnya.

Semakin lama orkestra malam semakin seru, apalagi jangkrik dan bangkong sawah mulai bergabung dengan menyumbangkan suara khas. Orkestra malam, kini, mulai berlagu. Syairnya berasal dari jangkrik dan bangkong sawah yang saling bersahutan melantunkan syair berpantun. Tak sulit mengundang jangkrik dan bangkong sawah, karena keduanya merupakan biduan alam yang selalu senang menyumbangkan gemilang suaranya.

Alam selalu memiliki biduan-biduan terindah di jagat raya ini. Selain jangkrik dan bangkong sawah, alam di antaranya memiliki tonggeret dan burung hantu yang selalu melantunkan syair karya Sang Maha Maestro. Sementara di siang hari, panggung orkestra akan dipenuhi para biduan unggulan, mulai dari kenari, kutilang, hingga perkutut yang berkolaborasi indah dengan seruling yang ditiupkan angin.

Malam ini adalah yang kelima belas di bulan Jumadil-Akhir. Tepat pukul tujuh, bulan nan benderang menerangi alam Telaga Kahuripan yang tak seluruhnya berpijar lampu buatan. Walau purnama, danau Cilala tak ramai seperti halnya malam Minggu. Tak ada kelompok geng motor yang semalaman berjoget dangdut di tepi danau, pun tak ada sekelompok satpam yang harus menjaga keamanan. Cilala senyap, meski di beberapa titik terlihat beberapa pasang kekasih tengah asyik-masyuk. Ah, mungkin suasana seperti inilah yang dikatakan sebagai malam terindah oleh orang yang tengah dimabuk cinta.

Menerobos malam yang indah, Mang Endut melarikan sepeda motornya dengan santai. Melintasi Cilala yang sepi tak membuatnya takut atau ngeri dipergoki kuntilanak, gondoruwo, atau jin blegedek ireng (Jin dari jenis apa? Penulis sendiri tidak tahu, no comment!). Bahkan bagi Mang Endut, melintasi Cilala membuat aktifitasnya makin bertambah. Matanya wara-wiri memerhatikan titik-titik tempat sejumlah pasang manusia tengah memadu kasih. Bak kampret Gua Batman (?), mata Mang Endut menelanjangi malam sekadar menciptakan kesenangan hatinya.

Beberapa depa setelah melintasi Cilala, Mang Endut memoncongkan mulutnya untuk menghirup udara sekuat tenaga. Mang Endut bukan sejenis beruk yang gemar memoncongkan mulut, tapi ia sedang memamerkan hobinya menikmati udara nan segar. Tiga jam sebelumnya, Telaga Kahuripan basah diguyur hujan khas Bogor. Bau tanah basah masih menyengat hidung siapapun yang melintasi jalan. Bagi Mang Endut, mengendus bau tanah basah selepas hujan melebihi nikmatnya mengendus asap bakaran sate kambing Abah Warjan. Mang Endut akan mengisi penuh seluruh rongga di dadanya dengan udara segar bau tanah basah.

***

“Sudah makan, Pak?” dengan senyum nan manis Nyi Larung membuka pembicaraan seraya menyorongkan gelas berisi air putih.

“Alhamdulillah, sudah, Nyi,” jawab Mang Engdut yang dengan sigap langsung menenggak habis isi gelas bergambar Tom and Jerry itu.

“Sudah? Di mana? Lauknya apa? Sama siapa?” Nyi Larung bertanya penuh semangat. Tiba-tiba saja di hatinya muncul segunduk perasaan tidak senang atas jawaban Mang Endut.

“Di kantor sama teman-teman. Tadi kita ramai-ramai makan di warung tenda dekat kantor. Enak lho, Nyi. Pecel lelenya gurih dan sambalnya mantaaap pisan!” kisah Mang Endut dengan bangga.

“Oh, jadi begitu ya, Pak? Sejak sore saya tunggu untuk makan bersama, eh, tidak tahunya malah makan di luar. Apa Bapak tidak tahu kalau saya sudah bikin sayur asam, tempe goreng, dan ikan asin jambal roti kesukaan Bapak?”

“Maaf, Nyi. Sehabis rapat di kantor, tiba-tiba kami kelaparan. Jadi, ya..kami makan deh,”

“Lagi pula, bukankah saya sudah pesan tadi pagi supaya Bapak makan malam di rumah?”

“Iya, Nyi. Maaf, itu mah karena accident sedikit saja..”

“Hah? Accident apa-apaan? Bapak sering seperti ini. Tiba-tiba pulang dengan perut kenyang, sementara saya di sini menunggu sendirian seperti kambing congek!”

Gundukan kekesalan yang menyesakkan dada Nyi Larung akhirnya meletup. Suhu malam yang sejuk seketika berubah panas. Senyum manis Nyi Larung yang mengembang ketika Mang Endut datang pun seketika berubah menjadi getir, pahit bukan kepalang. Nyi Larung meradang. Dalam hatinya keluar seribu satu serapah tak jelas maknanya.

Mang Endut yang tersudut hanya diam. Tak ada cengar-cengir yang menjadi ciri khasnya. Suasana hatinya kecut, karena nyali kelelakiannya menjadi ciut. Ibarat bangkong sawah, Mang Endut berada dalam tempurung. Detak jantungnya melemah.

“Maaf, Nyi..”

“Tidak ada kata maaf bagimu!”

“Oh, ya? Nyai tidak mau memaafkan saya?”

“Jika dihitung, ini sudah yang ketiga puluh delapan kali, Pak! Selalu saja makanan di luar lebih Bapak pilih daripada masakan saya!”

“Sekali lagi, maaf, Nyi..”

Permintaan maaf Mang Endut di atas adalah yang terakhir, karena setelah itu suasana menjadi hening. Adapun Nyi Larung dan Mang Endut memiliki suasana hati yang berbeda. Keduanya terdiam, sejenak terlarut suasana hati yang bertolak belakang itu. Denting jam dinding yang menunjukkan tepat pukul delapan berderit parau seolah memiliki suasana hati yang kacau, sebagai bukti partisipasinya pada peristiwa yang tengah terjadi.

***


“Assalamu’alaikum.”

Sebuah suara yang datang dari arah depan mengubah kebekuan suasana. Nyi Larung dan Mang Endut yang terdiam, kini, bergeming. Suasana hati yang semrawut mulai ditata agar peperangan kecil itu tak diketahui orang lain. Seulas senyum pun siap siaga dipasang menghadang siapapun yang tadi mengucapkan salam.

“Wa’alaikumussalam.”

Nyi Larung dan Mang Endut serentak kompak menjawab salam. Tidak ada komando atau aba-aba. Ternyata masih ada sinergi yang menghubungkan hati keduanya.

“Eh, Abah Astagina. Silakan masuk, Abah,” Mang Endut yang membuka pintu dengan ramah menyambut tangan lelaki yang disebutnya Abah Astagina itu untuk diciumnya. Begitu pula Nyi Larung yang tidak ingin ketinggalan mencium tangan Abah Astagina.

Rasa hormat Nyi Larung dan Mang Endut kepada Abah Astagina begitu tinggi. Maklum saja, Abah Astagina merupakan ayah dari Nyi Larung, yang berarti juga merupakan mertua Mang Endut. Tak hanya sepasang suami-istri itu saja yang menaruh hormat kepada lelaki berusia 70 tahunan itu. Hampir seluruh warga di Gugus Candraloka, Telaga Kahuripan pun turut menaruh hormat kepadanya. Selain dituakan, Abah Astagina merupakan tempat bertanya setiap warga karena luasnya kebijaksanaan, pengalaman hidup, dan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Bahkan konon dirinya merupakan sosok yang weruh sa’durunge winarah, mengerti yang akan terjadi.

“Abah tidak sengaja mendengar percakapan sengit kalian. Maaf, bukan bermaksud menguping, tapi kebetulan saja Abah memang sengaja ingin berkunjung ke sini,” Abah Astagina menuturkan maksud kedatangannya.

Nyi Larung dan Mang Endut saling melirik. Ada perasaan tidak nyaman yang dirasakan keduanya karena peristiwa tadi di dengar Abah Astagina. Mang Endut tertunduk, sementara Nyi Larung menarik napas lebih dalam. Keduanya masih bingung, bagaimana menjelaskan peristiwa.

“Ya, seperti yang telah Abah dengar. Kang Endut ini telah membuat hati nyai kecewa..” Nyi Larung mencoba memberanikan diri untuk menjelaskan duduk persoalan.

“Meski telah membuat kecewa, apakah Nyai kehilangan rasa ikhlas telah membuat masakan untuk suami?”

“Ya, jelas, Abah..”

“Dan kamu, Endut. Perilakumu yang mengecewakan hati Nyi Larung, apakah benar-benar telah kamu sadari?”

“Sudah, Abah. Saya berjanji untuk tidak mengulanginya lagi,” kali ini Mang Endut menjawab dengan mantap.

“Nah, sebenarnya sudah selesai persoalannya, kan? Apakah Nyai masih tetap kesal?”

“Ya, jelas, Abah..”

“Cobalah untuk memaafkan, Nyai. Ikhlaskan apa yang telah terjadi. Tugas Nyai sudah benar dengan menyiapkan masakan buat suami. Adapun masakan itu, jika akhirnya tidak dimakan suami, mungkin saja hal itu sudah menjadi bagian dari rencana Tuhan. Ikhlaskan, Nyai. Insya Allah, Nyai akan mendapat balasan kebaikan yang setimpal.”

“Abah, ini bukan persoalan ikhlas atau tidak ikhlas. Ini persoalan betapa Kang Endut telah lalai dan melanggar janji yang telah diikrarkan!”

“Nyai, ikhlas itu merupakan sebuah tindakan yang tidak meminta imbalan apapun bentuknya. Begitu juga dengan apa yang telah dilakukan Nyai. Jika imbalan yang diminta Nyai hanyalah sebatas agar suamimu memakan apa yang Nyai masak, hal itu mungkin masih wajar. Akan tetapi jika imbalan itu dipinta dengan paksaan, maka niscaya hilanglah substansi keikhlasan itu. Adapun janji yang dilanggar suamimu itu pun akan menjadi pertimbangan di hadapan Tuhan!”

Nyi Larung dan Mang Endut yang mendapat penjelasan itu kembali tertunduk. Keduanya semakin menyadari betapa tindakan yang telah dilakukan tak sepatutnya terjadi jika saja keduanya memahami posisinya masing-masing. Penjelasan Abah Astagina kali ini benar-benar menohok batin sepasang suami-istri itu.

“Sudah saatnya kalian belajar bertindak ikhlas. Sebab keikhlasan itu sangat dekat dengan keridhaan Tuhan. Dalam sebuah hadis, Rasulullah Saw. berkisah...”

“Maaf sebentar, Abah. Sebelum melanjutkan, apakah Abah ingin minum? Air putih saja, kan?” Nyi Larung memotong ucapan Abah Astagina.

“He, he, heh.. Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar juga, Nyai. Apa saja yang penting enak,” Abah terkekeh melihat putrinya tanggap pada situasi.

Nyi Larung bergegas menuju dapur menyiapkan air putih untuk sang ayah. Sebagai seorang anak, Nyi Larung paham betul jika ayahnya memiliki masalah dengan tenggorokan. Usia Abah Astagina yang sudah tua ditandai pula dengan batuk yang beberapa kali diperdengarkan. Tak mungkin jika Nyi Larung memberikan teh manis yang nantinya dapat memicu batuk.

“Terima kasih, Nyai,” ujar Abah Astagina saat sebuah gelas dan sepiring singkong rebus menghampirinya.

“Endut, Nyai, ketahuilah bahwa sangat sedikit orang-orang yang memiliki keikhlasan di hatinya. Karena keikhlasan, sejatinya, bukanlah hal yang dapat di-cloning ke siapapun atau bersifat genetik. Para ulama mengatakan, ikhlas merupakan anugerah yang Allah Ta’ala berikan kepada hamba-hamba yang benar-benar mencintai-Nya. Konon, karena persoalan ikhlas inilah Baginda Rasulullah Saw. pernah mengernyitkan dahinya ketika seorang sahabat bertanya tentang apa yang dimaksud dengan ikhlas.

Setelah mematung sejenak, Rasulullah Saw. memusatkan perhatian dan menyampaikan pertanyaan serupa kepada Malaikat Jibril a.s., ‘Aku bertanya kepada Jibril As tentang ikhlas, apakah ikhlas itu?'' Lalu Jibril bertanya kepada Tuhan Yang Mahasuci tentang ikhlas, apakah sebenarnya? Allah Swt. menjawab Jibril dengan berfirman, ‘Suatu rahasia dari rahasia-Ku yang Aku tempatkan di hati hamba-hamba-Ku yang Kucintai.’ Demikianlah, begitu sulitnya menemukan ikhlas di hati semua orang, sampai-sampai Rasulullah Saw. sangat berhati-hati mengupas definisi ikhlas.

Endut, Nyai, seorang ulama kenamaan, Imam Al-Qusyairi An-Naisabury berpandangan bahwa bila seseorang memiliki sifat ikhlas, sesungguhnya ia akan menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan hidup. Apa yang dilakukannya semata-mata untuk Allah meski yang dia perbuat untuk mengurangi penderitaan sesama manusia. Ia akan selalu membantu orang, dengan alasan karena Allah memang Zat yang senang membantu. Ia akan bekerja kalau Allah yang menjadi tujuannya.”

“Wah, wah, beruntung sekali orang yang diberikan rasa ikhlas oleh Allah. Tapi, Abah. Apakah kita bisa menilai seseorang yang memiliki rasa ikhlas?” tanya Mang Endut.

“Oh, bisa. Sahabat Anas Ibnu Malik menuturkan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda mengenai ciri-ciri seorang mukhlis (orang yang memiliki keikhlasan), ‘Belenggu tidak akan masuk ke dalam hati seorang muslim jika ia menetapi tiga perkara; ikhlas beramal hanya bagi Allah, memberikan nasihat yang tulus kepada seorang penguasa dan tetap berkumpul dengan masyarakat muslim.’ Kalau kita bedah ketiga perkara ini, maka di dalamnya terdapat sebuah jihad an-nafs yang luar biasa. Kita dianjurkan untuk beramal hanya karena Allah Ta’ala saja, kita juga dianjurkan untuk memberikan nasihat kepada penguasa yang harus kita berikan nasihat dengan tanpa meminta pamrih apapun, baik uang maupun kekuasaan atau yang lainnya. Dan yang terakhir, kita pun dianjurkan untuk berkumpul dengan orang-orang muslim, yang tentunya mampu saling mengingatkan tentang kebenaran dan kesabaran.

Dan bagi seorang yang ikhlas, seluruh perbuatannya akan selalu berdasarkan suara nurani untuk kebaikan semua orang dan semua makhluk. Jika timbul dalam hatinya sebuah niat baik, ia akan melakukannya. Hidupnya mengalir seperti air bah, menerjang apa saja yang ada di depannya. Untuk apa yang dia perbuat, dia sudah melupakan apa yang disebut dengan pujian dan cercaan. Kata Dzun Nun Al-Mishry, ‘Amalnya tak lagi memberi ruang bagi lahirnya pujian atau cercaan’. Orang yang ikhlas akan tetap bekerja sesuai pesan Allah, meski manusia di sekitarnya memberikan pujian atau malah mencelanya.

Demikian tingginya derajat keikhlasan itu sehingga tidak semua orang mampu menjangkaunya. Dan ingat! Gara-gara ketidak-ikhlasan inilah orang-orang yang kita anggap saleh, justru pada akhirnya banyak yang tergelincir di jurang neraka!”

“Kenapa bisa begitu, Abah?” Mang Endut bertanya dengan serius.

“Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim r.a. dijelaskan bahwa Rasulullah Saw. mengisahkan tentang keadaan tiga orang yang melakukan amalan saleh: Orang yang pertama adalah seorang yang pandai membaca dan mengajarkan Al-Qur’an. Orang kedua adalah orang yang banyak bersedekah. Orang yang ketiga adalah orang yang berjihad di jalan Allah. Ketiganya merupakan orang-orang yang bergelimang pujian di mata masyarakat.

Ketika di akhirat, ditampakkan kepada ketiga orang ini nikmat-nikmat yang telah Allah berikan kepada mereka. Mereka lalu ditanya untuk apa nikmat yang Allah berikan tersebut. Orang yang pertama mengatakan bahwa nikmat yang Allah berikan itu dia pergunakan untuk membaca dan mengajarkan Al-Qur’an ikhlas karena Allah. Orang yang kedua begitu juga, dia menyebutkan bahwa nikmat dari Allah dia manfaatkan untuk bersedekah di jalan Allah. Dan orang yang ketiga berucap bahwa nikmat yang Allah berikan dia manfaatkan untuk berjihad di jalan Allah.

Setelah mereka menjawab pertanyaan tersebut, mereka ternyata tidak dipercayai oleh Allah. Orang pertama yang membaca serta mengajarkan Al-Qur’an, ternyata, memiliki secuil niat di dalam hatinya agar disebut sebagai qari’ (pembaca Al-Qur’an). Adapun orang kedua yang banyak bersedekah, memiliki secuil niat yang jauh di hati sanubarinya agar dipanggil sebagai dermawan. Sedangkan orang ketiga yang menghabiskan sebagian umurnya untuk berjihad, pun dinilai Allah memiliki secuil niat agar dia populer dengan panggilan pemberani dan saat meninggal nanti berharap mendapat gelar pahlawan.

Nasib mereka kemudian sangat tragis. Allah memerintahkan para malaikat agar ketiganya diseret ke dalam api neraka. Bahkan, lebih dari itu mereka diseret dengan sangat terhina!”

“Iiiih, serem sekali, Abah,” Nyi Larung yang merinding mengusap tangannya.

“Ya, begitulah, Nyai. Tiga orang yang melakukan perbuatan begitu mulia ternyata malah diseret ke dalam api neraka dengan sangat terhina. Apalagi kita yang hanya melakukan pekerjaan biasa saja, atau bahkan cenderung lalai terhadap apa yang diperintahkan Allah Ta’ala?”

“Berarti ketiganya memiliki persoalan dalam masalah niat, ya, Abah?” Mang Endut yang mencoba menganalisis kisah tadi bertanya dengan nada serius.

“Betul, Endut! Perbuatan baik mereka tercoreng oleh niat yang tidak diridhai Allah, meski hanya secuil! Oleh karena itu, Endut dan Nyai, marilah luruskan niat kita. Jangan sampai ibadah kita sia-sia karena tidak pandai menata niat. Jangan sampai sedekah kita diniatkan untuk popularitas, memberi makan orang miskin diniatkan agar dibicarakan orang, membaca Al-Qur’an di masjid-masjid supaya kelihatan alim, salat berjamaah di masjid biar dikira kita banyak ibadah, memerangi kemaksiatan supaya mendapat apresiasi dari banyak kalangan sebagai pemberani, atau lain sebagainya.”

“Wah, kalau begitu, sulit juga kita melakukan amal kebaikan. Bukankah terkadang kita sulit untuk melakukan sesuatu kalau tidak ada pamrih, Abah?” lagi-lagi Mang Endut bertanya.

“Itulah gunanya latihan beramal. Biasakan kita berniat dengan tulus hanya karena mengharapkan ridha Allah Swt. saja.”

“Kasihan juga, ya, para politisi kita yang menebarkan uangnya atas nama kadeudeuh. Karena di saat membagikan sembako, uang, sarung, dan Al-Qur’an, mereka juga membagikan kartu nama agar warga mengingat dirinya dan pada akhirnya memilih dia saat pilkada,” kata Nyi Larung.

“Memang, sejatinya para pemimpin dan calon pemimpin di negeri kita ini memberikan contoh terbaik kepada rakyatnya. Para pemimpin yang memiliki keikhlasan tentu akan selalu bekerja sesuai amanat rakyat, meski dia sadar tak ada orang yang memujinya. Dia selalu bekerja tanpa kompromi terhadap pelanggar dan pengkhianat rakyat, meski tahu akan dicerca banyak orang, bahkan koleganya.
Bagi orang yang hidupnya diliputi tabir keikhlasan, malah akan selalu melupakan apa yang telah dia amalkan. Anehnya, para pemimpin yang mendapatkan amanat rakyat justru tidak pernah mau bekerja dan beramal. Bahkan, kalau pun harus bekerja, dia masih menunggu apakah memang terbuka peluang bagi munculnya pujian. Keberaniannya memberantas korupsi langsung mengkerut, setelah berhitung betapa banyak yang akan mencercanya.

Para pemimpin yang hatinya bersimbah keikhlasan ini akan berlaku adil, tidak hanya memihak golongannya saja, tetapi juga mendengarkan aspirasi sebagian rakyatnya yang lain. Ia pun akan bersifat universal, lintas agama, lintas golongan ataupun lintas kepentingan politik, asalkan masih berada dalam koridor kebenaran. Pemimpin semacam inilah yang selalu menjadi gunjingan positif publik dunia sekaligus didengarkan segala aspirasinya.”

“Betapa indahnya negeri ini jika memiliki para pemimpin dan wakil rakyat yang hatinya berselimut tabir keikhlasan, ya, Abah. Sayangnya, para pemimpin kita dan wakil rakyat, sepertinya, memiliki political will yang jauh dari keikhlasan untuk menyejahterakan rakyatnya. Mereka malah sibuk mementingkan kebutuhan pribadi dan golongannya dengan menghalalkan segala cara dan tidak peduli pada kondisi riil rakyatnya.”

“Tapi ingat, Nyai, bukan karena kisah dari Rasulullah Saw. tadi kita kemudian menyurutkan langkah untuk beramal kebaikan. Bisa jadi orang-orang yang mendengarkan kisah di atas berpendapat untuk lebih memilih tidak berbuat amal kebaikan dibandingkan berbuat namun tetap saja dijebloskan ke neraka. Bukan begitu. Teruskan saja kita beramal kebaikan, namun, yang perlu diingat dan diperhatikan adalah: kita harus menjaga niat!”

“Oh, begitu. Hampir saja saya berpendapat bahwa mungkin lebih baik saya tidak menyiapkan masakan untuk Kang Endut. Karena saya takut jika salah niat, apa yang saya kerjakan pun menjadi sia-sia.”

“Wah, jangan begitu dong, Nyai. Bagaimana dengan cacing-cacing yang ada di perut saya?” Mang Endut memprotes dengan kekanak-kanakannya.

“Betul, jangan begitu, Nyai. Sebagai manusia, kita adalah mahalul khatha’ wa an-nisyan, tempat salah dan lupa. Jadi, saat kita merasa ada sedikit saja niat kita yang melenceng dari koridor yang benar, maka perbaikilah. Ucapkan istighfar ketika kita tergeincir, agar Allah Swt. berkenan mengampuni kita dan meluruskan kembali niat kita. Setelah memohon ampun, tatalah kembali hati kita untuk berniat, apa pun yang kita kerjakan hanya berharap mendapat keridhaan Allah Swt..”

“Sekarang saya mengerti, Abah. Mulai sekarang saya akan tetap tersenyum meski masakan saya tetap saja tidak dimakan Kang Endut,” Nyi Larung mengangguk dengan nada bersemangat.

“Nah, begitu dong, Nyai. Sebagai istri, melakukan service terbaik untuk suami adalah kewajiban. Kalaupun hasilnya tidak seperti yang diharapkan, ya, itu persoalan lain. Jika suami tidak mau memakannya, mungkin saja dia sudah kenyang atau memang kurang menghargai usaha istrinya. Hal itu jangan kamu pikirkan, Nyai. Biar saja itu urusan suamimu di hadapan Allah.”

“Betul, Abah! Biar saja Kang Endut digerus ulekan malaikat Malik jika sekali lagi berani mengingkari janjinya!” tiba-tiba Nyi Larung berpaling ke arah Mang Endut sambil memelototkan matanya.

“Iih, ulah kitu, Nyai. Saya janji tidak mengulanginya. Sueerr,” Mang Endut yang bergidik melihat ulah istrinya langsung mengacungkan dua jarinya.

***

Kehadiran Abah Astagina benar-benar menjadi pelita dalam keluarga Mang Endut dan Nyi Larung. Setidaknya, keributan yang terjadi dapat padam dan berubah menjadi sebuah kebahagiaan. Kini, di hadapan Abah Astagina tampak sebuah pertunjukan dagelan yang diperankan Mang Endut dan Nyi Larung yang saling berbantahan sambil sesekali tertawa.

Denting jam berulang sepuluh kali, pertanda tepat pukul sepuluh malam. Aura kebahagiaan yang terpancar di ruangan lagi-lagi memberikan imbas pada jam dinding. Kini, suara dentingannya tak lagi parau, melainkan nyaring pertanda turut bahagia pada suasana hati sang majikan.

“Alhamdulillah. Tidak terasa, ternyata sudah pukul sepuluh malam. Nyai, Endut, Abah pamit pulang,” Abah Astagina berdiri sambil merapikan bajunya.

“Abah, ini kan sudah larut. Sebaiknya Abah menginap saja di sini. Kamar depan sudah saya persiapkan untuk Abah,” Nyi Larung menawarkan.

“Terima kasih, Nyai. Mungkin lain kali saja, ya,”

“Tidak, Abah. Nyai berharap sekali Abah menginap malam ini. Bukankah di rumah ada Nyi Laras dan Dawala? Biar nanti saya menelepon ke rumah. Menginap saja, Abah,” Nyi Larung merengek seperti anak kecil meminta balon kepada ayahnya.

“Baiklah. Kalau begitu, Abah langsung tidur saja. Sudah mengantuk.”

“Sudah salat isya, Abah?” tanya Mang Endut.

“Alhamdulillah sudah.”

Abah Astagina langsung menuju kamar yang ditunjukkan Nyi Larung. Setelah pintu kamar tertutup, suasana ruang keluarga itu kembali hening.

“Nyai, kenapa Abah diminta menginap di sini?” tanya Mang Endut.

“Lho, memang kenapa, Pak?”

“Nyai, apa kamu lupa kalau malam ini malam Jumat?”

“Ada apa dengan malam Jumat, Pak?”

“Iih, Nyai. Kata orang, malam ini kan sunah rosul kalau kita...”

“Oh, begitu.. apa hubungannya dengan Abah?”

“Ya.., tidak nyaman saja.”

“Pak, ikhlaskan saja kehadiran Abah di sini. Mudah-mudahan amal kebaikan kita mendapat ridha Allah. Belajar ikhlas, ya, Pak,” begitu lembut Nyi Larung membelai wajah suaminya.
Ikhlas? Kata-kata itu masih mengganjal dalam hati Mang Endut. Untuk situasi yang lain, mungkin kata-kata itu masih bisa dipahami. Tapi, dalam keadaan seperti ini? Mang Endut masih harus berpikir ulang untuk menggarisbawahi kata ikhlas!

"Nyai, suerrr..Akang belum ikhlas," gumam Mang Endut lirih.

Ah, Mang Endut...

Baca Selanjutnya......

Mang Endut Kepingin Langsing

Tak seperti biasanya, angin pagi di kawasan Bogor kali ini tidak begitu menggigit, menusuk lebih dalam ke rongga-rongga tulang. Selimut tebal yang semalam dipakai pun mulai disingkirkan karena rasa gerah sudah sangat terasa. Padahal, semalam hujan tampak begitu lebat dengan petirnya yang sesekali menghentakkan telinga. Sudah sejak senja masyarakat di komplek itu tak beranjak ke luar rumah karena lebih memilih mendekam di bilik kehangatan sambil berselimut dan memicingkan mata.

Di awal hari sebelum matahari terbangun dari tidurnya, sejumlah pedagang sudah berteriak menjajakan dagangannya. Bahkan, warung sayur Pak Dhe sudah dikerubuti ibu-ibu yang tidak mau kehabisan bahan-bahan masakannya. Teriakan khas ibu-ibu pun segera mengambil alih suasana pagi yang hening itu menjadi sangat bising.

Jarum jam tepat mengarah pada angka 5 ketika Mang Endut dan Nyi Larung membuka pintu rumah. Nyi Larung yang selesai berbelanja di warung sayur Pak Dhe dengan setengah memaksa mengajak suaminya, Mang Endut, berolahraga. Kebiasaan Mang Endut memang tidak pernah berubah. Selesai melaksanakan salat Subuh dia pun tidur kembali. Apalagi jika keesokan harinya Mang Endut libur atau setelah semalaman begadang nonton wayang di televisi, kasur empuk pun menjadi sasaran kegiatan berikutnya. Badan besarnya segera melingkar atau tepatnya membentu posisi jajaran genjang memenuhi ranjang.

“Wah, segerrr sekali, ya Pak?” tanya Nyi Larung, setelah pintu kembali tertutup.

“Iya, Nyi. Ooaah..” jawab Mang Endut singkat sambil tangannya menutup mulut karena menguap.

“Si bapak mah, masih saja menguap. Ayo bangun! Kita lari!” teriak Nyi Larung memberi semangat. Bahkan tak hanya teriakan, sejurus kemudian cubitan keraspun dialamatkan ke pinggang suaminya.

“Iya, Nyi. Aduuh,” Mang Endut bergelinjang menahan sakit dan tentunya juga menahan marah.

***

Kebersamaan Mang Endut dan Nyi Larung saat berolahraga, tepatnya jalan kaki, hanya sementara saja. Ketika bertemu ibu-ibu lainnya, Nyi Larung lebih memilih teman-teman ngerumpinya itu dibanding suaminya. Ditinggal sang istri malahan membuat Mang Endut senang, dia bisa dengan leluasa melirik kanan-kiri menonton gratis ‘daun-daun muda’ yang hilir mudik berolahraga.

“Nah gitu dong, Mang Endut. Kalau sering-sering begini kan lama-lama bisa langsing,” tepukan Aki Eyot yang datang dari arah belakang membuat Mang Endut kaget, sekaligus menghilangkan kesempatan melihat lebih ‘seksama’ gadis muda bohay berkaus merah yang baru saja melintas di depan matanya.

“Eh, Aki Eyot. Iya nih mumpung lagi semangat,” ujar Mang Endut sambil tersipu, khawatir kegiatan ‘lirik-lirik’ nya ketahuan.

“Olahraga yang paling baik itu, konon, adalah jalan kaki. Kalau Mang Endut sudah berjalan sejauh ini dari rumah, dalam tiga minggu ke depan, tuh perut pasti jadi langsing,” goda Aki Eyot.

“Ah, bisa saja. Aki masih kuat jalan sejauh ini?” tanya Mang Endut.

“Masih. Aki hampir tiap pagi jalan kaki. Maklum, daripada bosan tidak ada kerjaan mendingan Aki jalan-jalan supaya tetap bugar,” terang Aki Eyot.

Mendengar pekataan Aki, Mang Endut hanya mengangguk. Di dalam hatinya, Mang Endut menyimpan pertanyaan usil: “Ah, paling juga semangat karena banyak gadis-gadis muda. Iya kan, Ki?”

“Olahraga itu membuat kita sehat kalau niat kita juga lurus untuk berolahraga, bukan karena ingin melihat gadis-gadis muda seperti mereka,” sambung Aki seolah kereteg hate Mang Endut mampu ditangkapnya.

Mang Endut terkesiap mendengar kata-kata Aki. Untuk menetralisir kekagetannya, Mang Endut mengayun-ayunkan tangannya seperti gerakan pemanasan ala Vicky Burki yang pernah ditontonnya di televisi.

“Kita istirahat dulu Mang Endut. Di bawah pohon kelapa itu kayaknya asyik juga kita mengobrol sambil melihat talaga di pagi hari,” ajak Aki Eyot.

Keduanya berjalan ke arah pohon kelapa yang ditunjuk Aki Eyot. Setelah memesan bubur ayam yang mangkal tidak jauh dari tempat itu, keduanya kemudian terlibat perbincangan yang agak serius.

“Beberapa hari ini saya sering malas mengerjakan sesuatu, Ki. Menurut Aki, apakah hal itu bisa juga diakibatkan karena badan saya yang kelewat gemuk?” tanya Mang Endut.

“Bisa jadi. Kemalasan itu kan datangnya dari setan. Sementara setan beraktifitas melalui aliran darah yang akan terus mengalir kencang jika kita selalu mengkonsumsi sesuatu. Kalau saja kita mau menahan diri untuk tidak makan, maka aliran darah itu akan berhenti. Artinya, setan pun tidak akan mampu beraktifitas. Itulah hikmahnya berpuasa, mampu mengendalikan hawa nafsu yang notabene berasal dari setan,” jawab Aki Eyot panjang lebar. Aki Eyot yang pensiunan guru agama ini memang dikenal warga sebagai sosok ustadz yang ramah, sederhana, dan mampu memberikan jawaban secara ciamik.

“Sebenarnya, aktifitas setan tidak saja terjadi pada aliran darah orang-orang gendut seperti Mang Endut. Aktifitas setan terjadi pada orang-orang yang kenyang. Makanya, Rasulullah SAW berpesan agar kita selalu berhenti makan sebelum kenyang,” sambung Aki Eyot.

“Dalam kaidah ‘menaklukan jiwa’ yang dibahas Imam Al-Ghazali, kita dianjurkan menahan lapar. Dengan menahan lapar, setidaknya ada sepuluh manfaat di dalamnya. Mang Endut mau tahu kesepuluh manfaat itu?” tanya Aki Eyot.

“Mau, Ki. Kebetulan saya tidak mendengarkan kuliah Subuh pagi tadi di tivi,” jawab Mang Endut.

“Yang pertama, menahan lapar dapat menyucikan hati, menerangi hati (qarihah), dan menajamkan kecerdasan (bashirah). Sebaliknya, kekenyangan hanya akan mewariskan kebodohan, membutakan hati, dan memperbanyak uap air di dalam otak sehingga mampu menutup sumber-sumber pemikiran, sehingga hati kesulitan menjalankan fungsi dalam berpikir dan memahami segala sesuatu dengan cepat. Begitu juga bagi seorang anak yang kelewat banyak makan, dia akan menghadapi risiko lemah daya ingat dan rusaknya kecerdasan sehingga dia menjadi idiot dan lamban dalam berpikir,” papar Aki Eyot sambil menghela nafasnya.

“Kedua, menahan lapar mampu melunakkan dan menjernihkan hati sehingga siap merasakan kebahagiaan bermunajat kepada Allah dan mendapat faedah dari mengingat-Nya. Lidah kita sering berdzikir dnegan hati yang khidmat, tetapi kita tidak merasakan kebahagiaan atau kesan yang mendalam. Antara kita yang berdzikir dan rasa bahagia seolah terdapat dinding yang sangat tebal karena diciptakan oleh kekerasan hati. Di lain waktu, hati kita kadang mampu menangkap rasa bahagia dengan bermunajat kepada Allah. Umumnya, perut kosong itulah yang menjadi faktor tertangkapnya rasa bahagia. Abu Sulaiman Ad-Darani sampai berkata: ‘Ibadah yang paling manis bagiku adalah ketika perutku menempel di punggungku’. Sementara ulama sufi lainnya Abu Sualiman mengatakan: ‘ketika hati lapar dan haus ia menjadi jernih dan lunak, tetapi ketika kenyang ia menjadi buta dan keras’. Dengan rasa lapar, para ulama sufi mampu merasakan nikmatnya berdekatan (munajat) dengan Allah, mudah berkontemplasi dan mencapai makrifat.”

“Manfaat yang ketiga adalah tumbuhnya rasa malu, sikap rendah hati, dan hilangnya rasa cinta terhadap kemegahan, kegembiraan, dan pola hidup bersenang-senang yang merupakan sumber sikap melampaui batas dan lalai terhadap Allah SWT. Ketahuilah, Mang Endut, sesungguhnya nafsu tidak mungkin dapat ditaklukkan dan dikendalikan kecuali oleh rasa lapar. Dengan rasa lapar, jiwa kita akan merasa tenteram dan khidmat kepada Allah. Nafsu makan dan nafsu seks merupakan pintu menuju api neraka dan sumbernya adalah rasa kenyang. Sebaliknya, sikap rendah hati dan tunduknya hawa nafsu merupakan pintu menuju surga, dan modal dasarnya adalah rasa lapar.karena itu, Mang Endut. Barangsiapa yang menutup salah satu pintu neraka, maka sebenarnya ia telah membuka salah satu pintu surga, karena keduanya saling bertentangan, seperti timur dan barat, seperti siang dan malam..,”

“Oh, itulah sebabnya para koruptor banyak yang beraksi karena alasan ekonomi: perut dan di bawah perut, ya Ki?” sambar Mang Endut.

“Betul, Mang. Jiwa para koruptor, bahkan, sudah sangat dikuasai oleh setan karena mereka juga sudah tidak memedulikan keberadaan orang lain, keberadaan orang-orang miskin, atau keberadaan rambu-rambu hukum yang berlaku. Sifat setan yang lainnya adalah tidak taat hukum. Bukankah rajanya setan, Iblis la’natullah ‘alaihi, pun terlempar karena ketidakpatuhannya kepada perintah Allah?”

“Kembali ke laptop, Ki. Yang keempat apa?”

“Yang keempat, dengan rasa lapar kita tidak menjadi lupa terhadap cobaan maupun azab Allah, dan tidak menelantarkan orang-orang yang tertimpa musibah. Orang-orang yang terbiasa kenyang, perasaannya kurang peka terhadap orang-orang yang lapar karena dirinya terbiasa melupakan rasa lapar itu sendiri. Seorang yang cerdas tidak pernah tahan menyaksikan penderitaan orang lain karena ia akan sesegara mungkin teringat betapa menderitanya mendapat adzab di akhirat nanti. Melalui rasa hausnya, dia akan merasakan rasa haus yang dirasakan oleh umat manusia di Padang Mahsyar pada hari Kiamat, dan melalui rasa lapar dia akan mengingat rasa lapar yang diderita para penghuni neraka. Saking dahsyatnya, para penghuni neraka rela makan buah berduri, buah pohon zaqqum atau meminum ghassaq dan timah yang meleleh, na’udzubillah min dzalik. Kita dianjurkan untuk selalu mengingat adzab di akhirat, karena hal itu dapat membangkitkan rasa takut. Celakalah kita jika tidak pernah mengecap rasa rendah hati, sakit, miskin, dan musibah, karena hal itu hanya akan membuat kita lupa akan akhirat. Inilah salah satu faktor mengapa para nabi dan waliyullah selalu dihadapkan pada cobaan, sehingga yang paling baik di antara mereka adalah yang paling berat cobaannya. Begitulah seperti yang sabda Nabi SAW yang diriwayatkan At-Tirmidzi: ‘Kami, para Nabi adalah orang-orang yang diuji paling berat dan yang paling baik di antara kami adalah yang paling berat ujiannya.’ Maka, ketika Nabiyullah Yusuf AS ditanya, ‘Mengapa engkau menahan lapar, padahal engkau menguasai seluruh gudang pangan di negeri ini? Yusuf menjawab, ‘Aku takut kenyang sehingga lupa terhadap orang-orang yang lapar’. Mengingat orang-orang yang lapar dan miskin merupakan salah satu manfaat rasa lapar. Rasa lapar menggugah sifat kasih sayang, keinginan memberi makan, dan rasa empati terhadap makhluk-makhluk Allah.”

“Manfaat kelima adalah menaklukan segala nafsu berbuat maksiat dan mengalahkan jiwa yang selalu memerintahkan pada kejahatan (al-nafs al-ammarah bi al-su). Seperti yang Mang Endut ketahui juga bahwa pangkal perbuatan maksiat itu kan adalah nafsu dan tenaga yang keduanya bersumber dari makanan. Oleh karena itu, menyedikitkan makanan berarti melemahkan segala nafsu dan kekuatan. Dan hal paling kecil yang ditaklukan rasa lapar adalah nafsu seks dan keinginan untuk berbicara secara berlebihan, sehingga orang itu akan terbebas dari penyakit-penyakit lidah seperti menggunjing, berkata-kata keji, berbohong, mengadu dumba, dan lain sebagainya. Sebaliknya, orang yang kenyang, biasanya, ia membutuhkan hiburan yang dapat diperolehnya dengan cara mencela orang lain. Padahal, seseorang akan dengan mudah dijebloskan ke dalam neraka karena ulah lidahnya.”

“Eiit, nanti dulu, Ki. Meski saya gendut dan doyan makan, tapi saya paling ogah kalau harus ngerumpi kayak ibu-ibu. Selain memang dosa, kayaknya ngerumpi itu pekerjaan ibu-ibu banget, gitu. Cuma, kalau masalah ngeliat cewek muda, saya memang paling hobi, Ki. He, he..heh.”

“Ah, itu dia. Tapi, kayaknya penyakit Mang Endut yang senang ngeliat cewek muda, itu mah sudah dari sono’nya. Bawaan orok kali ya? He..he...”

Derai tawa seketika merebak menengahi obrolan keduanya. Mang Endut yang jadi bahan tertawaan terkekeh, meski wajahnya terlihat memerah.

“Ma’af ya Mang Endut. Ini mah intermezzo saja.”

“Enggak apa-apa, Ki. Kayaknya sih saya memang begitu dari baheula, he, he..”

Aki Eyot yang mendengar hal itu hanya tersenyum sambil menghirup semilir angin yang melintas tepat di wajahnya. Sungguh suasana alam yang indah nan sejuk. Kabut yang terlihat jelas mengapung di atas permukaan telaga menambah daya tarik talaga yang dinamai Cilula itu. Pantas saja tempat itu tidak pernah sepi pengunjung yang datang dari berbagai tempat, tak hanya dari kawasan Komplek Talaga Kahuripan saja.

“Kembali ke laptop, Ki. Kalau yang berikutnya apa?”

“Nanti dulu. Sebelum masuk ke manfaat yang berikutnya, Aki ingin memberi tahu sebuah rahasia bagi orang-orang yang ingin terbebas dari perbuatan maksiat terhadap wanita…”

“Apa itu, Ki?”

“Seorang bijak pernah berkata, siapa saja yang mampu bersikap sabar dan tabah dengan hanya makan sekadar mengisi sebagian rongga perutnya, maka insya Allah akan terbebas dari nafsu terhadap kaum wanita.”

“Oh, begitu.”

“Nah, sekarang kita masuk ke bagian selanjtunya. Manfaat rasa lapar keenam adalah mencegah rasa ingin tidur dan membiasakan tidak tidur di malam hari. Mang Endut tentu tahu bahwa orang yang banyak makan, pasti minumnya pun banyak. Nah, karena banyak minum itulah seseorang akan terlena karena banyak tidur.”

“Tapi, kita kan butuh tidur untuk menjaga kebugaran agar fit ketika bekerja keesokan harinya, Ki?”

“Betul, Mang Endut. Namun bagi kalangan salafussalih, menyedikitkan tidur di malam hari sudah menjadi kebutuhan seperti halnya salat malam. Kalangan salafussalih ini selalu menjaga nikmatnya salat malam, sehingga mereka akan dengan senang hati melakukan salat malam itu karena sudah menjadi kebutuhan. Dan bagi kita, terutama Mang Endut yang harus bekerja, waktu di malam hari bisa saja diatur agar kita juga bisa mengerjakan salat malam tanpa harus hilang kebugaran tubuh. Untuk perilaku seperti ini, Nabi Daud As telah memberikan contoh yang paling baik. Beliau tidur di sepertiga malam pertama kemudian bangun di sepertiga kedua, lalu tidur kembali di sisa-sisa malam hingga kemudian bangun kembali saat subuh menjelang. Dengan begitu, kebugaran tubuh akan selalu terjaga, salat malam pun akan menjadi kebiasaan yang memberikan banyak kenikmatan.”

“Yang ketujuh, rasa lapar akan mempermudah ketekunan seseorang dalam menjalankan ibadah. Dengan rasa lapar, seseorang akan senang berlama-lama berdzikir mengingat Allah, beri’tikaf di masjid, dan tidak terburu-buru dalam beribadah. Jika saat beribadah perut dalam keadaan kenyang, maka yang ada dalam otaknya hanya makanan. Betul kan Mang Endut?”

“Eh, betul, Ki.”

“Manfaat yang kedelapan adalah kesehatan tubuh dan mencegah penyakit. Mang Endut tentu juga tahu bahwa factor yang menyebabkan timbulnya penyakit adalah makan terlalu banyak dan berlebihnya komposisi unsure-unsur di dalam pencernaan dan pembuluh darah. Dahulu, Sultan Harun Al-Rasyid pernah mengumpulkan empat dokter yang berasal dari India, Yunani, irak, dan seorang Sawadi (dari kampung Sawad, sebuah daerah pertanian di Irak tengah bagian selatan). Harun bertanya kepada mereka: ‘Tunjukkan kepadaku, obat apa yang tidak mengakibatkan timbulnya penyakit?’ Dokter dari India berkata, ‘obat seperti itu adalah Al-Halilaj Al-Aswad (myrobalan hitam, sebuah tanaman di India yang biasa dipakai untuk mengobati berbagai macam penyakit termasuk lepra)’. Lalu dokter Irak berkata, ‘menurut saya obat itu adalah Habb Al-Rasyad Al-Abyadh (nasturtium cress, digunakan untuk mengobati penyakit lepra, limpa, dan penyakit-penyakit kaum wanita)’. Dokter Yunani berkata, ‘pendapat saya obat itu adalah air panas’. Dokter Sawadi yang merupakan dokter terpandai dari ketiganya berkata, ‘Myrobalan menipiskan pencernaan, dan ini penyakit. Nasturtium membuat perut berlemak, dan ini penyakit. Sementara air panas dapat mengendurkan perut, dan ini juga penyakit. Menurut saya, obat yang tidak ada efek sampingnya adalah tidak makan kecuali jika telah lapar dan berhenti makan sebelum kenyang’. Begitulah Mang Endut..”

“Aki, saya jadi teringat ceramah seorang ustadz saat khutbah Jumat di kantor saya. Kata dia, seorang filosof sekaligus dokter pernah takjub pada sebuah hadits Nabi Muhammad SAW yang mengatakan: ‘Sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk napas’. Betul begitu, Ki?”

“Tepat sekali Mang Endut. Berkaitan dengan hal itu, Nabi Muhammad SAW juga bersabda: ‘Perut kenyang adalah sumber penyakit dan rasa demam adalah awal kesembuhan. Hendaklah setiap orang membiasakan setiap anggota tubuh berjalan sesuai dengan fungsinya’. Mang Endut juga tentu sudah tahu betul bahwa ada juga sebuah hadits yang mengatakan: ‘Berpuasalah, niscaya kamu sekalian akan sehat’.”

“Nah, sekarang manfaat yang kesembilan. Dengan rasa lapar biaya hidup pun akan ringan. Orang yang terbiasa makan sedikit hanya membutuhkan uang yang sedikit, sedangkan orang yang terbiasa makan kenyang akan merasakan perutnya terus-menerus menagih untuk diisi. Dari hal ini kita sesungguhnya diajarkan untuk tidak rakus terhadap urusan duniawi. Bukankah jika kita terbiasa kenyang, maka kita akan selalu rakus? Si perut kenyang akan mencari uang dari manapun untuk memenuhi rasa laparnya.”

“Betul juga ya, Ki..”

“Dan yang teakhir, Mang Endut. Rasa lapar akan memupuk kebiasaan mendahulukan kepentingan orang lain, bersedekah kepada anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Mang Endut, apa yang kita sedekahkan pasti tersimpan rapi dalam perbendaharaan karunia Allah. Sementara apa yang kita makan hanya akan menumpun di lubang WC. Betul kan? Itulah pentingnya kita memberi makan orang-orang miskin dari kelebihan harta kita. Dari kesepuluh manfaat yang telah kita bincangkan tadi, sesungguhnya terdapat manfaat lain yang tidak terhitung jumlahnya. Menahan lapar adalah perbendaharaan besar bagi segala sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan akhirat. Maka tidak salah jika seorang salaf berkata, ‘menahan lapar adalah kunci ke akhirat dan pintu menuju zuhud. Sedangkan rasa kenyang kunci dunia dan pintu menuju sifat rakus’. Wallahu A’lam bish Shawab..”

“Wah, tuntas sudah Ki..”

“Tuntas bagaimana maksudnya?”

“Tuntas sudah saya bertekad untuk mengecilkan perut yang bunting ini.”

“Yang penting adalah usaha, Mang Endut. Lakukan saja olahraga ringan tapi teratur. Dan jangan lupa, kurangi makan agar sehat.”

“Oke, Ki. Hatur nuhun pisan. Kita jalan lagi, Ki..”

Hayu, lah..”

Matahari mulai merambat naik ketika Mang Endut dan Aki Eyot beranjak dari tempat duduknya. Semilir angin yang tadinya dingin berubah menghangat meski kesejukan masih terasa. Semakin siang, Telaga Cilula bukannya menjadi sepi, justeru bertambah ramai. Satu per satu orang-orang yang bersantai setelah berolahraga pulang ke rumah, digantikan sekelompok keluarga yang membawa tikar dan bingkisan.

“Nah, ini dia..” celetuk Mang Endut spontan.

Aki Eyot yang memerhatikan tingkah Mang Endut hanya geleng-geleng kepala. Seorang wanita muda bercelana street superketat dengan kaus superminim melintas tepat dari arah belakang.

“Maaf, Ki. Saya duluan. Assalamu’alaikum..”

Baca Selanjutnya......