Tampilkan postingan dengan label Khazanah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khazanah. Tampilkan semua postingan

Menakar Keimanan Kita

Kesenjangan sosial merupakan fenomena masyarakat yang bersifat global, terjadi baik di negara maju ataupun terbelakang. Bahkan proses integrasi ekonomi global cenderung akan mempertajam perbedaan kelompok kaya dan kelompok miskin. Sebuah lembaga studi di Amerika Serikat, Institute for Policy Study sebagaimana dimuat pada Herald Tribune, 11 tahun silam, pernah meramalkan ekonomi global akan menciptakan kesenjangan antara kelompok kaya dan kelompok miskin yang luar biasa.

Diramalkan bahwa kekayaan dari 447 orang terkaya di dunia akan lebih besar daripada pendapatan penduduk miskin yang mencakup sekitar separo jumlah penduduk dunia, dan dua pertiga penduduk dunia akan mengalami proses pemiskinan. Di bidang tenaga kerja, 200 industri terkemuka dunia akan menguasai sekitar 28% kegiatan ekonomi dunia, tetapi hanya menyerap 1% dari tenaga kerja global dengan gaji yang relatif rendah.

Bagi negara sedang berkembang, seperti di Indonesia, kesenjangan sosial bisa menjadi ancaman keamanan nasional sebab ketimpangan sosial ini akan berakumulasi dan bersinergi dengan berbagai persoalan masyarakat yang kompleks. Ujung-ujungnya, persoalan ketimpangan sosial ekonomi tersebut akan mengganggu proses pembangunan ekonomi. Oleh karena itu, kesenjangan sosial tidak hanya perlu dijadikan topik pembahasan di berbagai seminar tetapi perlu untuk dicari pemecahannya secara jernih.

Jika jeli memerhatikan, bukti kesenjangan sosial dapat kita temui di mana-mana. Satu di antara peristiwa yang paling sering kita temui adalah deretan pengemis yang mengharap belas kasihan kita seraya menengadahkan tangan. Yang memilukan, sebagian besar deretan pengemis adalah anak-anak berusia tiga hingga tujuh tahun. Bahkan, tak jarang, para pengemis dewasa menggendong anak-anaknya yang masih bayi seolah menegaskan betapa pilunya nasib mereka. Para pengemis jenis ini bisa jadi adalah para pengecut yang menjadikan bayi-bayi mereka sebagai tameng kemiskinan. Subhanallah!

Fakta tersebut baru sebatas yang dapat kita lihat secara langsung. Adapun fakta lainnya yang kadang kita lupa adalah betapa banyaknya anak putus sekolah, anak-anak yatim, janda-janda, para pengangguran, dan masih banyak lagi kalangan yang masuk pada kategori dhuafa. Mereka jelas-jelas membutuhkan uluran tangan kita.

Di sisi lain, arus globalisasi pun menyajikan persaingan tidak sehat antarindividu maupun antarkomunitas. Kita banyak menyaksikan pertarungan tak seimbang antara yang lemah melawan yang kuat. Para politisi saling tonjok sekadar memuaskan nafsu ambisi yang belum tentu bermanfaat, namun jelas-jelas berefek mudharat bagi umat. Lagi-lagi, yang menjadi korban adalah rakyat dhuafa yang tak memiliki daya untuk melakukan reaksi atas realita yang ada.

Sementara di kalangan remaja, kita pun kerap menyaksikan perilaku penyimpangan yang membuat mereka terpuruk. Narkoba, tawuran, hingga seks bebas menjadi ilustrasi para remaja saat ini. Remaja di negeri ini sangat miskin budaya ketimuran yang tabu melakukan segala tindak amoralitas. Kemiskinan mereka masih ditambah dengan minimnya pengetahuan agama, sehingga jurang kesesatan pun kian menganga.

Sebagai umat yang beriman, tentu hati kita merasa terusik untuk dapat terlibat dalam setiap perubahan ke arah yang lebih baik. Dengan keimanan yang dimiliki itulah kita berkewajiban untuk melakukan perintah Allah: amar ma'ruf dan nahy munkar, berlomba-lomba mengajak kepada kebenaran dan mencegah kemungkaran. Sebagai umat Islam, kita merupakan umat pilihan yang dibekali kemampuan untuk melakukan kedua amaliah terpuji ini. Hal tersebut sesuai dengan firman Allah Swt. “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah," (QS. Ali Imran [3]:110).


Makna Amar Ma'ruf dan Nahy Munkar
Dr. Sayyid Muhammad Nuh menjelaskan dalam bukunya Taujihat Nabawiyyah 'Ala al-Thariq bahwa al-ma'ruf adalah nama yang mencakup semua yang dicintai dan diridhai Allah, baik perkataan, maupun perbuatan lahir dan batin. Jadi al-ma'ruf mencakup keyakinan, yaitu iman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-Nya, Rasul-Nya, hari akhir dan qadar (takdir). Juga mencakup ibadah, yaitu shalat, zakat, shaum, haji, jihad, nikah dan thalaq, menyusui anak, pemeliharaan anak, nafkah, iddah dan semacamnya.

Mencakup juga hukum dan perundang-undangan seperti mu'amalah maliyyah (transaksi harta), hudud (hukuman-hukuman), qishash, transaksi-transaksi, perjanjian-perjanjian dan semacamnya. Mencakup juga akhlak, seperti shidiq (jujur), 'adil, amanah, 'iffah (menjaga diri dari yang haram), setia janji dan semacamnya.

Semuanya itu dikatakan ma'ruf (yang menurut bahasa berarti dikenal) karena fitrah yang bersih dan akal yang sehat mengenalnya dan menyaksikan kebaikannya. Jadi pengertian amar ma'ruf (menyuruh kepada yang ma'ruf) adalah mengajak dan memberikan dorongan kepada orang untuk melaksanakannya, menyiapkan sebab-sebab dan sarana-sarananya dalam bentuk mengokohkan pilar-pilarnya serta menjadikannya sebagai ciri umum bagi seluruh kehidupan.

Sedangkan Al-Munkar (kemungkaran) adalah nama yang mencakup semua yang dibenci dan tidak diridhai Allah, baik perkataan maupun perbuatan lahir dan batin. Jadi munkar (kemungkaran) mencakup kemusyrikan dengan segala bentuknya, mencakup segala penyakit hati seperti riya', hiqd (dengki), hasad (iri), permusuhan, kebencian dan semacamnya. Mencakup juga penyia-nyiaan ibadah seperti shalat, zakat, shaum, haji dan semacamnya. Mencakup juga perbuatan-perbuatan keji seperti zina, mencuri, minum khamar (minuman keras), menuduh berzina, merampok, berbuat aniaya dan semacamnya. Juga mencakup dusta, zalim, khianat, perbuatan hina, pengecut dan semacamnya.

Kemungkaran dikatakan munkar karena fitrah yang bersih dan akal yang sehat mengingkari dan menyaksikan kejahatan, kerusakan, dan bahaya yang ditimbulkannya. Jadi pengertian nahy munkar (mencegah dari yang mungkar) adalah memperingatkan, menjauhkan, dan menghalangi orang dari melakukannya, memutuskan sebab-sebab dan sarana-sarananya dalam bentuk membasminya sampai ke akar-akarnya serta membersihkan kehidupan dari segala bentuk kemungkaran.


Takaran Iman
Perintah untuk amar ma'ruf dan nahy munkar sangat erat kaitannya dengan keimanan. Karena keterkaitannya yang kuat, maka kadar keimanan seseorang, sejatinya, dapat diketahui dari sejauh mana seseorang tergerak untuk menjalankan amar ma'ruf dan nahy munkar.

Dalam sebuah hadis dari Abu Sa’id Al Khudry r.a., Rasulullah Saw. bersabda: “Barang siapa di antara kamu yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah (mengingkari) dengan tangannya, jika tidak mampu hendaklah ia mengubah dengan lisannya, jika tidak mampu hendaklah ia mengubah dengan hatinya, dan itulah keimanan yang paling lemah,” (HR. Muslim).

Mari kita perhatikan kandungan hadis di atas. Saat kemungkaran terjadi di depan mata, sesungguhnya keimanan kita tengah diuji: apakah kita akan terlibat langsung untuk mengubah kemungkaran tersebut ataukah kita hanya terpaku diam. Saat kita mengambil inisiatif untuk terlibat langsung dalam proses perubahan itu, maka keimanan kita dapat ditakar sebagai berikut:

1.Jika kita terlibat aktif dengan menggunakan tangan -–dalam hal ini berarti pula kekuasaan, baik jabatan maupun harta-- maka kita masuk pada kategori orang yang memiliki iman kuat.
2.Kalau perubahan itu kita ikuti dengan cara ”hanya” menyumbangkan suara -–dalam hal ini termasuk berdemo, menulis di media-- maka kita masuk pada urutan orang yang memiliki iman lebih lemah.
3.Adapun jika kita hanya menonton saja kemungkaran itu terjadi, namun hati kita berdoa agar kemungkaran itu lenyap, maka kita masuk pada kategori orang yang memiliki iman paling lemah.

Jika melihat kandungan hadis ini, maka bisa dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya orang beriman mesti memiliki motivasi kuat sebagai agent of change dalam memberantas kemungkaran dan berdiri pada garda terdepan pejuang kebenaran. Artinya, orang-orang beriman seyogianya harus memiliki power yang terorganisasi sehingga dapat mengupayakan terjadinya perubahan pada sebuah sistem kemungkaran (nahy munkar) sekaligus terlibat dalam proses implementasi sistem kebenaran (amar ma'ruf).


Muhasabatun Nafs
Implementasi amar ma'ruf dan nahy munkar, sejatinya, dapat kita mulai dari diri kita sendiri. Jika merujuk pada makna yang disodorkan Dr. Sayyid Muhammad Nuh, maka aspek al-ma'ruf dan al-munkar secara lengkap telah terpampang dalam diri kita. Mari kita urai sembari melakukan muhasabatun nafs (introspeksi diri). Kita tanyakan kembali pada diri kita, minimal dua pertanyaan berikut: (1) Apakah kita sudah memiliki sifat jujur, amanah, 'adil, 'iffah, dan terbebas dari segala penyakit hati? (2) Apakah shalat, zakat, puasa, dan ibadah mahdlah lainnya telah kita laksanakan dengan ikhlas?

Langkah berikutnya, coba lirik sekeliling kita: istri, anak-anak, saudara, tetangga, rekan kerja, dan orang-orang yang kita temui saat beraktifitas. Gerakkan hati kita untuk memiliki motivasi kuat mengamalkan amar ma'ruf dan nahy munkar. Ajak diri kita dan juga orang-orang di sekeliling kita untuk mengamalkannya bersama.

Hadirin yang dimuliakan Allah,
Mari kita mulai amalan amar ma'ruf dan nahy munkar dari hal paling sederhana dan memungkinkan kita untuk melakukannya. Jalani hal itu secara konsisten (istikamah) dan pantang berputus asa. Dengan ketetapan hati dan perilaku yang istikamah, niscaya Allah memberikan hidayah kepada kita, menjadikan kita hamba-hamba yang dikasihi-Nya dan menempatkan kita di tempat yang terpuji.

Amin ya rabbal 'alamin.


Baca Selanjutnya......

(5) Poligami atau Zina

Poligami yang dilakukan KH. Abdullah Gymnastiar atau yang biasa disapa Aa Gym memang fenomenal. Bagaimanapun ia adalah sosok idola yang menjadi panutan umat Islam di Indonesia. Ia adalah sosok public figure yang tak hanya dikagumi kalangan umat Islam saja, tapi juga non Muslim.

Juru dakwah yang selalu lemah lembut dalam menyampaikan ceramahnya itu, bahkan diminati juga masyarakat di luar Indonesia. Ia tak jarang menerima undangan ceramah di Malaysia dan negeri Islam lainnya. Khusus bagi jamaah perempuan, Aa Gym dinilai begitu paham menyelami perasaan kaum hawa, sehingga sebagian besar jamaah Aa Gym berasal dari kalangan ini.

Ketika Aa Gym memutuskan untuk menikah lagi, pro dan kontra pun berdatangan. Aa Gym menuai banyak caci maki, baik yang terkirim langsung melalui SMS ke handphone-nya, atau surat pembaca di sejumlah media. Namun, tak jarang pula yang mengirimkan ucapan selamat dan doa atas pernikahan kali kedua tersebut.

Pada waktu yang bersamaan, ketika Aa Gym menuai kontroversi dari banyak pihak, di sisi lain muncul pula perbuatan tak senonoh yang divisualisasikan public figure lainnya. Dua peristiwa yang sungguh-sungguh bertolak belakang!

Untuk kasus kedua ini, masyarakat sempat terhentak kaget, meski hanya sesaat. Mungkin, masyarakat terlanjur mengetahui bahwa di kalangan politisi, tindak asusila menjadi hal yang bukan tabu.

Jika diperhatikan, konsep pergaulan bebas yang mengagungkan perilaku seks bebas, merupakan budaya Barat yang kini telah menyebar ke pelbagai pelosok dunia. Seperti halnya budaya Romawi dan Yunani, kebudayaan Barat pun tak mengenal poligami. Dalam sejarahnya, memang kedua kawasan itu menjadi kiblat bagi peradaban Barat.

Namun anehnya, sistem hukum dan moral mereka malah membolehkan perzinahan, homoseksual, lesbianisme dan gonta ganti pasangan suami isteri. Padahal semua pasti tahu bahwa poligami jauh lebih beradab dari semua itu. Sayangnya, ketika ada orang berpoligami dan mengumumkan kepoligamiannya, semua ikut merasa `jijik`, sementara ketika hampir semua lapisan masyarakat menghidup-hidupkan perzinahan, pelacuran, perselingkuhan, homosek dan lesbianisme, tak ada satu pun yang berkomentar jelek. Di Indonesia sekalipun, masyarakat seolah kompak dan sepakat bahwa perilaku bejat itu adalah `wajar` terjadi sebagai bagian dari dinamika kehidupan modern.

Dr. Yusuf Al-Qaradawi mengatakan bahwa pada hakikatnya apa yang dilakukan oleh Barat pada hari ini dengan segala bentuk pernizahan yang mereka lakukan tidak lain adalah salah satu bentuk poligami juga, meski tidak dalam bentuk formal.

Dan kenyataaannya mereka memang terbiasa melakukan hubungan seksual di luar nikah dengan siapapun yang mereka inginkan. Di tempat kerja, hubungan seksual di luar nikah menjadi sesuatu yang lazim dilakukan oleh mereka, baik dengan sesama teman kerja, atau antara atasan dan bawahan atau pun klien mereka. Di tempat umum mereka terbiasa melakukan hubungan seksual di luar nikah baik dengan wanita penghibur, pelayan restoran, artis, dan selebritis.

Di sekolah pun mereka menganggap wajar bila terjadi hubungan seksual baik sesama pelajar, antara pelajar dengan guru atau dosen, antar karyawan dan seterusnya. Bahkan di dalam rumaah tangga pun mereka menganggap boleh dilakukan dengan tetangga, pembantu rumah tangga, sesama angota keluarga atau dengan tamu yang menginap.

Perilaku demikian tidaklah mengada-ada karena secara jujur dan polos mereka akui sendiri dan tercermin dalam film-film Hollywood di mana hampir selalu dalam setiap kesempatan mereka melakukan hubungan seksual dengan siapa pun.

Jadi peradaban barat membolehkan poligami dengan siapa saja tanpa batas, bisa dengan puluhan bahkan ratusan orang yang berlainan. Dan sangat besar kemungkinannya mereka pun telah lupa dengan siapa saja pernah melakukannya karena saking banyaknya. Dan semua itu terjadi begitu saja tanpa pertanggung-jawaban, tanpa ikatan, tanpa konsekuensi dan tanpa pengakuan. Apabila terjadi kehamilan, sama sekali tidak ada konsekuensi hukum untuk mewajibkan bertanggung-jawab atas perbuatan itu.

Poligami tidak formal alias seks di luar nikah itu alih-alih dilarang, malah sebaliknya dilindungi dan dihormati sebagai hak asasi. Lucunya, banyak negara yang mengharamkan poligami formal yang mengikat dan menuntut tanggung jawab, sebaliknya seks bebas yang tidak lain merupakan bentuk poligami yang tidak bertanggung jawab malah dibebaskan, dilindungi dan dihormati.

Untuk kasus ini, Syiekh Abdul Halim Mahmud menceritakan sebuah kejadian lucu yang terjadi di sebuah negeri sekuler di benua Afrika. Ada seorang tokoh Islam yang menikah untuk kedua kalinya (berpoligami) secara syah menurut aturan syar`i. Namun berhubung negeri itu melarang poligami secara tegas, maka pernikahan itu dilakukan tanpa melaporkan kepada pemerintah.

Rupanya, inteljen sempat mencium adanya pernikah itu dan setelah melakukan pengintaian intensif, dikepunglah rumah tokoh ini dan diseretlah dia ke pengadilan untuk dijatuhi hukuman seberat-beratnya. Melihat situasi yang timpang seperti ini, maka akal digunakan. Tokoh ini dengan kalem menjawab bahwa wanita yang ada di rumahnya itu bukan isterinya, tapi teman selingkuhannya. Agar tidak ketahuan isteri pertamanya, maka mereka melakukannya diam-diam.

Mendengar pengakuannya, kontan saat itu juga pihak pengadilan atas nama pemerintah meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kesalah-pahaman itu. Dan memulangkannya dengan baik-baik serta tidak lupa tetap meminta maaf atas insiden itu.

Lalu, bagaimana halnya di Indonesia yang kini tengah diramaikan juga perilaku perselingkuhan para pejabatnya? Sebagai negeri dengan umat Islam terbesar di dunia, hal tersebut merupakan aib yang tak bisa ditolerir. Poligami dan perzinahan menjadi dua kubu yang mendapatkan respon berbeda di kalangan masyarakat. Saat ini, masyarakat Indonesia tengah berkaca pada peristiwa poligami dan perzinahan yang sama-sama dilakukan public figure.

Memerhatikan kedua peristiwa di atas, seolah-olah Allah Swt. membuka mata masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam, bahwa ada sejumlah pilihan dalam menghadapi inti kasus yang sama: poligami dan perzinahan merupakan dua cara yang berbeda untuk menyalurkan hasrat seksual. Pertanyaannya adalah, apakah poligami yang menjadi pilihan atau perzinahan?

Meski poligami menjadi jalan keluar bagi penyaluran hasrat seksual, namun sejatinya ia harus dipahami sebagai emergency exit: sebuah pilihan terakhir! Dan yang mesti dipahami pula bahwa berpoligami memiliki persyaratan yang tak mudah untuk dilakukan. Berserah diri kepada Allah Swt. merupakan cara yang tepat ketika seseorang yang melakukan poligami mengharap keadilan.

Umat Islam dapat mengambil hikmah atas fenomena poligami ini, dan menjadikannya ibrah untuk terus mengukur diri dan memacu diri menjadi hamba yang mulia di sisiNya. Wallahu A’lam Bishshawab.


(Sumber: Buku “Tak Ingin Poligami Tapi Harus Poligami”, Imam Fathurrohman)

Baca Selanjutnya......

(4) Aa Gym Berpoligami?

"Poligami ini jelas hal yang dibolehkan oleh Allah, tapi tidak dianjurkan. Poligami dibolehkan dengan cara-cara tertentu sebagai emergency exit," kata Aa Gym memulai penjelasannya melalui telepon internasional dari Kuala Lumpur Malaysia yang disiarkan langsung oleh puluhan radio di Jakarta, Sabtu pagi, 1 Desember 2006.

Sebelumnya Aa Gym mengakui bahwa selama ini para pendengar maupun umat yang datang ke pondoknya selalu mewanti-wanti soal dua hal yakni Aa Gym jangan berpolitik dan Aa Gym jangan berpoligami.

"Untuk bapak-bapak selalu mengingatkan Aa jangan berpolitik dan untuk ibu-ibu mengingatkan Aa jangan berpoligami," kata Aa Gym.

Atas dua persoalan tersebut, tambah Aa, membuat ia merenung apa yang salah dengan politik dan poligami. Bagi Aa yang salah bukan politiknya namun orangnya. Menurut Aa, apa jadinya politik jika orang-orang yang baik justru menghindar dari politik.

Padahal banyak sekali produk hukum yang mengatur masyarakat justru dihasilkan dan dirumuskan oleh orang-orang politik. Aa Gym mencontoh begiu sulitnya penyusunan RUU Pornografi akibat tarik menarik kepentingan. Padahal pornografi tersebut, jelas-jelas sesuatu yang merusak akhlak.

Sementara mengenai poligami, Aa menilai saat ini banyak sekali masyarakat Indonesia yang memandang poligami sebagai sesuatu yang buruk, yang dicaci maki.

"Tapi bisa dimaklumi siapa sih wanita yang mau dipoligami, bagi laki-laki mungkin ringan bicaranya tapi bagi wanita ini luka yang amat dalam, tapi bagi sebagian kecil wanita yang telah memahami itu bisa," kata Aa Gym.

Aa Gym mengakui bahwa banyak ibu-ibu yang takut sekali dengan poligami karena khawatir akan menimpa dirinya.

"Tidak mau bukan berarti kesalahan, tetapi jangan sampai menyalahkan hukum Allah, itu bukan sesuatu yang dibenarkan, " kata Aa Gym dengan hati-hati.

Untuk itu Aa Gym mengingatkan agar: pertama berhati-hati dalam menilai hukum Allah. Kedua juga berhati-hati dalam menilai orang karena kebutuhan keluarga itu unik. "Karena kita tak bisa menilai keluarga orang lain," kata Aa Gym.

Aa Gym memberikan contoh untuk beberapa agama seperti Kristen maupun Protestan, kenapa ada Pendeta yang tidak menikah. Hal itu karena berdasarkan ketentuan agamanya dan keyakinannya. Begitu pun dengan agama Islam (dibolehkannya poligami).

"Jadi kelihatannya harus ada upaya-upaya bersama antara perasaan dan keyakinan sehingga semuanya proporsional dalam mengomentari," kata Aa.

Dalam penjelasan yang sempat terputus telepon internasional sampai dua kali tersebut, Aa dengan hati-hati menerangkan persoalan poligami ini. Menurutnya, apa yang terjadi saat ini khususnya dengan banyaknya SMS yang diterimanya yang bernada keras dan marah, dianggapnya sebagai sebuah imunisasi.

"Ini seperti diimunisasi. Oh giti toh kalau dicaci maki, tapi itu semua karena sayang. Semua manusiawi," kata Aa.

Aa mengaku tidak akan bersembunyi dari persoalan ini dan tetap akan bertanggungjawab. Aa juga mengaku atas tindakan poligaminya ini ia mendapatkan puluhan sms yang bernada keras dan marah.

Namun tambah Aa dengan penjelasannya kali ini semoga bisa dinilai secara proporsional. Dan Aa juga berjanji suatu saat akan menjelaskannya secara lebih detail.

"Dengan episode ini ada yang menganggap Aa tak tepat jadi panutan lagi semoga bisa mencari dan menemukan panutan. Aa mohon maaf sekali jika ada hal yang tak berkenan," kata Aa Gym.

*****

Beberapa bulan sebelumnya, memang sempat beredar di kalangan terbatas bahwa Aa Gym telah menikahi Alfarini Eridani, seorang mantan model, janda dengan tiga anak yang berusia 37 tahun. Namun, saat itu Aa Gym belum bersedia untuk mengabarkan ke khalayak umum tentang hal itu.

Setelah isu itu santer terdengar di masyarakat, Aa Gym pun mengakui adanya pernikahan tersebut melalui isteri pertamanya Ninih Mutmainnah atau yang biasa disapa Teh Ninih. "Ternyata setelah Aa Gym menikah...luar biasa, tidak seperti yang selama ini ditakutkan orang," kata Teh Ninih isteri pertama Aa Gym melalui telepon dari Kuala Lumpur Malaysia yang disiarkan langsung dalam acara Managemen Qalbu pagi di beberapa radio di Jakarta.

Pada kesempatan tersebut, Teh Ninih juga mengakui telah menerima banyak sekali SMS yang isinya sebagian besar mendoakannya, agar sebagai isteri bisa bersikap ikhlas atas perkawinan kedua Aa Gym.

"Ternyata berat (soal poligami), ini perjuangan untuk jadi poligami, itu yang dirasakan sejak lima tahun lalu, dan kemudian ternyata itu terjadi," kata Teh Nini diselingi tawa kecil.

Teh Ninih mengaku dirinya merasa seperti tak sengaja atau lebih tepatnya Allah telah mengarahkannya. "Kalau memang Allah menghendaki pasti terjadi. Saya takut nanti menyalahkan hukum Allah," kata Teh Ninih.

Selama lima tahun berproses, tambah Teh Ninih, suaminya dengan bijaksana selalu memberikan kebijakan mengenai soal poligami ini. "Menyadari bahwa menghadapi ini tidak mudah. Dan terima kasih dengan para pendengar yang telah mendoakan Teh Nini untuk tetap ikhlas," sambungnya.

Dalam penjelasan yang berlangsung hampir satu jam selepas shalat Subuh hingga pukul 06.00 WIB tersebut, Aa Gym sebelumnya menjelaskan posisinya atas persoalan poligami ini. "Kalau dengan episode ini ada pendengar yang menganggap Aa Gym tidak tepat jadi panutan, semoga bisa mencari dan mendapatkan panutan yang tepat. Aa mohon maaf sekali jika ada hal yang tak berkenan," kata AA Gym menutup acara MQ Pagi.

Untuk menegaskan kembali pernyataannya, Aa Gym dan Teh Ninih menggelar jumpa pers di kantor Daarut Tauhiid di bilangan Cipaku, Jakarta Selatan.

“Saya perihatin karena poligami sering dianggap sebagai sesuatu yang tidak benar, dzalim, sehingga pelakunya sering menjadi bahan cemoohan dan dijadikan contoh yang buruk. Padahal, keyakinan saya, poligami itu dalam Islam dibolehkan dengan syarat-syarat tertentu. Pada saat yang sama, di sekitar kita lihat dengan nyata bahwa perbuatan yang tidak senonoh, pergaulan yang tidak sesuai dengan aturan agama, TTM, itu dianggap lumrah. Kenapa jadi berbalik seperti ini?” kata Aa Gym dalam jumpa pers.

Keputusan yang diambil Aa Gym bukanlah tanpa pertimbangan matang. Selama lima tahun lalu, Aa Gym dan Teh Ninih telah bergulat dengan wacana poligami, hingga akhirnya Aa Gym mengambil keputusan tersebut. Waktu itu Aa Gym mengaku mengajukan tiga calon kepada isteri saya: gadis, janda belum punya anak, dan janda yang telah memiliki anak.

Setelah melakukan diskusi cukup panjang dengan sejumlah pihak, termasuk ulama sebelum memutuskan untuk menikah lagi, akhirnya langkah poligami pun diambil Aa Gym.

Menurut KH. Miftah Faridh, Ketua MUI Kota Bandung yang merupakan salah satu dari sedikit orang yang menghadiri pernikahan kedua Aa Gym dengan Rini, sejak dua hingga tiga bulan lalu, Aa Gym melakukan diskusi dengan dirinya terkait kabar yang merebak belakangan ini. Hal tersebut dilakukannya cukup intens. Tak hanya melibatkan keduanya, diskusi juga dihadiri oleh istri Aa, Teh Ninih. Mereka berdiskusi soal poligami.

Sebelum dipublikasikan, diputuskan terlebih dahulu momen yang tepat. Jika kemudian kabar ini menjadi hangat di masyarakat, dia menyerahkan sepenuhnya persoalan tersebut kepada Aa Gym.

Dalam diskusi tersebut, sempat muncul anggapan bahwa poligami sering kurang dipahami sehingga mendapat tanggapan kurang menyenangkan dari khalayak. Meski demikian disepakati, bukan ajarannya yang harus disalahkan tapi lebih kepada praktik yang tidak sesuai terutama lebih sering didasarkan untuk pemenuhan nafsu. Padahal di sisi lain, poligami bisa dijadikan sebagai sebuah solusi sosial.

Seperti dituturkan KH. Miftah, Aa memutuskan berdasarkan pertimbangan idealisme, dengan demikian lebih kepada ajaran. Miftah sendiri mempersilakannya Aa untuk memilih. "Jika kemudian mendapatkan reaksi seperti sekarang, saya kira Aa harus bisa membuktikannya. Bahwa langkah yang diambilnya merupakan sebuah solusi," tandasnya.

Pernikahan Aa Gym dengan Rini memang dihadiri kalangan terbatas. Tak lebih dari 8-10 orang. Prosesinya pun berlangsung sederhana dan relatif tidak lama. Apakah dilakukan secara agama, Kiai Miftah menyatakan bahwa pernikahan itu dicatat.

Di antara salah seorang kerabat dan sahabat Aa Gym yang tidak turut dalam proses pernikahan tersebut adalah KH. Muchtar Cholid. Meski demikian, KH. Muchtar kini sibuk menenangkan reaksi jamaahnya atas pernikahan Aa Gym. KH. Muchtar dan Aa Gym adalah dua sahabat yang saling bahu membahu membangun pesantren masing-masing. Mereka sering berdiskusi bagaimana memajukan Islam. “Aa Gym itu fenomenal. Beliau salah satu ustadz yang dapat menerjemahkan Islam dalam bentuk bisnis, kepemimpinan dan manajemen. Kalau saja beliau tidak menikah lagi langkah meuju RI I (Presiden –pen) bukan tidak mungkin akan mulus,” papar KH. Muchtar.

Kendati tidak memberi tahu terlebuh dulu, KH. Muchtar sudah menangkap gelagatnya dari beberapa bulan silam. “Jadi Aa itu sering menyinggung dan menanyakan kepada saya, “Kapan mau nambah istri lagi?” karena saya anggap bercanda saya jawab dengan nada bercanda. Tapi rupanya beliau sudah berniat untuk beristri lagi,” tutur KH. Muchtar.



Menguji kesabaran

Keingintahuan publik atas sikap yang diambil Aa Gym memang sangat beralasan. Sebagai tokoh utama yang menjadi sorotan, Aa Gym pun memahami betul reaksi masyarakat tersebut. Meski demikian, seolah bosan dengan berita yang melulu soal dirinya, Aa Gym mengajak masyarakat untuk dapat mengambil hikmah dari peristiwa ini. Hal tersebut diungkapkan Aa Gym dalam ceramahnya di sebuah stasiun televisi swasta, 10 Desember lalu.

“Kepada masyarakat Indonesia, satu minggu sudah negeri ini tersibukkan oleh sebuah berita. Saya berharap sudah waktunya kita mengerjakan hal lain, yang lebih penting daripada sekadar membahas perbedaan.”

Dengan gayanya yang khas, Aa Gym menganalogikan reaksi masyarakat tersebut dengan contoh lain. Menurutnya, reaksi masyarakat seperti ini ibarat memancing ikan di sungai. Jika airnya bening, maka ikannya akan dapat. Kalau airnya keruh ikan pun tak nampak. ”Kalau sedang kaget, mungkin hikmah belum terlihat. Saya berharap, kalau sudah reda, kita bersempat diri untuk bertafakur. Mungkin banyak ilmu, hikmah, dari gonjang-ganjing ini. Bagi para pendakwah bisa melihat hikmahnya apa buah dakwah. Bagi kaum ibu, kaum bapak, mudah-mudahan kalau sudah jernih ada pelajaran yang bisa diambil.”

Bagi siapapun yang kecewa, Aa Gym berharap agar masyarakat meningkatkan semangat belajar, sehingga setiap kekecewaan mampu dijawab dengan mencari ilmu untuk mendapatkan kebenaran. Dengan peristiwa tersebut, Aa Gym juga berharap agar setiap perbedaan pendapat bisa disikapi dengan jernih.

”Ibu setuju, ibu tidak risau, bu? Karena saya tidak menjadi penganjur ’lebih dari satu’. Bagaimana mau lebih dari satu, kalau yang satu saja tidak terurus. Tidak jadi penganjur, tetapi yang ada buatlah sakinah. Karena tanggung jawab bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat. Dan mudah-mudahan masyarakat bisa membedakan, mana yang namanya zina, mana yang namanya menikah. Jangan sampai yang halal dijadikan penjahat, yang zina jadi pahlawan. Na’udzubillahi min dzalik.”

Dalam kesempatan tersebut, Aa Gym juga memjawab pertanyaan publik tentang sikapnya yang dianggap telah menyakiti hati Teh Ninih. ”Alhamdulillah, saya sama sekali tidak menyuruh dan melarang isteri saya untuk melakukan tindakan kecuali yang sesuai dengan yang diyakininya. Karena tidak boleh kita memaksa seorang wanita, walaupun itu isteri kita. Insya Allah, mudah-mudahan hikmahnya bisa membuat kita merasakan nikmatnya ibadah kepada Allah Swt.”

Peristiwa ini, menurutnya merupakan ujian bagi dirinya, Teh Ninih, serta keluarganya. Dan untuk keluar dari ujian tersebut, tidak ada cara lain kecuali meyerahkan segala sesuatunya kepada Allah dan tetap bersabar. Ibarat orang yang ingin naik tingkat, maka ia harus melalui ujian. Semua yang punya cita-cita lebih tinggi harus siap dengan ujian. Dan setiap ujian memerlukan pengorbanan: waktu, tenaga, pikiran. Semua itu butuh kesabaran. Sabar itulah yang membuat orang menjadi tampak indah.



Teh Rini istri kedua Aa Gym

“Siapa sih sosok yang mampu menggetarkan hati Aa Gym?” pertanyaan ini muncul dari benak masyarakat yang terus mengikuti perkembangan berita seputar pernikahan kedua Aa Gym. Setelah tampil bertiga, bersama Aa Gym dan Teh Ninih, istri pertama Aa Gym di depan media untuk pertama kalinya pada Senin, 4 Desember lalu di Pesantren Daarut Tauhiid, jebolan Universitas Airlangga Surabaya, jurusan Fisipol ini, tak terlihat lagi.

Rumah milik ayah Aa Gym di jalan Pak Gatot VI, RT 02/02 KPAD, Bandung, yang terletak tepat di belakang pesantren Daarut Tauhiid yang kini didiami Rini selalu tertutup. Hanya seorang penjaga yang selalu mondar-mandir di sekitar rumah. Masyarakat yang ingin tahu dan mendatangi tempat tersebut, kadang melihat ada aktifitas di tempat itu, sejurus kemudian sepi seolah tidak berpenghuni.

Teteh Rini mulai menempati rumah itu sekitar tiga bulan silam. Sebelumya rumah itu dihuni anak-anak yatim piatu. Kadang juga dihuni para pengunjung yang melakukan pelatihan di Daarut Tauhiid.

“Ibu Rini ini lulusan Universitas Airlangga, IPK 3,6. Ibu Rini cerdas, karena ada hubungan darah dengan Pak Habibie (mantan Presiden RI),” kata Aa Gym saat mengenalkan Teh Rini kepada para karyawan Manajemen Qolbu Coorporation. Kecerdasan Teh Rini, tampaknya, menjadi salah satu penyebab ketertarikan Aa Gym terhadapnya.

Teteh Rini adalah salah satu kemenakan dari istri mantan Presiden BJ Habibie. Tahun 1987 saat usia Rini menginjak 20 tahun, Rini terjun di bidang model lewat Jimmie Enterprise. Setelah itu ia melanjutkan kuliah di Fakultas Ilmu Politik di Universitas Airlangga. Sejumlah media massa menginformasikan, konon suami pertamanya adalah Wakapolda Nanggroe Aceh Darussalam. Dari pernikahan itu ia dikaruniai dua orang anak. Setelah bercerai, Teh Rini menikah lagi dengan seorang pengusaha dan dikaruniai satu orang anak.

Beberapa tahun silam, Teh Rini menjadi salah satu murid Aa Gym yang sering mendengarkan ceramah-ceramah Aa Gym. Bahkan, Teh Rini merupakan salah satu murid yang selalu duduk di barisan paling depan jika Aa memberikan ceramah. Meski demikian, Aa tak pernah tahu dengan sosok Teh Rini. “Soalnya saya selalu menundukkan pandangan,” ujar Aa.

Perkenalan terjadi ketika pada 2005, Teh Rini menjadi salah satu anggota rombongan umrah Daarut Tauhiid. Beberapa bulan setelah umrah, Teh Rini mengikuti pengajian di Gegerkalong Girang. Ketika itulah ia ditawari kerja di Daarut Tauhiid oleh Abdurrahman Yuri, adik kandung Aa Gym yang menjabat sebagai direktur MQ Coorporation.

Seperti karyawan lainnya yang bekerja di tempat itu, Teh Rini pun tak pernah ketinggalan mengikuti kegiatan ibadah yang dilakukan secara berjamaah. Begitu juga frekuensi pertemuan dengan Aa Gym menjadi lebih besar. Melihat ibadah Teh Rini yang sangat rajin ditambah kondisi ibu Teh Rini yang menderita stroke dan ayahnya sudah tua, lalu Aa Gym memutuskan untuk menikahi Rini. Pernikahan terjadi pada bulan Ramadhan di Kota Bandung.

Teh Rini yang lahir pada 4 Desember 1969 tersebut saat ini tengah menekuni ilmu Alquran. Ia berharap kelak menjadi seorang hafidzah, penghafal Alquran.



Teh Ninih Puji Madu

Setelah kabar santer tersebut mulai mereda, Aa Gym dan Teh Ninih mulai terbiasa muncul di muka publik. Demikian pula dengan komentar-komentar keduanya menanggapi fenomena itu.

Teh Ninih mulai terbuka dengan sikap dan perasaannya kepada jamaah pengajian. Meskipun merasakan sakit hati, isteri pertama Aa Gym ini memuji madunya. "Gimana enggak sedih, mana madunya cantik. Melebihi dari saya dari segi fisik," kata Teh Ninih dengan suara pelan, saat mendampingi sang suami berceramah di Masjid Raya Batam Center, Selasa malam.

Teh Ninih kemudian menceritakan pertemuan pertama dengan Alfarini Eridani, perempuan yang mencuri hati suaminya. "Hati enggak mau ketemu, tapi harus ketemu, gimana? Ya sudahlah bertemu saja," ceritanya dalam logat Sunda yang kental.

Menurutnya, pertemuan pertamanya dengan perempuan beranak tiga itu cenderung kaku. Tak banyak yang dapat dilakukan Teteh, selain tersenyum. "Setelah ketemu juga garing, paling senyum saja. Enggak nyubit atau mukul," katanya disambut tawa jemaah.

Di hadapan ratusan ibu yang menyesalkan keiklasannya dimadu, ia menceritakan saat-saat ia ditinggal sang suami yang mengunjungi isteri kedua. "Rasanya panas, kalau Aa lagi di sana. Huhh... ," kata cucu kiai kenamaan Mohamad Tasdiqin itu.

Menurut ibu Ghaida Tsuraya, Muhammad Ghazi Al-Ghifari, Ghina Raudhatul Jannah, Ghaitsa Zahira Shofa, Ghefira Nur Fatimah, Ghaza Muhammad Al-Ghazali, dan Gheriya Rahima itu cemburu merupakan kewajaran, sebagai tanda cinta kepada suami. Ia mencontohkan Aisyah, isteri Rasulullah Saw., saja cemburu apabila sang suami sedang bersama isterinya yang lain.

Sebelum merebaknya berita poligami yang dilakukannya, Aa Gym telah mendapat restu dari istrinya. Teh Ninih rela jika hal itu tujuannya untuk membahagiakan Aa. Pernyataan siap dimadu itu dilontarkan Teh Ninih saat ditanya sejumlah wartawan dan infotainment yang berkunjung ke kediaman Aa Gym di Gegerkalong Girang, Bandung, Minggu (23/10).

"Kalau soal poligami, jika itu bisa membahagiakan Aa, Teteh ikut saja. Walaupun hal itu sangat berat buat seorang wanita, tapi Teteh mengharap mendapat surga. Salah satu syarat masuk surga adalah berbakti kepada suami," ucap Teh Ninih.

Ketika itu, Teh Ninih masih percaya bahwa Aa belum akan berpoligami. "Teteh yakin Aa sangat cinta kepada Teteh dan keluarga. Saat ini mungkin tidak (berpoligami) karena belum mendesak dan darurat," ucap Teh Ninih.

Dalam sebuah ceramahnya Aa Gym mengungkapkan, "Berpoligami dalam Alquran dikaitkan dengan pemeliharaan anak yatim. Sebabnya, pada masa Rasulullah SAW, banyak lelaki yang meninggal dalam pertempuran. Mereka meninggalkan anak-anak kecil (yatim) yang membutuhkan bantuan. Agar tidak mengundang fitnah, maka diperbolehkanlah menikah dengan janda yang memiliki anak tersebut. Jadi niatnya menolong, bukan karena semata-mata hawa nafsu."

Jangan Berlebihan Dalam Memahami Masalah Poligami

Pada setiap kesempatan, ketika Aa Gym ditanya banyak pihak tentang keputusannya berpoligami, ia selalu meminta agar peristiwa ini dipandang secara proporsional. Aa Gym berharap agar masyarakat melihatnya dari sisi keilmuan, bukan berdasar pada emosional belaka.

Dalam sejarahnya, memang poligami tidak hanya disalah persepsikan oleh masyarakat saat ini saja, tetapi juga oleh masyarakat terdahulu. Di satu pihak, sebagian masyarakat terlalu berlebihan dalam memahami kebolehan poligami dalam Islam. Dan sebaliknya, ada kalangan yang berusaha menghalang-halangi terjadinya poligami dalam Islam, meski tidak sampai menolak syariatnya.

a. Pihak yang membolehkan poligami

Sebagian orang yang memandang dibolehkannya poligami, kadang melihatnya sebagai sesuatu yang berlebihan. Menurut kalangan ini, poligami adalah perkara yang sangat utama untuk dikerjakan bahkan merupakan sunnah muakkadah dan pola hidup Rasulullah Saw. Mereka selalu mendengungkan poligami hingga seolah-olah hampir mendekati wajib.

Kalangan ini tentu memiliki pemahaman keliru, apalagi sering menggunakan ayat poligami yang memang bunyinya seolah-olah seperti mendahulukan poligami dan bila tidak mampu, barulah beristri satu saja. Istilahnya, poligami dulu, kalau tidak mampu, baru satu saja.

Firman Allah Swt: “Maka kawinilah wanita-wanita yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya,” (QS. An-Nisa: 3).

Ayat tersebut, sebenarnya sama sekali tidak bermakna demikian. Karena meski sepintas ayat itu kelihatan mendahulukan poligami lebih dahulu, tapi dalam kenyataan hukum hasil dari istinbath para ulama dengan membandingkannya dengan dalil-dalil lainnya menunjukan bahwa poligami merupakan jalan keluar atau rukhshah (bentuk keringanan) atas sebuah kebutuhan. Bukan menempati posisi utama dalam masalah pernikahan.

Alasan agar tidak jatuh ke dalam zina adalah alasan yang ma`qul (logis) dan sangat bisa diterima. Karena Allah Swt. memang memerintahkan agar seorang mukmin menjaga kemaluannya. Allah Swt. berfirman: “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,” (QS. Al-Mukminun: 5).

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat," (QS. An-Nur: 30).

Bila satu isteri saja masih belum bisa menahan gejolak syahwatnya, sementara secara nafkah dia mampu berbuat adil, bolehlah seseorang untuk menikah lagi dengan niat menjaga agamanya. Bukan sekedar memuaskan nafsu syahwat saja.

Bentuk kekeliruan yang lain adalah rasa terlalu optimis atas kemampuan menanggung beban nafkah. Padahal Islam tetap menutut kita berlaku logis dan penuh perhitungan. Memang rezeki itu Allah Swt. yang memberi, tapi rezeki itu tidak datang begitu saja.

Bahkan untuk orang yang baru pertama kali menikah pun, Rasulullah Saw. mensyaratkan harus punya kemampuan finansial. Dan bila belum mampu, maka hendaknya berpuasa saja.



b. Pihak yang Mencegah Poligami

Sebagian masyarakat, ada juga yang menentang poligami atau paling tidak kurang bersimpati terhadap poligami. Mereka pun sibuk membolak balik ayat Alquran dan Sunnah Rasulullah Saw. untuk mencari dalih yang bisa melarang atau minimal memberatkan jalan menuju poligami. Misalnya dengan mengikat seorang suami untuk janji tidak menikah lagi ketika melangsungkan pernikahan pertamanya. Janji itu diqiyaskan dengan sighat ta'liq yang bila dilanggar maka isterinya diceraikan.

Menanggapi hal ini, para ulama berbeda pendapat tentang syarat tidak boleh melakukan poligami bagi suami yang diajukan oleh isterinya pada saat aqad nikah. Apakah pensyaratan tersebut dibolehkan atau tidak?

Sebagian ulama menyatakan bahwa pensyaratan tersebut diperbolehkan, sedangkan yang lain berpendapat hal tersebut dimakruhkan tetapi tidak haram. Karena dengan adanya pensyaratan tersebut maka suami akan merasa terbelenggu yang pada akhirnya akan menimbulakn hubungan yang kurang harmonis di antara keduanya.

Bentuk lainnya dari upaya menelikung poligami dalam Islam, dikatakan bahwa Rasulullah Saw. tidak pernah melakukan poligami kecuali hanya kepada janda saja. Tidak pernah kepada wanita yang perawan. Memang ketika menikahi Aisyah ra, status Rasulullah Saw. adalah seorang duda yang ditinggal mati isterinya.

Dalam menjawab masalah ini, sebenarnya syarat harus menikahi wanita yang berstatus janda bukanlah syarat untuk poligami. Meski Rasulullah Saw. memang lebih banyak menikahi janda ketimbang yang masih gadis. Namun hal itu terpulang kepada pertimbangan teknis di masa itu yang umumnya untuk memuliakan para wanita atau mengambil hati tokoh di belakang wanita itu. Pertimbangan ini tidak menjadi syarat untuk poligami secara baku dalam syariat Islam.

Sebagian kalangan juga ingin menghalangi poligami dengan dasar bahwa syarat berlaku adil dalam Alquran adalah sesuatu yang tidak mungkin bisa dilakukan. Dengan demikian, maka poligami dilarang dalam Islam.

Padahal, meski ada ayat yang demikian, yang dimaksud dengan "keadilan tidak dapat dilakukan" adalah keadilan yang bersifat menyeluruh baik materi maupun ruhiyah. Sementara keadilan yang dituntut dalam sebuah poligami hanya sebatas keadilan secara sesuatu yang bisa diukur dan lebih bersifat materi. Sedangkan masalah cinta dalam dada, sangat sulit untuk diidentifikasi. Namun demikian, Rasulullah Saw. mengancam orang yang berlaku tidak adil kepada isterinya dengan ancaman berat.

(Sumber: Buku "Tak Ingin Poligami Tapi Harus Poligami", Imam Fathurrohman)

Baca Selanjutnya......

(3) Perawan Atau Janda Tidak Penting

Praktek poligami yang dilakukan memiliki beragam alasan yang berbeda. Setiap individu yang terlibat di dalamnya pun mengalami beragam kisah dalam menelusuri kehidupan. Getir-getir dalam poligami adalah hal biasa yang juga pasti terjadi pada keluarga dengan monogami.

Dari sekian banyak alasan, muncul pernyataan dari sejumlah pelaku poligami bahwa mereka tidaklah mencari kepuasan seks, melainkan mewujudkan keluarga besar yang sakinah. Namun, ada juga yang blak-blakan bahwa dengan berpoligami, hasrat libidonya yang menggebu dapat disalurkan dengan cara yang baik, lurus, karena mengikuti syariat. Beberapa contoh kisah poligami penulis ambil dari GATRA, Nomor 23 yang beredar Senin 21 April 2003 dan beberapa portal berita lainnya.

Tak Hanya Melepas Hasrat Seks

Bicara poligami, tak mungkin melepaskan nama yang satu ini. Puspo Wardoyo, juragan Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo, merupakan sosok yang sering bersuara lantang jika membicarakan masalah poligami. Menurut pengakuannya, hasrat seksualnya yang menggelora telah memaksanya mengambil empat isteri. Isteri dua atau tiga masih dirasa kurang. ''Bahaya kalau (ketika itu) saya tidak kawin lagi (dan lagi). Saya bisa berzina,'' kata pria yang selalu berpenampilan enerjik itu.

Baginya, dalam memilih isteri muda tidak bisa serampangan. Puspo memiliki syarat-syarat yang sangat ideal: berjilbab, taat beribadah, dan berakhlak bagus. Kebetulan pula semua isterinya cantik dan sarjana.

Kini, kehidupan keluarga besar yang dirancang Puspo pun berjalan lancar dengan 10 anak yang rukun dan bahagia. Puspo menamakan praktek poligami yang dilakukannya dengan sebutan ”Poligami Islami”. Istilah tersebut digunakannya untuk membedakan berpoligami yang melulu berdasarkan nafsu dengan yang berlandaskan agama Islam. Secara lahir-batin, Puspo yang berlebihan materi ini bersikap adil dan menyayangi keempat isteri dan anak-anaknya.

Jodohnya dengan isteri pertama, Rini Purwanti, bertaut di Medan, Sumatera Utara. Waktu itu, sarjana pendidikan lulusan Universitas Sebelas Maret, Solo, Jawa Tengah, ini mengajar di sekolah menengah di sana. Puspo jatuh hati pada Rini, juga seorang guru, lalu menikahinya di sana tahun 1979. Mereka kemudian membuka warung kaki lima di Bandara Polonia, Medan.

Pada 1991 keduanya merintis usaha Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo. Hanya dalam tempo beberapa tahun, cabang baru di kota yang sama mereka buka. Tahun 1996, Puspo mengawini Supiyati yang ketika itu berusia 26 tahun, karyawan restorannya. Keduanya menikah tanpa sepengetahuan isteri pertama. Kata Puspo, bukan karena Rini menolak poligami, melainkan begitulah pesannya.

”Sebagai muslimah, saya menerima kehalalan poligami. Cuma, waktu itu saya belum siap. Saya bilang, Mas Puspo kalau mau nikah (lagi) langsung saja, tak usah memberitahu saya,” tutur Rini. Ibu enam anak ini baru tahu dimadu, enam bulan kemudian. Ia sempat menangis. Tapi akhirnya berlapang dada. Malah, ia menemani suami dan madunya itu mencatatkan perkawinan ke kantor urusan agama.

Ketika Supiyati memberinya seorang anak, setahun kemudian Puspo menikah lagi. Ia berjodoh dengan Anisa Nasution, 24 tahun, juga karyawan restorannya di Medan. ”Saya pilih Mas Puspo karena akhlaknya baik dan keluarganya rukun,” kata Anisa.

Seiring dengan restoran ayam bakarnya yang berkembang menjadi empat cabang, Puspo bertambah yakin bahwa setiap perkawinannya membawa rezeki. Dan pada 1999, ia mengawini isteri keempat, Intan Ratih yang dipilih isteri keduanya. Kali inipun isterinya keempat adalah karyawan restorannya, cabang Semarang, Jawa Tengah. Dari isteri ketiga dan keempat, Puspo memperoleh masing-masing satu dan dua anak. Jumlah anaknya kini 10. Restorannya pun beranak-pinak menjadi 26 cabang di kota-kota besar.

Keempat isteri Puspo tidak tinggal serumah. Isteri pertama dan kedua menetap di Medan. Isteri ketiga di Bumi Serpong Damai, Tangerang, Banten. Sementara isteri keempat di Puri Bintaro, Tangerang. Keemapatnya berlimpah materi dari sang suami. Mereka tidak terlibat dalam bisnis restoran, cuma mengawasi standar bumbu masakan.

Dalam setiap kesempatan, Puspo berusaha bersikap adil, termasuk soal pembagian waktu kunjungan. Sepuluh hari di Medan, 10 hari di Tangerang. Sesekali keempat isterinya diajak kumpul bersama mempererat silaturahmi. Kadang ramai-ramai dibawa dalam seminar poligami. Keempat isterinya bertambah akrab dengan sejumlah jurus yang digunakan Puspo. Ia pun tak keberatan jika suatu saat nanti anaknya dipoligami orang.


Perawan Tak Penting

Impian memiliki keluarga besar yang sakinah tak hanya milik Puspo Wardoyo. Mohamad Rizal Chatib, Direktur Grup Rufaqa --holding dari PT Hawariyun-- ini juga punya impian yang sama dengan keempat isterinya. Semuanya rukun dan patuh pada sang suami.

Menurut Rizal Chatib, apa yang dilakukannya merupakan jodoh yang tak bisa dihindari. Bukan sekadar seks. ”Bukan saya yang merancang. Kalau bukan jodoh, ya, tak jadi,” katanya.

Rizal juga tidak mensyaratkan macam-macam pada jodohnya. Isteri keempatnya, Andi Suaibah, misalnya, adalah janda dengan seorang anak. Suaibah dinikahi Rizal pada 2001 atas prakarsa isteri sejawatnya.

Suaibah yang menetap di Jakarta, bahagia menjadi isteri keempat. Ia melihat poligami tidak merendahkan wanita. Malah menguntungkan. Sebab, adakalanya bisa terbebas dari tugas keseharian melayani suami dan anak.

Rizal pertama kali menikah pada 1986. Dia meminang Sufiah, asal Bukittinggi, Sumatera Barat. Perkawinan ini dikaruniai lima anak. Sepuluh tahun berselang, Rizal menikahi Athirah, wanita Aceh, yang memberinya seorang keturunan. Tahun 1999, ia memperisteri Kamariah, perempuan asal Malaysia, yang memberinya seorang anak. Ketiga isterinya ini menetap di Pekanbaru, Riau. Mereka mengelola boarding school milik Grup Rufaqa.


Tinggal Seatap

Sejawat Rizal di Rufaqa, Dr. Abdurahman Riesdam Efendi, juga sukses berpoligami. Wakil Presiden Grup Rufaqa itu punya empat isteri, dan memperoleh empat anak. Ia menikahi Dr. Gina Puspita, teman kuliah di ITB, sebagai isteri pertama. Mereka dikarunia tiga anak. Tahun 1995, ia kawin dengan Basyiroh Cut Mutia yang memberinya seorang anak. Enam tahun berselang, ia kawin lagi dengan Siti Salwa asal Malaysia dan kemudian menikah lagi dengan Fatimah.

Ketiga isteri mudanya ini merupakan pilihan isteri pertama. Mereka rukun dan bahagia. Kebetulan mereka bekerja di kantor yang sama. Malah mereka menetap serumah, di Taman Rempoa Indah, Ciputat, Tangerang. ”Kalau suami sedang bersama isteri yang lain, kami bertiga ngobrol-ngobrol di satu kamar,” tutur Gina. Bila berada di luar kota, mereka bertukar pesan lewat SMS. Pokoknya, akrab. ”Poligami yang didasarkan pada Allah SWT tidak akan menimbulkan masalah,” Gina menambahkan.

Wapres Hamzah Haz Juga Berpoligami

Dari kalangan pejabat negara, nama mantan wakil presiden RI Hamzah Haz menjadi sorotan publik. Hamzah diketahui punya tiga isteri yang hidup rukun dan damai. Paling tidak, itu diakui isteri ketiganya, Soraya Smith, yang bersikap cukup terbuka. ”Hubungan kami (sesama isteri) baik-baik saja. Demi Allah, mereka sangat baik. Benar-benar tidak ada problem,” kata Soraya, seperti yang diberitakan GATRA.

Isteri pertama Hamzah bernama Asmaniah, kelahiran Pontianak, Kalimantan Barat, 27 Juli 1942. Dia menetap di Jalan Tegalan, Jakarta Timur, rumah yang dihuni Hamzah sejak 1982. Isteri kedua, Titin Kartini, kelahiran 4 Mei 1946, tinggal di Bogor, Jawa Barat. Dari kedua isteri ini, Hamzah memperoleh 12 anak, sembilan di antaranya dari isteri pertama.

Isteri ketiga, Soraya Smith, kelahiran Lampung, 17 Oktober 1963. Soraya dan Hamzah menikah sebelum Hamzah menjabat wapres. Hamzah tadinya pasien Soraya, yang sudah lama membuka semacam klinik pengobatan alternatif. Si pasien yang menderita sakit di ulu hati ternyata punya masalah dengan terapi sentuh sang ”tabib” yang tujuh tahun menjanda itu. Ia tak bersedia disenggol perempuan bukan muhrim. Sebagai jalan keluar, mereka harus menikah.

”Pak Hamzah baik sekali. Saya yang memintanya menjadi muhrim saya, dan Bapak (Hamzah) bersedia,” tutur Soraya. ''Saya bercita-cita punya suami ketiga sekaligus isteri ketiganya. Saya berdoa, mudah-mudahan mendapat jodoh. Alhamdulillah, tercapai juga,” ia menambahkan.

Soraya yang juga merupakan pengusaha di banyak bidang --antara lain garmen, marmer, dan hasil bumi-- ini menuturkan, Hamzah berusaha membagi waktu untuk isteri-isterinya secara adil. Minggu pertama full untuk isteri pertama. Minggu kedua, Sabtu dan Minggu, bersama isteri kedua. Pada minggu ketiga, juga Sabtu dan Minggu, giliran kumpul dengan isteri ketiga.

Soraya mengatakan dirinya tidaklah memikirkan seks saja. Ia bahagia dengan kondisi seperti itu. Apalagi, katanya, sang suami sering berucap, ”Aku paling bahagia punya isteri patuh-patuh padaku.” Kata Soraya, ”Kebahagiaan dan kasih sayang itu nomor satu, bukan nafsu. Kuncinya: anak, ibadah, dan kuat menerima takdir. Dinikmati saja hidup ini.”

Bahagia di Hari Tua

Debby Nasution agaknya juga berprinsip seperti Hamzah Haz dan Rizal: janda pun tak mengapa, yang penting jodoh. Debby, pemusik dan mubalig, menjadikan Sitoresmi sebagai isteri keempatnya, pada 1996. Sito yang sudah dua kali menjanda, mula-mula menjadi janda budayawan W.S. Rendra, pada 1979. Ketika itu, ia menjadi isteri kedua Rendra (dari tiga isteri).

Sepuluh tahun berselang, ia menikah dengan Sjukri Fadholi, seorang ulama. Perkawinan kedua ini pun kandas pada 1996. Tak lama setelah masa ’idah rampung, ia tak keberatan dilamar Debby Nasution --dua isterinya telah meninggal. Perempuan bernama lengkap Hajah Raden Ayu Sitoresmi Prabudiningrat itu mengaku amat bahagia di hari tuanya. Ia termasuk orang yang lantang mendukung poligami. ”Saya siap kalau Bang Debby menikah lagi,” kata perempuan selalu terlihat cantik ini.


Poligami ''Irit''

KH. Noer Muhammad Iskandar, SQ, termasuk penganut poligami ''irit''. Pengasuh Pondok Pesantren Asshidiqiyah itu baru punya dua isteri: Nur Jazilah dan Khusnul Khotimah. Hidup berpoligami dilakoninya sejak 1993. Atas anjuran isteri pertama yang merasa tidak mampu menjalankan fungsinya sebagai isteri secara sempurna, ia menikahi Khusnul, janda berusia 27 tahun. Tentu atas dukungan empat anaknya, serta keluarga isteri pertama.

”Dengan bismillah, semuanya dilalui dengan lancar,” kata mantan anggota Fraksi Kebangkitan Bangsa DPR-RI itu. Ia merasa happy. Khusnul Khotimah diberi jabatan sebagai pengasuh 2.000-an santri di Pesantren Asshidiqiyah Batuceper, Tangerang. Nur Jazilah menjadi pengasuh 1.500-an santri di Pesantren Asshidiqiyah Pusat di Kedoya, Jakarta Barat. Mereka mendapat materi cukup dari suami. Keduanya diberi rumah dan mobil.

Soal membagi waktu? Noer Iskandar berusaha seadil-adilnya. Pada pribadi kedua isterinya, ia menanamkan pengertian bahwa membagi kasih adalah ibadah dunia-akhirat, sehingga tidak ada keinginan monopoli di satu pihak. Kiai kondang itu menyediakan waktu tiga hari berselang kepada kedua isterinya. Uniknya, bila ia lupa jadwal kumpul, kedua isterinya bergantian mengingatkannya. Untuk lebih mempererat silaturahim, setidaknya dua bulan sekali kedua isterinya dipertemukan dalam rapat di yayasan. Walhasil, kedua isteri itu rukun dan akrab.

Poligami Butuh Keberanian

Dalam benak Kiwil, berpoligami atau beristeri lebih dari satu membutuhkan keberanian. “Yang penting keberanian,” kata Kiwil saat menanggapi wartawan yang menanyakan kemungkinan dibentuknya trio poligami beranggotakan dirinya, Parto, dan Akri, yang sama-sama berpoligami.

Menurut Kiwil, wanita adalah ciptaan Tuhan yang harus disyukuri kehadirannya sebagai pendamping pria. Karena itu, ia bersyukur mendapat isteri lebih dari satu. Pelawak yang mengaku memulai karier sebagai tukang pisang bakar di kantor rumah produksi E-Komando milik Eko "Patrio" itu juga menyatakan, seorang pria harus memiliki dua hal pokok lainnya sebelum memutuskan berpoligami, selain keberanian. "Harus cerdas dan memiliki kemampuan (memberi nafkah lahir dan batin, Red)," ujar suami Rohimah (isteri pertama) dan Meggy Wulandari (kedua) tersebut.

Jangan melakukan jika tak tahu ilmunya

Waktu pertama melakukan poligami, yang terbesit dalam benak Qomar, dai dan pelawak, adalah ingin mengembangkan keturunan. Namun apa yang terjadi, setelah poligami berjalan, isteri tuanya menggugat cerai.

Hubungan antara isteri pertamanya, Dwi Kurnia Wulyadi dengan Nenden Garnika pun memburuk. Namun petualangan poligami Qomar tak berhenti sampai di situ saja. Pemilik nama lengkap Drs. H. Nurul Qomar ini tetap meneruskan aksi poligaminya. Bahkan Qomar menikah sebanyak empat kali. Namun akhirnya pengalaman menyadarkannya bahwa poligami membutuhkan syarat-syarat ketat.

“Jangan pernah melakukan poligami kalau nggak tahu ilmunya. Harus tahu syarat-syaratnya. Antara lain harus bersikap adil, mampu secara emosional, finansial, intelektual, dan spiritual,” ucap Qomar.

Saat pertama melakukan poligami, Qomar mengaku sangat susah untuk membagi waktu dengan isteri-isterinya. Aksi protes dan saling cemburu pun menjadi menu sehari-harinya. “Wah, ribet banget. Apalagi saya belum mapan dan menguasai ilmu poligami. Sekarang sih sudah membaik. Saling silaturrahim, saling telepon-teleponan juga,” bebernya.

Balasannya di Surga

Anny Muryadi mengaku tak pernah menyesal dengan keputusannya untuk menikahi Farhat Abbas yang sudah beristeri. Anny menikah dengan Farhat pada 19 Mei 2005, kemudian bercerai lantaran Nia Daniati menolak dipoligami. Farhat lantas menceraikan Anny lewat telepon, “Perjalanan hidup ada proses, ada yang cocok ada yang tidak. Hidup ada suka ada duka,” ucapnya.

Baginya, poligami tak perlu diperdebatkan karena sudah di atur dalam Alquran. Anny menjelaskan, dari dulu tidak keberatan dengan poligami. Meski tak keberatan, namun dia menyarankan persolan itu harus dilihat secara keseluruhan.

Menurut lulusan UI tahun 1983 ini, kalau isteri keberatan suami menikah lagi, hanya ada dua pilihan: pertama dia ikhlas dengan kenyataannya bahwa suami punya isteri lagi. “Sakit memang, tapi balasannya surga,” ujarnya.

Kedua, jika keberatan lantas mengajukan perceraian, itu hak wanita. “Yang jelas, wanita tak boleh bilang anti poligami. Itu artinya menentang Alquran. Tapi kalau tidak mau dipoligami itu hak manusia. Tapi, itu kembali hak wanita bisa menerima atau tidak,” tegasnya.

“Kalau akhirnya saya ribut-ribut, karena apa? Karena kita jadi korban. Saya, Lala, dan Nia jadi korban. Ketika saya jadi korban, saya mundur. Karena saya tidak mau terlibat dalam masalah yang tidak ada akhirnya,” terangnya.

Anny berdalih, ia menikah dengan Farhat untuk menghindari zina. “Saya menikah dengan Farhat karena takdir Allah. Saya harus cerai itu juga karena takdir,” tambahnya.

Membagi Kasih a la Peraih Poligami Award

Tulisan yang disadur dari Jawa Pos yang bertanggal 31 Juli 2003 ini bercerita tentang kisah kasih KH. M. Thoyib Abu Hanifah dalam membagi kasih sayang dengan keempat isterinya.

Pada usianya yang uzur, 93 tahun, suara Haji Thoyib -sapaan KH M. Thoyib Abu Hanifah- masih sangat jelas didengar. Walau badannya sudah membungkuk untuk urusan jalan, Haji Thoyib tak perlu dipapah ataupun dituntun. Pandangan matanya pun masih cukup jelas.

Kegagahan dirinya semakin lengkap, karena meski usianya mendekati satu abad, Thoyib memiliki empat isteri resmi. Bahkan, kalau mau dirinci, bukan hanya 4 perempuan itu yang telah disunting veteran pejuang 45 ini. Thoyib telah menikahi 7 perempuan sejak 1945. Memang, tak semua isterinya tersebut akhirnya mau menemani dia. Sekarang hanya empat perempuan yang bersedia menemani pendiri Majelis Taklim Zawiyatul Abror di Bogor itu.

Karena "prestasinya" itulah, dia mendapat Poligami Award yang diprakarsai Puspo Wardoyo. Thoyib dianggap mampu menjaga kerukunan dan keadilan bagi isteri dan keluarganya. "Bukan saya yang nyari, mereka yang datang. Saya tanya mau, ya udah. Kalau nggak mau, ya nggak apa-apa," akunya sambil terkekeh memulai kisahnya.

Semua perempuan yang diperisteri Thoyib tidak melalui proses pacaran layaknya anak muda yang tengah jatuh cinta. Setelah berkenalan dan mau diajak menikah, Thoyib langsung meminang dan menikahi sang perempuan tersebut. "Rabu kenal, Sabtu saya nikahi. Gitu aja. Kalau pakai pacaran, nanti zina. Semuanya nggak lebih dari 3 hari, langsung saya nikahi," ungkapnya bangga.

Thoyib menuturkan, pada 1945 dia menikah dengan isteri pertamanya, Sukarti. Darinya, Thoyib dikaruniai dua anak. Pada 1950, saat dirinya kembali dari Yogyakarta, teman seperjuangan Thoyib meninggal. Temannya tersebut meninggalkan seorang isteri bernama Murni. Karena kasihan dan ingin menolong isteri temannya, dia pun menikahi Murni.

Saat itu Thoyib mengaku benar-benar berniat menolong. Tak bertepuk sebelah tangan, Murni ternyata mau dipinang. Dari pernikahan dengan Murni, Thoyib mendapatkan 8 anak.

Setelah beberapa tahun mempunyai dua isteri, Thoyib bertemu Sukaesih dari Sukabumi. Hati pria yang sudah beristeri dua itu pun tertambat dan menikah pada 1960-an. Dari isteri terbaru ini, Thoyib dikaruniai empat anak.

Saat itu semua dilalui Haji Thoyib dengan sempurna. Artinya, semua isterinya bisa menerima kehadiran isteri baru. Hebatnya, untuk menikahi isteri baru, Thoyib tidak meminta izin kepada para isterinya terdahulu.

"Nikahi dulu, baru minta izin. Niat kita kan baik, beribadah juga kan," kilah orang tua yang lupa jumlah cucu dan cicitnya ini.

Walau sudah punya tiga isteri, keinginan untuk beristeri lagi ternyata tak pupus. Pada 1972, Thoyib kembali menggaet seorang perempuan bernama Titin. Dia dinikahi pada saat sudah berumur 40 tahun.

Berbeda dengan proses sebelumnya, kehadiran Titin ternyata berlangsung tidak mulus. Sukaesih, isteri ketiganya, tidak terima. Wanita ini kemudian memilih meninggalkan Thoyib. "Nggak mau menerima, ya sudah," ungkapnya.

Disebutkan bahwa Murni pun sudah tidak lagi berkumpul dengannya. Thoyib tak bersedia menjelaskan alasannya. Sedangkan Sukarti meninggal pada 1994 lalu. Nah, kini di antara empat isteri yang dinikahi sebelum 1970-an itu, tinggal Titin yang bersamanya.

Pada akhir 1970-an, Thoyib berkenalan dengan Chotifah, 41 tahun yang saat itu datang ke rumah Thoyib mengantarkan ibunya untuk berobat. Saat itu, pria ini memang dikenal bisa menyembuhkan penyakit. Perkenalan singkat terjadi. Setelah dipinang, Chotifah tak keberatan menjadi isterinya dan kini dikaruniai dua anak. Tiga tahun setelah itu, Thoyib menikah lagi dengan Rohmah, 39, yang kemudian menyumbangkan tiga orang anak.

Didampingi tiga isteri ternyata belum cukup. Pada 1991 Thoyib menikah lagi dengan Ade, 31 tahun. Dari isteri termudanya ini, dia memperoleh empat anak. "Setelah Ade, sudah cukuplah," kata pria kelahiran Jakarta, 15 Juni 1918 itu sambil tersenyum.

Jadi, jika ditotal, anak Thoyib dari tujuh isterinya adalah 23 orang. Cucunya? "Jangan tanya. Saya sudah tidak bisa menghitungnya," tuturnya terkekeh. Demikian juga jumlah cicitnya.

Thoyib mengaku selalu berusaha bersikap adil kepada keempat isterinya. Saat menghadiri undangan pernikahan, misalnya, ia selalu mengajak semua isterinya. Karena itu, kehadiran Thoyib selalu menjadi perhatian. "Yang hadir lebih memperhatikan saya daripada pengantinnya," tutur Thoyib sambil terkekeh.

Begitu tiba di tempat hajatan, selalu muncul celetukan, selamat datang rombongan Haji Thoyib. "Jadi bukan lagi pasangan. Yah soalnya yang mendampingi saya memang satu rombongan," kata pria yang mempunyai 23 anak itu.

Para isterinya dibekali amplop untuk kondangan. Empat isteri berarti empat amplop yang isinya harus sama. Tak boleh ada yang lebih. "Kalau gocap (Rp 50 ribu), ya gocap semua. Kalau jigo (Rp 25 ribu), ya jigo semua. Pokoknya adil," selorohnya.

Keadilan menjadi faktor paling penting. Soal pembagian harta kepada keempat isterinya, Thoyib juga mengaku berusaha seadil-adilnya. Mereka mendapatkan rumah yang sama. Berlantai dua dan luasnya sekitar 100 meter persegi. Warna cat rumah juga dibuat sama. Isi rumah pun dibuat persis. Perabot dapur, kursi tamu, hingga televisi dibelikan dengan merek yang sama.

Namun, tidak jarang ada isteri Thoyib yang merasa tidak cocok dengan barang pemberiannya. Padahal, dia sudah telanjur membeli empat pasang. Bila ada kasus seperti itu, Thoyib langsung mengganti barang isterinya yang komplain. Dengan cara seperti itu, tak ada isteri lain yang iri.

Meski Thoyib pun secara bergilir mengunjungi isteri-isterinya tersebut, namun ia tidak mempunyai jadwal tetap. Bila malas mengunjungi mereka, ia memanggil isterinya satu per satu. Keempat isterinya selalu setia melayani Thoyib. Mereka bahu-membahu jika melihat sang suami tercintanya tergolek sakit di tempat tidur. Thoyib mengisahkan, ketika dia sakit dan tidak bisa bangun, semua isterinya mau merawatnya. Bahkan, untuk urusan mengantar buang air besar, keempat isterinya mau melakukannya.

"Nggak ada yang ngiri siapa yang harus mengantar atau membersihkan kotoran saya. Pokoknya semua mau melayani saya," ujar pejuang '45 yang pernah dituduh terlibat DI/TII dan terpaksa dijebloskan ke Nusakambangan selama empat tahun itu. Melihat keempat isterinya rukun dan bersahabat, hati Thoyib bahagia.

Untuk menjaga keharmonisan rumah tangga besar tersebut, Thoyib memiliki resep jitu: berzikir dan bersikap adil. Dia pun mengaku, semua isterinya tidak pernah berebut masalah harta. "Semuanya rukun. Nggak ada yang iri. Yang namanya adil itu kan, ya semampu saya," katanya.

Sadar bahwa umurnya sudah uzur, Thoyib pun sudah menyiapkan surat wasiat jika nanti dirinya dipanggil Yang Mahaesa. Di situ dia membagi rata hartanya kepada keempat isteri, anak-anak, cucu, dan cicitnya. Dia juga tidak mau kerukunan keempat isteri dan anak-anaknya hanya tercipta saat dirinya masih berada di dunia.

Thoyib memang sudah merasa berbuat adil. Tapi, tidak selamanya para isteri menerima. Walau semua isterinya tampak rukun dan bersahabat, ada kalanya mereka mengaku cemburu. Bagaimana juga perasaan wanita lebih tajam dalam menyikapi suatu peristiwa. Hal itu pernah dialami Hj Chotifah, isteri kedua Thoyib.

Saat itu Thoyib berkeinginan meminang Hj. Rohmah, isteri ketiga, pada 1982. Seperti biasanya, Thoyib tidak akan memberi tahu isterinya terlebih dahulu jika mau menikah. Baru setelah menikah, dia memberi tahu isteri-isterinya. Ternyata Chotifah sudah mencium niat Thoyib yang ingin menikahi Rohmah. Sebagai perempuan, awalnya Chotifah, isteri yang dinikahi pada 1979, tidak terima atas kondisi tersebut.

"Saya tahu dari temannya kalau bapak ternyata sudah menikah lagi," kata Hj Chotifah. Akhirnya dia pun menemui Hj Rohmah. Bukan untuk melabrak, melainkan hanya untuk mengklarifikasi apakah berita itu benar. Setelah bertemu Hj Rohmah, hati Hj Chotifah kembali dingin dan bisa menerima semuanya. "Nggak ada emosi. Saya akui ada sih perasaan jengkel dalam hati saya, tapi nggak saya keluarin," aku Hj Chotifah.

(Sumber: Buku "Tak Ingin Poligami Tapi Harus Poligami", Imam Fathurrohman)

Baca Selanjutnya......