Menempa Kesalehan Sosial dalam Keluarga

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Berbuat baiklah kepada kedua orangtua, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu.” (QS. An-Nisa: 36)

*****

Kesalehan pribadi merupakan cermin terciptanya kesalehan sosial. Degradasi moral yang dipertontonkan masyarakat Indonesia, baik di level bawah hingga atas, adalah implikasi nyata lemahnya kesalehan sosial. Tengok saja faktanya, ibu pertiwi menduduki posisi kedua setelah Swedia untuk urusan negara dengan kasus pornografi dan pornoaksi lewat lokalisasi, sinetron, film, hingga media yang mengeksploitasi kemesuman. Belum lagi fakta bahwa negara ini menjadi salah satu negara terkorup di dunia. Kemiskinan merajalela di mana-mana, kelaparan hingga ketimpangan sosial yang terpampang di setiap sudut desa dan kota.

Miris hati Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS saat melihat kenyataan yang menjadi cermin negara ini. Lebih miris lagi, Indonesia adalah negara dengan jumlah pemeluk Islam terbesar di dunia. Sering terlintas pelbagai pertanyaan dalam benaknya, ke mana salat, puasa, zakat, dan haji yang selama ini dilaksanakan umat Islam? Alangkah nihilnya nilai ibadah yang dilakukan dalam keseharian, sehingga tak memiliki dampak positif bagi diri dan lingkungan sekitar. Sementara jamaah-jamaah taklim dan dzikir tumbuh bak jamur di musim hujan. Apalagi pelaksanaan ibadah umrah dan haji mengalami peningkatan.

Sebagai mantan pejabat eksekutif, Rokhmin sering memperhatikan perilaku ibadah di kalangan para pejabat negara. Di antara mereka, menurutnya, banyak yang hanya melaksanakan salat Jumat saja dalam seminggunya. Hal itu lebih kentara lagi saat dirinya sering melakukan tugas ke daerah bersama sejumlah pejabat muslim. Dan yang lebih parah adalah budaya suap yang saat ini menjadi tren di kalangan mereka. ”Sebagian besar dari para pejabat, saat saya menjadi menteri, memiliki karakter mata duitan. Seolah-olah segala kebaikan itu dinilai dengan uang. Siapa pun yang ngasih uang, baru dianggap sahabat. Padahal, yang merusak negara itu kan mereka yang melakukan itu,” papar menteri di era Abdurrahman Wahid dan Megawati Soekarnoputri ini dengan geram.

Sekali waktu dirinya menemukan orang yang rajin salat, namun banyak di antara mereka yang berkelakuan tidak baik. Orang-orang seperti inilah yang kadang tidak dapat dimengerti olehnya. Bisa jadi, mungkin, mereka melaksanakan salat lima waktu dalam sehari, namun hubungannya dengan rekan kerja atau lingkungannya begitu buruk. “Lalu di mana hakikat salatnya?” suatu saat Rokhmin bertanya kepada anak-anaknya. “Mungkin salatnya hanya jungkal-jungkel saja, Pa,” jawab mereka.

Berbagai kenyataan yang terjadi di masyarakat, betul-betul sangat diperhatikan Rokhmin. Bahkan, tema-tema seperti itulah yang sering dijadikan bahan ulasan saat Rokhmin berkumpul selepas salat berjamaah dengan istri dan anak-anaknya. Inilah salah satu cara Rokhmin berdialog dan membincang keislaman agar lebih dekat dengan realita di masyarakat.

Dalam pandangannya, kesalehan pribadi (individual) yang terealisasi dalam bentuk ibadah mahdloh (wajib) harus tercermin dalam ibadah muamalah yang berhubungan langsung dengan antar sesama manusia dan lingkungan. “Itulah yang disebut kesalehan sosial. Seimbang antara hablumminallah dan hablumminannas,” urai Rokhmin. “Bukankah menurut para mufassir, Alquran memberikan pernyataan tentang ibadah muamalah sebanyak 70 persen dan ibadah mahdloh 30 persen? Kadang kita hanya ingat yang 30 persen itu saja,” tambahnya.

Mengasah Empati

Dalam mendekatkan konsep kesalehan sosial, tak jarang Rokhmin mengajak keempat anaknya; Sri Minawati, Muthia Ramdhini, Rahmania Kannesia, dan Sylvana Afiati mengunjungi daerah-daerah nelayan. Tujuannya tak lain agar mereka merasakan kehidupan saudara-saudaranya yang sama sekali berbeda dengan keadaan mereka, baik secara ekonomi maupun budaya. Sebagai ayah yang hanya memiliki anak-anak perempuan, Rokhmin merasa bersyukur dapat dengan mudah memberikan arahan.

Untuk berbusana muslimah sekalipun, Rokhmin tak perlu bersusah payah menyarankan. Anak pertamanya, Sri Minawati, yang kini menimba ilmu di Australia dengan keikhlasannya sendiri mengenakan busana muslimah. “Alhamdulillah, anak kedua kami, Muthia Ramdhini, yang kini kuliah di Universitas Padjadjaran, sebulan lalu memutuskan untuk konsisten mengenakan busana muslimah,” kata Ir. Pigoselpi Anas, sang ibu memberikan penjelasan.

Keseriusan Rokhmin dalam membimbing anak-anak dan istrinya terlihat pula saat dirinya memiliki waktu luang. Kesibukannya yang luar biasa sebagai dosen dan pemateri di pelbagai seminar nasional maupun internasional, memang, sangat menyita waktu bersama keluarga. Maka tak heran, saat ada waktu luang, Rokhmin selalu menyempatkan diri mengajak keluarga untuk salat berjamaah dan mengkaji fenomena masyarakat dengan pendekatan keislaman. Di samping itu, Rokhmin pun mengajak keluarganya mengikuti program Emotional Spiritual Quotient (ESQ) di bawah arahan dai kondang, Ary Ginanjar dengan maksud memperuncing kecerdasan emosi dan spiritual.

Rokhmin berharap, lewat program itu, keluarganya memiliki rasa empati yang tinggi kepada masyarakat dan lingkungan. Ia sering menekankan kepada keluarganya bahwa tidak akan menjadi muslim yang kaafah (sempurna) jika masih terdapat saudara atau tetangganya yang masih kelaparan.

Dalam mendidik anak, yang terpenting bagi Rokhmin adalah mengasah kecerdasan emosional dan sipritual di samping kecerdasan intelektual. Dengan pola pendidikan seperti ini, ia yakin akan tercipta kebahagiaan yang hakiki. “Kebahagiaan yang sebenarnya adalah kebahagiaan hati di mana kita selalu dekat dengan Allah,” kata Rokhmin, seperti yang sering ia katakan kepada anak-anaknya.

Dalam anjurannya kepada anak-anak, Rokhmin menjelaskan bahwa kecerdasan emosional itu tidak didapatkan di bangku kuliah, tapi justeru saat menjadi aktifis. Karena salah satu definisi kecerdasan emosional adalah mampu memelihara dan memompa terus motivasi. Dalam kaitannya dengan hal tersebut, Rokhmin memberikan tamsil (analogi) tentang orang pintar yang tak memiliki kecerdasan emosi dan ketika down tidak dapat segera bangkit. Hanya dengan kecerdasan emosilah, menurutnya, orang dapat berempati sehingga dapat mengukur diri dan mengenal lingkungan sehingga tercipta kesalehan sosial. Sementara kesalehan sosial itu sendiri tidak mungkin tercapai tanpa melaksanakan ibadah mahdloh.

Selaku orangtua, Rokhmin pun sebisa mungkin menjadi tauladan bagi keluarganya. Tak heran jika anak-anaknya sering melihat rutinitas Rokhmin saat Subuh menjelang. Sudah menjadi rahasia umum dalam keluarganya, jika Rokhmin terbiasa bangun untuk melaksanakan salat tahajud dan mengkaji Alquran lewat terjemahannya. Ayat demi ayat dalam Alquran diperhatikan secara seksama. Maka tak heran, jika dirinya begitu kagum pada kandungan isi Alquran yang memberikan begitu banyak informasi tentang ilmu pengetahuan.

Kebiasaan lain yang dicontohkan Rokhmin kepada keluarganya adalah bagaimana dirinya memaksimalkan jeda waktu antara salat tahajud dan Subuh. Saat seperti itu dimanfaatkan Rokhmin untuk menulis sejumlah artikel yang dipersiapkannya untuk dipresentasikan. Selepas berjamaah Subuh, Rokhmin dan keluarga bersiap jogging sambil menghirup udara segar.

Membina Generasi Beriman

“Bagi saya, yang penting adalah pendidikan iman dan tauhid,” jelas Rokhmin berbagi resep membina keluarga sakinah. Lewat sejumlah aktifitas seperti salat berjamaah, diskusi, serta mengasah empati dengan mengunjungi dan beramal kepada saudara-saudara yang kurang mampu, Rokhmin sangat yakin dapat membimbing keluarganya ke arah yang diridloi Allah Ta’ala.

Dalam doanya, Rokhmin selalu berharap agar Allah menjaga iman keluarganya dan menjadikan keluarganya orang-orang yang selalu memberi dan bermanfaat bagi sesama. Rokhmin pun tak jarang memberikan nasihat bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya.

Pendidikan dalam keluarga tentu tak lepas dari peran Ir. Pigoselpi Anas sebagai seorang ibu. Kebetulan Pigoselpi, demikian mantan kembang Institut Pertanian Bogor itu biasa disapa, selain menjadi seorang pegawai negeri sipil juga tengah menyelesaikan tugas belajar doktoralnya. Meski demikian, dalam kesehariannya, justeru Pigoselpilah yang menjadi pengontrol sekaligus pendidik utama. Pigoselpi memiliki jadual anak-anak. Sehari saja, salah satu di antara anaknya telat pulang, Pigoselpi akan menelepon untuk menanyakan di mana keberadaan si anak. Begitu pula dalam memonitor pergaulan anak-anaknya, Pigoselpi menjadi orang pertama yang mencari tahu dengan siapa saja anak-anaknya bergaul. Bahkan, hingga saat ini, anak-anaknya dilarang menginap di rumah teman-temannya, kecuali yang sudah dikenali betul sifat teman dan keluarganya itu. Rokhmin dan Pigoselpi lebih suka kalau teman anak-anaknya yang main atau menginap di rumahnya.

Sikap Pigoselpi berbeda saat menghadapi anak-anaknya yang hendak memilih jurusan di bangku kuliah. Pigoselpi lebih suka memberikan saran, bukan penentu kebijakan. Dirinya sadar betul bahwa untuk urusan sekolah, anak-anak harus diberikan kebebasan mengembangkan minat dan bakatnya. “Saya lebih suka menjadi pengontrol bagi anak-anak. Saya lebih sering mengajak berdiskusi dan memberikan contoh kepada mereka,” papar Pigoselpi.

Konsep keseimbangan dalam hubungan dengan Allah (hablumminallah) dan hubungan dengan manusia (hablumminannas) tak hanya ingin diterapkan Rokhmin kepada anak-anaknya saja. Begitu pula dalam memilih calon menantu bagi anak-anaknya, kriteria saleh secara individu dan saleh terhadap lingkungan menjadi syarat mutlak. Jelas sekali Rokhmin ingin memilih menantu yang terbaik agar generasi beriman yang dicita-citakannya dapat terbina.

Di samping kriteria itu, Rokhmin pun menetapkan kecerdasan intelektual dan emosional dalam diri calon menantunya. Sebagai seorang dosen, Rokhmin paham betul perbedaan antara mahasiswanya yang aktif di organisasi dan yang tidak aktif. Ia kadang merasa kasihan kepada mahasiswanya yang memiliki kepintaran namun tidak didukung dengan kecerdasan emosional. Ternyata, kepintaran lebih sering tidak mendukung seseorang untuk berkembang ke arah lebih baik.

Saat ini, cara yang ditempuh Rokhmin untuk memilih calon menantu adalah dengan mengajaknya salat berjamaah dan dialog tentang segala hal, baik berkenaan dengan masalah keagamaan maupun pengetahuan umum. Meski demikian, aspirasi sang anak yang akan menjalani kehidupan rumah tangga tentu tak diabaikannya. Hanya saja, Rokhmin ingin mengawasi dan memberikan pilihan agar anaknya tak salah memilih.

Tips.

Anak adalah amanah dari Allah Ta’ala yang harus dijaga eksistensinya dalam keimanan dan ketakwaan. Meski terkesan ketat dalam mendidik anak, pelaksanaan ibadah mahdloh menjadi mutlak dibarengi dengan perilaku santun terhadap sesama.

  1. Pelaksanaan ibadah mahdloh: Pada dasarnya, Allah menciptakan makhluk-Nya adalah untuk mengabdi kepada-Nya. Rentetan ritual dalam Islam yang dicontohkan Rasulullah SAW dan sahabatnya merupakan hal yang mesti diikuti agar terbentuk ketakwaan yang hakiki.
  2. Kesalehan sosial: Konsep yang ditawarkan Rokhmin Dahuri kepada anak-anaknya tentang kesalehan sosial menjadi contoh positif dalam keluarga. Berikan motivasi dan contoh konkrit agar anak-anak mengerti betul makna empati terhadap lingkungan.
  3. Kecerdasan Intelektual: Memiliki anak-anak yang pintar merupakan dambaan setiap orangtua. Dengan arahan positif dari orangtua, anak-anak akan termotivasi menjadi makhluk dengan kecerdasan intelektual. Boleh jadi membebaskan pilihan anak dalam kadar minat dan bakatnya menjadi sebuah pilihan. Namun, orangtua tetap berkewajiban memberikan nasihat.
  4. Ciptakan Diskusi Menjadi Tradisi: Dialog merupakan cara efektif menciptakan keluarga yang harmonis. Keseimbangan pun akan tercipta jika diskusi telah menjadi sebuah tradisi dalam keluarga. Dalam diskusi, orangtua akan mengajak anak-anak berpikir dan mengasah rasa empati.


(Disadur dari Majalah Taubah Edisi Februari 2006, Imam Fathurrohman)

Baca Selanjutnya......

Mencipta Keluarga Maslahat

“Ya Allah, berilah kemaslahatan pada agamaku yang menjadi penjaga urusanku, berilah kemaslahatan pada duniaku tempat aku hidup, berilah kemaslahatan pada akhiratku tempat aku akan kembali, jadikanlah hidupku sebagai sarana mekarnya kebaikan dan jadikanlah matiku sebagai tempat istirahat dari tiap keburukan,” (HR. Imam Muslim)

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Terlahir dari kalangan masyarakat Nahdlatul Ulama (NU) adalah berkah yang tiada terkira bagi H.M. Rozy Munir, SE., MSc. Dari akar masyarakat inilah Rozy, demikian mantan Menteri BUMN dan Penanaman Modal di jaman Gus Dur ini biasa disapa, dapat mengimplementasikan arti Islam sebenarnya. Islam yang moderat, humanis, dan rahmatan lil ‘alamin.

“Islam menganggap kehidupan sebagai sesuatu yang mulia. Sebab hal itu berkaitan dengan tugas mensejahterakan alam dan isinya,” kata pria berkacamata ini memulai perbincangannya dengan TAUBAH. Dan sejurus kemudian, Rozy pun mengemas pernyataannya dengan membacakan QS. Al-Anbiyaa, ayat 107: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”

Dalam pandangannya, tugas manusia di muka bumi ini didukung oleh status makhluk tertinggi dibanding makhluk lainnya. Oleh sebab itulah, Allah SWT menjadikan manusia dalam bentuk kemakhlukan yang sebaik-baiknya (QS. At-Tiin: 4). Maka tak salah, tambah Rozy, jika manusia ditentukan sebagai khalifah di bumi untuk mengeksploitasi sumber daya dirinya dan alam sekitar secara positif.

Berbicara dengan suami dari Hj. Mufida Munir ini memang selalu terkait dengan dalil-dalil, baik naqly maupun ‘aqly, yang sangat terstruktur. Maklum saja, pria kelahiran Mojokerto 16 April 1943 ini merupakan salah seorang cendikiawan NU yang mumpuni. Jalur kehidupannya dipenuhi perbincangan akademis, bahkan saat ini pun dirinya tercatat sebagai Staf Pengajar S2 di Universitas Indonesia di samping sejumlah kegiatan lainnya di kepengurusan pusat NU.

5 Dasar Keluarga Maslahat

26 Desember 1970 lalu, Rozy dan Mufida mulai mengayuh bahtera rumah tangga. Sejak saat itu pula Rozy dan Mufida mencanangkan ‘keluarga maslahat’ sebagai impian ideal rumah tangga mereka. Keluarga maslahat yang dimaksud adalah keluarga yang berguna dan senantiasa mendatangkan kebaikan bagi lingkungannya sesuai dengan ridha Allah SWT.

Ada lima dasar kemaslahatan yang harus dipelihara untuk menciptakan impiannya tersebut, yaitu kebutuhan keselamatan agama, kebutuhan keselamatan akal pikiran, kebutuhan keselamatan jiwa (diri) dan kehormatan, kebutuhan keselamatan keturunan (nasab), dan kebutuhan keselamatan harta benda.

Kelima dasar tersebut, menurut Rozy, merupakan ketatapan mutlak yang kini tengah dipeliharanya. Dengan sepenuh hati, seluruh anggota keluarganya memahami betul fungsi masing-masing. Sebagai seorang suami, misalnya, Rozy membutuhkan dan berkepentingan kepada Hj. Mufida, sang istri, sebagai sosok yang mencintai, mengenal, menghargai, dan menghormatinya.

Pada konteks ini pula, Rozy beranggapan bahwa istri adalah sosok yang harus mematuhi dan setia kepadanya, sosok yang menangani rumah tangga dengan cermat, dan memperlakukan suami sebagai kepala keluarga. Dan hanya kepada sang istri, bibit untuk memperoleh keturunan saleh disemaikan. Istri pun berperan sebagai ibu yang tabah dan bijaksana merawat dan mendidik anak-anaknya ke arah kesempurnaan (insan kamil). “Sejauh ini, alhamdulillah, istri saya merupakan sosok yang sangat ideal,” katanya seraya mengurai senyum.

Sebagai seorang suami, Rozy pun menyadari bahwa sang istri membutuhkan dan berkepentingan kepada dirinya yang mencintai dan mengasihi istrinya, yang mengerti akan harkat kewanitaannya dan menghargai derajat kemanusiaannya. Istri membutuhkan perhatian dan perlindungan suami, sebagai implementasi sikap tanggung jawab atas keluarganya.

Fungsi suami dan istri, sambungnya, akan bersatu saat dikaruniai keturunan. Suami dan istri harus bahu membahu merawat anak-anaknya sejak bayi hingga menjadi remaja, dewasa sampai kemudian berkeluarga. “Itulah role yang benar, dan Insya Allah tengah kami jalani. Bagi kami, anak-anak adalah amanah Allah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya,” paparnya. “dan yang paling penting,” sambungnya, “adalah memperlakukan mereka secara adil!” tegasnya.

Generasi Intelektual dan Sosial

Meski darah Islam tradisional (NU) mengalir dalam tubuhnya, Rozy termasuk sosok liberalis. Dalam pemahamannya, Islam mengajarkan liberalisme dalam mempraktekan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Namun begitu, koridor berupa Alquran dan Hadits tetap menjadi patokan.

Begitu pula dalam mengelola keluarganya, Rozy pun tak segan untuk menanamkan jiwa kebebasan dalam bertindak dan berpikir kepada ketiga anaknya, Avianto Muhtadi, Beny Syaaf, dan Citra Fitri Agustina. Sejak kecil, Rozy mengarahkan ketiga anaknya masuk bangku sekolah umum, bukan pesantren seperti kebanyakan kalangan nahdliyin. “Saya menginginkan anak-anak dapat memahami penggunaan teknologi. Intinya sih, agar mereka dapat bersaing di era globalisasi,” kata Rozy memberikan alasan.

Sementara pendidikan agama, selain diajarkan oleh Rozy dan istri, ketiga anaknya pun mendapatkan pendidikan agama melalui guru privat. Menurut Rozy, inilah konsep keseimbangan dalam pendidikan. Ketiga anaknya tak boleh tertinggal dalam segala disiplin ilmu, baik ilmu pengetahuan umum maupun ilmu pengetahuan agama.

Dan memang, selain memahami dasar-dasar pendidikan agama, ketiga anaknya pun memiliki kemampuan di bidang lainnya. Inilah bekal yang hingga saat ini telah diimplementasikan di masyarakat. Ketiganya terbiasa membantu di saat beragam bencana dan musibah menimpa masyarakat.

Bahkan, meski masih usia belia, Citra Fitri Agustina, telah terbiasa membongkar pintu rumah penduduk untuk dijadikan sampan saat banjir melanda ibukota beberapa waktu lalu. Derasnya banjir saat itu tak menghalangi tekad Citra untuk tetap membantu masyarakat yang membutuhkan.

Saat tsunami memporak-porandakan Nanggroe Aceh Darussalam, akhir tahun 2004 lalu, ketiga anak Rozy ini bahu membahu bersama ribuan sukarelawan lainnya guna membantu evakuasi para korban. Sebagai Ketua Banser DKI Jakarta, Avianto terjun bersama para sukarelawan dari Banser NU. Sementara Beny menyalurkan bahan bantuan makanan dan obat-obatan dan Citra bersama para dokter memberikan pelayanan kesehatan bagi para korban. “Di saat-saat seperti inilah kami merasakan betapa beruntungnya kami dapat terlibat membantu saudara-saudara ketika tertimpa musibah,” kenang Avianto.



(Disadur dari Majalah Taubah Edisi April 2006, Imam Fathurrohman)

Baca Selanjutnya......

Mencipta Generasi Berkualitas


“Dan orang-orang yang berjihad –untuk mencari keridhaan- Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik,” (QS. Al-Ankabut: 69).

*****

Menilik prestasi pribadi yang pernah ditorehkan Dra. Hj. Sri Wahyuningsih, Apt., setiap orang pasti akan berdecak kagum. Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar hingga kuliah di Fakultas Farmasi, Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta, perempuan cantik berkaca mata ini selalu tampil menjadi yang terbaik. Tak hanya di bidang akademik, kesuksesan Ning, begitu biasanya perempuan kelahiran Sragen, 6 Maret 1957, ini biasa disapa, pun terukir pada usahanya kini. Dengan modal seabrek prestasi dan kesuksesan, Ning bertekad mencipta generasi berkualitas dalam rumahnya.

Meski banyak orang tua yang memiliki latar belakang cemerlang, namun belum tentu mampu menularkannya pada anak-anaknya. Hal ini juga disadari Ning dan H. Masrizal A. Syarief, Apt., yang menikahinya pada tanggal 12 Mei 1984. “Pondasi yang saya tanamkan kepada anak-anak adalah keyakinan bahwa Allah itu ada dan Esa. Saya juga tanamkan bahwa kita akan kembali kepadaNya, sehingga hidup yang sebentar ini harus dioptimalkan di jalan yang baik dan benar,” tuturnya membuka pembicaraan dengan TAUBAH yang menyambangi keluarga ini di rumahnya, di kawasan elit Pondok Indah.

Bagi Ning, berprestasi tak melulu soal trofi dan angka-angka. Keluasan pengetahuan dalam segala hal dan mampu mengaplikasikannya untuk kemaslahatan masyarakat menjadi faktor yang begitu penting. Intinya, ketika dirinya berinisiatif untuk memiliki anak-anak yang pintar, maka dirinya pun harus menyiapkan sejumlah ‘jurus jitu’ agar anak-anaknya pun tampil prima di hadapan masyarakat dan Allah SWT.

Jurus jitu yang dimaksud adalah trik dari Ning dan suami agar ketiga anaknya, Prima Yuriandro (21 tahun), Febie Yuriza Putri (18), dan Raisya Yuriafia Putri (8 tahun), menjadi manusia-manusia pilihan yang berguna bagi negara, bangsa, dan agama. Untuk mewujudkannya, ketiga anaknya disekolahkan ke sekolah yang memiliki basis kurikulum Islam.

Dengan belajar di sekolah berbasis kurikulum Islam tersebut, ketiganya pun fasih dalam membaca Alquran. Dalam pergaulan pun mereka bisa membedakan mana yang boleh dan dilarang dalam ajaran Islam.

“Di luar itu, dalam keseharian, saya selalu memberikan contoh, baik dalam tindakan maupun perkataan. Anak-anak bisa melihat sendiri bagaimana saya melaksanakan salat di awal waktu. Saya juga selalu menjaga setiap perkataan agar tidak pernah berbohong di depan anak-anak, meski ada sesuatu yang berat, namun harus dikatakan dengan jujur,” tegas Ning.

Anak-anak Berprestasi

Ketegasan Ning dalam mendidik ketiga anaknya dipraktekkan pula dalam banyak hal. Dirinya tak pernah meluluskan sebuah permintaan dari anak-anaknya, jika mereka belum menunjukan sebuah prestasi yang membanggakan.

Pernah, suatu ketika, Prima minta dibelikan kaset sebuah game. Dengan tegas, Ning memberinya syarat agar Prima mengajari adiknya, Febie, membaca Alquran terlebih dahulu. Setelah Febie bisa, Ning baru mau mewujudkan keinginannya. “Saya tes Febie dulu. Jika dia betul-betul bisa, baru keinginan Prima kita penuhi. Begitu juga dengan pelajaran di sekolah, Prima betul-betul membimbing adiknya,” kisah Ning.

Sikapnya ini, menurut Ning, merupakan sebuah cara agar tertanam rasa persaudaraan yang kuat. Sampai hari ini, sikap kakak ke adik seperti itu masih terus berlanjut. Saat Fia, putri bungsunya, ingin bisa mengoperasikan internet, Ning meminta agar Febie mengajari Fia. Sebagai motivasi, agar anak-anaknya berbuat optimal dan positif, Ning memberi Febie Rp. 25.000,- setiap dua jam untuk mengajari Fia les menggambar, dan Rp. 10.000,- untuk mengajar internet.

Ning dan suami patut bersyukur kepada Allah Ta’ala karena telah diberikan anak-anak yang cerdas dan bertakwa. Ketiga anaknya adalah siswa-siswa teladan di masing-masing sekolahnya. Prima, misalnya, yang tengah menempuh studi di Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, tercatat sebagai mahasiswa pintar dan berprestasi. Saat naik ke tingkat 4, Prima mendapat nilai Indeks Prestasi (IP) 3,88. Sebelumnya, saat naik ke tingkat 3, ia mendapat nilai IP 3,67. “Untuk sebuah jurusan yang sangat kompetitif, nilai IP seperti itu jelas merupakan kebanggaan tersendiri,” tutur Ning dengan bangga.

Kebanggaan itu juga hadir dalam diri Febie dan Fia. Febie yang kini tengah menunggu hasil ujian masuk di FKUI, merupakan anak pintar yang selalu mau tersita waktunya untuk mengajari adiknya, Fia. Di sekolah sebelumnya, Febie tergolong siswi yang memiliki nilai tertinggi.

Lain lagi halnya dengan Fia. Putri bungsu yang cantik ini tergolong anak serba bisa. Meski masih duduk di bangku sekolah dasar, Fia telah memiliki banyak kesibukan. Di antaranya, Fia aktif sebagai presenter di pelbagai acara. Beberapa waktu lalu, gadis cilik itu sudah merampungkan rekaman 16 episode di sebuah stasiun televisi untuk sebuah acara yang dikemas bersama Departemen Pendidikan Nasional. Rencananya, hasil rekaman itu akan diberikan ke sekolah-sekolah sebagai bahan ekstra kurikuler dalam bentuk VCD.

Sementara di stasiun televisi lainnya, Fia tampil dalam program “Fia Sahabatku”. Dalam program tersebut, Fia mengunjungi sahabatnya yang tengah sakit atau membantu sahabat-sahabat di pelosok daerah yang tengah tertimpa musibah. Prestasi lainnya, Fia pernah menjadi nominator AMI Award di tahun 2005. Sebagai seorang penyanyi cilik, Fia juga sudah merilis albumnya dan mendapat respon cukup baik dari masyarakat.

Sejumlah prestasi yang ditorehkan ketiga anaknya, tentu membuat Ning dan suami begitu bangga. Dalam hati yang terdalam, Ning berharap agar kiprah ketiga anaknya mampu bersinggungan langsung dengan masyarakat agar dapat bernilai ibadah. “Bagi saya, anak-anak harus memahami dan mampu menjalankan arti Hablumminallah dan Hablumminannas,” katanya. []

Merengkuh Kekayaan Jiwa

“Tidak disebut kaya karena banyak hartanya, tetapi yang disebut kaya (yang sebenarnya) adalah kekayaan jiwa”. Hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah RA ini, tampaknya, menjadi pedoman penting dalam kehidupan Ning dan seluruh anggota keluarga.

Kekayaan jiwa berarti mau berbagi dengan sesama dan peduli pada lingkungan. Saat ini, banyak orang yang hanya mementingkan diri dan keluarganya tanpa peduli pada sekitar. Ning dan keluarga tak mau terjebak ke dalam golongan orang seperti ini. Ia memiliki cara agar dirinya dan keluarga selalu terasah jiwanya. Salah satunya adalah dengan banyak berbagi rejeki kepada orang-orang tak mampu.

Sementara untuk memberikan pengetahuan tentang berkomunikasi yang baik kepada anak-anaknya, Ning termasuk orang yang pintar mengelola hal ini. Ia dan suami tak segan membawa anak-anaknya untuk ikut dalam setiap kesempatan kerja. “Kadang, ketika mereka libur, saya sering mengajaknya untuk ikut rapat di kantor. Di tengah rapat, anak saya hanya boleh mendengar dan menangkap isi rapat sebagai sebuah wawasan untuk mereka. Di situ, mereka bisa melihat bagaimana Mamanya bekerja dan memimpin sebuah perusahaan,” tutur Ning berbagi resep.

Begitu juga dengan sang suami, jika ia kedatangan tamu, maka salah satu anaknya diajak untuk melihat bagaimana cara papanya berkomunikasi. Untuk sementara, papanya memang lebih sering mengajak Prima yang telah dianggap sudah dewasa dalam urusan bisnis.

Karena sering menemani papanya bertemu rekan bisnis dari luar negeri, maka Prima pun sudah mempersiapkan diri dengan menguasai sejumlah bahasa asing, di antaranya bahasa Inggris dan bahasa Jerman. “Anak-anak memang kita beri tambahan pengetahuan. Selain bahasa Inggris dan Jerman, mereka juga sudah terbiasa mengenal komputer dan pengetahuan teknologi terkini lainnya,” jelas Ning.

Metode seperti ini, menurut Ning, merupakan cara yang paling sering dilakukannya. Ia dan suami tak perlu memberikan pelajaran dengan banyak bicara, namun dengan contoh dan melibatkan anak-anak. Dengan cara ini, anak-anak akhirnya dapat melihat bahwa apa yang telah dicapai orang tuanya merupakan hasil perjuangan yang cukup panjang.

“Iya. Aku sendiri senang kok kalau sering diajak Mama dan Papa berdialog tentang perjalanan hidup mereka. Aku jadi bisa berkaca dan termotivasi untuk dapat mengikuti langkah mereka,” kata Febie menanggapi metode pendidikan yang diajarkan kedua orang tuanya. []

Ujian dan Rahmat dari Allah

Dalam peta bisnis nasional maupun mancanegara, nama Dra. Hj. Sri Wahyuningsih, Apt. dan H. Masrizal A. Syarief, Apt., sudah tak asing lagi. Bernaung dalam bendera PT. Graha Ismaya, keduanya masuk dalam jajaran pengusaha tersukses. Perusahaan mereka adalah distributor peralatan kedokteran terbaik di negeri ini.

Kesuksesan keduanya, bukanlah tanpa aral. Khusus bagi Ning yang menggerakkan roda perusahaan dari awal, dirinya pernah mendapatkan ujian sekaligus rahmat dari Sang Maha Pencipta. Karena bekerja terlalu keras dan selalu ingin menampilkan kesempurnaan dalam bekerja, dirinya pernah menderita sakit yang sangat parah. “Saya ‘divonis’ menderita penyakit Lupus oleh dokter,” tutur Ning mengisahkan peristiwa yang terjadi di tahun 1994 silam.

Meski hatinya remuk mendengar “vonis” itu, dirinya yakin akan kekuasaan Allah Ta’ala. Selama ini, Ning memang sangat meyakini bahwa kekuasaan Allah di atas segalanya. Keyakinan inilah yang membuatnya bertekad untuk memenuhi panggilanNya pergi ke Baitullah, di tahun yang sama. Ia berangkat bersama suami, bapak, dan ibu mertuanya.

Dengan terus berdzikir mengumandangkan Asma Allah, Ning menahan sakit yang teramat sangat dalam perjalanan sejak berangkat hingga tiba di Mekkah. Ia sangat yakin bahwa Allah betul-betul ada untuknya dan tak akan membiarkannya terus menderita.

Keajaiban dari Allah, akhirnya, betul-betul dirasakan Ning. Saat bertawaf berkeliling Ka’bah, awalnya, Ning dipapah oleh sang suami dan bapaknya. Namun, perlahan-lahan, ia dibiarkan untuk berjalan dengan sendirinya. Saat putaran kedua mengelilingi Ka’bah, keajaiban itu datang. Ia mampu berjalan cepat layaknya orang sehat.

“Subhanallah! Ketika itulah saya benar-benar merasakan kasih sayang Allah. Sejak saat itu, penyakit Lupus yang saya derita berangsur hilang. Saat saya pulang dan diperiksa di laboratorium di Jakarta, saya dinyatakan sembuh,” kisah Ning.

Sebagai rasa syukur, sejak saat itu, dirinya selalu mengajak para karyawan untuk melaksanakan salat Dzuhur dan Ashar berjamah yang ditambah dengan kuliah tujuh menit. Rasa syukur pun ia tampakkan dengan lebih peduli pada lingkungan sekitar dan sejumlah kegiatan Islam. Selain mencari keridhaan Allah, ia pun ingin turut bersyiar menegakkan ajaran yang telah digariskanNya.



(Disadur dari Majalah Taubah Edisi Agustus 2006, Imam Fathurrohman)

Baca Selanjutnya......

woro-woro

Mang Endut lagi cari foto diri!!!
Ada yang mau nyumbang gambar? Sekadar illustrasi atawa corat-coret juga boleh.
Please, deh pokoknya..

Baca Selanjutnya......

Mang Endut Kepingin Langsing

Tak seperti biasanya, angin pagi di kawasan Bogor kali ini tidak begitu menggigit, menusuk lebih dalam ke rongga-rongga tulang. Selimut tebal yang semalam dipakai pun mulai disingkirkan karena rasa gerah sudah sangat terasa. Padahal, semalam hujan tampak begitu lebat dengan petirnya yang sesekali menghentakkan telinga. Sudah sejak senja masyarakat di komplek itu tak beranjak ke luar rumah karena lebih memilih mendekam di bilik kehangatan sambil berselimut dan memicingkan mata.

Di awal hari sebelum matahari terbangun dari tidurnya, sejumlah pedagang sudah berteriak menjajakan dagangannya. Bahkan, warung sayur Pak Dhe sudah dikerubuti ibu-ibu yang tidak mau kehabisan bahan-bahan masakannya. Teriakan khas ibu-ibu pun segera mengambil alih suasana pagi yang hening itu menjadi sangat bising.

Jarum jam tepat mengarah pada angka 5 ketika Mang Endut dan Nyi Larung membuka pintu rumah. Nyi Larung yang selesai berbelanja di warung sayur Pak Dhe dengan setengah memaksa mengajak suaminya, Mang Endut, berolahraga. Kebiasaan Mang Endut memang tidak pernah berubah. Selesai melaksanakan salat Subuh dia pun tidur kembali. Apalagi jika keesokan harinya Mang Endut libur atau setelah semalaman begadang nonton wayang di televisi, kasur empuk pun menjadi sasaran kegiatan berikutnya. Badan besarnya segera melingkar atau tepatnya membentu posisi jajaran genjang memenuhi ranjang.

“Wah, segerrr sekali, ya Pak?” tanya Nyi Larung, setelah pintu kembali tertutup.

“Iya, Nyi. Ooaah..” jawab Mang Endut singkat sambil tangannya menutup mulut karena menguap.

“Si bapak mah, masih saja menguap. Ayo bangun! Kita lari!” teriak Nyi Larung memberi semangat. Bahkan tak hanya teriakan, sejurus kemudian cubitan keraspun dialamatkan ke pinggang suaminya.

“Iya, Nyi. Aduuh,” Mang Endut bergelinjang menahan sakit dan tentunya juga menahan marah.

***

Kebersamaan Mang Endut dan Nyi Larung saat berolahraga, tepatnya jalan kaki, hanya sementara saja. Ketika bertemu ibu-ibu lainnya, Nyi Larung lebih memilih teman-teman ngerumpinya itu dibanding suaminya. Ditinggal sang istri malahan membuat Mang Endut senang, dia bisa dengan leluasa melirik kanan-kiri menonton gratis ‘daun-daun muda’ yang hilir mudik berolahraga.

“Nah gitu dong, Mang Endut. Kalau sering-sering begini kan lama-lama bisa langsing,” tepukan Aki Eyot yang datang dari arah belakang membuat Mang Endut kaget, sekaligus menghilangkan kesempatan melihat lebih ‘seksama’ gadis muda bohay berkaus merah yang baru saja melintas di depan matanya.

“Eh, Aki Eyot. Iya nih mumpung lagi semangat,” ujar Mang Endut sambil tersipu, khawatir kegiatan ‘lirik-lirik’ nya ketahuan.

“Olahraga yang paling baik itu, konon, adalah jalan kaki. Kalau Mang Endut sudah berjalan sejauh ini dari rumah, dalam tiga minggu ke depan, tuh perut pasti jadi langsing,” goda Aki Eyot.

“Ah, bisa saja. Aki masih kuat jalan sejauh ini?” tanya Mang Endut.

“Masih. Aki hampir tiap pagi jalan kaki. Maklum, daripada bosan tidak ada kerjaan mendingan Aki jalan-jalan supaya tetap bugar,” terang Aki Eyot.

Mendengar pekataan Aki, Mang Endut hanya mengangguk. Di dalam hatinya, Mang Endut menyimpan pertanyaan usil: “Ah, paling juga semangat karena banyak gadis-gadis muda. Iya kan, Ki?”

“Olahraga itu membuat kita sehat kalau niat kita juga lurus untuk berolahraga, bukan karena ingin melihat gadis-gadis muda seperti mereka,” sambung Aki seolah kereteg hate Mang Endut mampu ditangkapnya.

Mang Endut terkesiap mendengar kata-kata Aki. Untuk menetralisir kekagetannya, Mang Endut mengayun-ayunkan tangannya seperti gerakan pemanasan ala Vicky Burki yang pernah ditontonnya di televisi.

“Kita istirahat dulu Mang Endut. Di bawah pohon kelapa itu kayaknya asyik juga kita mengobrol sambil melihat talaga di pagi hari,” ajak Aki Eyot.

Keduanya berjalan ke arah pohon kelapa yang ditunjuk Aki Eyot. Setelah memesan bubur ayam yang mangkal tidak jauh dari tempat itu, keduanya kemudian terlibat perbincangan yang agak serius.

“Beberapa hari ini saya sering malas mengerjakan sesuatu, Ki. Menurut Aki, apakah hal itu bisa juga diakibatkan karena badan saya yang kelewat gemuk?” tanya Mang Endut.

“Bisa jadi. Kemalasan itu kan datangnya dari setan. Sementara setan beraktifitas melalui aliran darah yang akan terus mengalir kencang jika kita selalu mengkonsumsi sesuatu. Kalau saja kita mau menahan diri untuk tidak makan, maka aliran darah itu akan berhenti. Artinya, setan pun tidak akan mampu beraktifitas. Itulah hikmahnya berpuasa, mampu mengendalikan hawa nafsu yang notabene berasal dari setan,” jawab Aki Eyot panjang lebar. Aki Eyot yang pensiunan guru agama ini memang dikenal warga sebagai sosok ustadz yang ramah, sederhana, dan mampu memberikan jawaban secara ciamik.

“Sebenarnya, aktifitas setan tidak saja terjadi pada aliran darah orang-orang gendut seperti Mang Endut. Aktifitas setan terjadi pada orang-orang yang kenyang. Makanya, Rasulullah SAW berpesan agar kita selalu berhenti makan sebelum kenyang,” sambung Aki Eyot.

“Dalam kaidah ‘menaklukan jiwa’ yang dibahas Imam Al-Ghazali, kita dianjurkan menahan lapar. Dengan menahan lapar, setidaknya ada sepuluh manfaat di dalamnya. Mang Endut mau tahu kesepuluh manfaat itu?” tanya Aki Eyot.

“Mau, Ki. Kebetulan saya tidak mendengarkan kuliah Subuh pagi tadi di tivi,” jawab Mang Endut.

“Yang pertama, menahan lapar dapat menyucikan hati, menerangi hati (qarihah), dan menajamkan kecerdasan (bashirah). Sebaliknya, kekenyangan hanya akan mewariskan kebodohan, membutakan hati, dan memperbanyak uap air di dalam otak sehingga mampu menutup sumber-sumber pemikiran, sehingga hati kesulitan menjalankan fungsi dalam berpikir dan memahami segala sesuatu dengan cepat. Begitu juga bagi seorang anak yang kelewat banyak makan, dia akan menghadapi risiko lemah daya ingat dan rusaknya kecerdasan sehingga dia menjadi idiot dan lamban dalam berpikir,” papar Aki Eyot sambil menghela nafasnya.

“Kedua, menahan lapar mampu melunakkan dan menjernihkan hati sehingga siap merasakan kebahagiaan bermunajat kepada Allah dan mendapat faedah dari mengingat-Nya. Lidah kita sering berdzikir dnegan hati yang khidmat, tetapi kita tidak merasakan kebahagiaan atau kesan yang mendalam. Antara kita yang berdzikir dan rasa bahagia seolah terdapat dinding yang sangat tebal karena diciptakan oleh kekerasan hati. Di lain waktu, hati kita kadang mampu menangkap rasa bahagia dengan bermunajat kepada Allah. Umumnya, perut kosong itulah yang menjadi faktor tertangkapnya rasa bahagia. Abu Sulaiman Ad-Darani sampai berkata: ‘Ibadah yang paling manis bagiku adalah ketika perutku menempel di punggungku’. Sementara ulama sufi lainnya Abu Sualiman mengatakan: ‘ketika hati lapar dan haus ia menjadi jernih dan lunak, tetapi ketika kenyang ia menjadi buta dan keras’. Dengan rasa lapar, para ulama sufi mampu merasakan nikmatnya berdekatan (munajat) dengan Allah, mudah berkontemplasi dan mencapai makrifat.”

“Manfaat yang ketiga adalah tumbuhnya rasa malu, sikap rendah hati, dan hilangnya rasa cinta terhadap kemegahan, kegembiraan, dan pola hidup bersenang-senang yang merupakan sumber sikap melampaui batas dan lalai terhadap Allah SWT. Ketahuilah, Mang Endut, sesungguhnya nafsu tidak mungkin dapat ditaklukkan dan dikendalikan kecuali oleh rasa lapar. Dengan rasa lapar, jiwa kita akan merasa tenteram dan khidmat kepada Allah. Nafsu makan dan nafsu seks merupakan pintu menuju api neraka dan sumbernya adalah rasa kenyang. Sebaliknya, sikap rendah hati dan tunduknya hawa nafsu merupakan pintu menuju surga, dan modal dasarnya adalah rasa lapar.karena itu, Mang Endut. Barangsiapa yang menutup salah satu pintu neraka, maka sebenarnya ia telah membuka salah satu pintu surga, karena keduanya saling bertentangan, seperti timur dan barat, seperti siang dan malam..,”

“Oh, itulah sebabnya para koruptor banyak yang beraksi karena alasan ekonomi: perut dan di bawah perut, ya Ki?” sambar Mang Endut.

“Betul, Mang. Jiwa para koruptor, bahkan, sudah sangat dikuasai oleh setan karena mereka juga sudah tidak memedulikan keberadaan orang lain, keberadaan orang-orang miskin, atau keberadaan rambu-rambu hukum yang berlaku. Sifat setan yang lainnya adalah tidak taat hukum. Bukankah rajanya setan, Iblis la’natullah ‘alaihi, pun terlempar karena ketidakpatuhannya kepada perintah Allah?”

“Kembali ke laptop, Ki. Yang keempat apa?”

“Yang keempat, dengan rasa lapar kita tidak menjadi lupa terhadap cobaan maupun azab Allah, dan tidak menelantarkan orang-orang yang tertimpa musibah. Orang-orang yang terbiasa kenyang, perasaannya kurang peka terhadap orang-orang yang lapar karena dirinya terbiasa melupakan rasa lapar itu sendiri. Seorang yang cerdas tidak pernah tahan menyaksikan penderitaan orang lain karena ia akan sesegara mungkin teringat betapa menderitanya mendapat adzab di akhirat nanti. Melalui rasa hausnya, dia akan merasakan rasa haus yang dirasakan oleh umat manusia di Padang Mahsyar pada hari Kiamat, dan melalui rasa lapar dia akan mengingat rasa lapar yang diderita para penghuni neraka. Saking dahsyatnya, para penghuni neraka rela makan buah berduri, buah pohon zaqqum atau meminum ghassaq dan timah yang meleleh, na’udzubillah min dzalik. Kita dianjurkan untuk selalu mengingat adzab di akhirat, karena hal itu dapat membangkitkan rasa takut. Celakalah kita jika tidak pernah mengecap rasa rendah hati, sakit, miskin, dan musibah, karena hal itu hanya akan membuat kita lupa akan akhirat. Inilah salah satu faktor mengapa para nabi dan waliyullah selalu dihadapkan pada cobaan, sehingga yang paling baik di antara mereka adalah yang paling berat cobaannya. Begitulah seperti yang sabda Nabi SAW yang diriwayatkan At-Tirmidzi: ‘Kami, para Nabi adalah orang-orang yang diuji paling berat dan yang paling baik di antara kami adalah yang paling berat ujiannya.’ Maka, ketika Nabiyullah Yusuf AS ditanya, ‘Mengapa engkau menahan lapar, padahal engkau menguasai seluruh gudang pangan di negeri ini? Yusuf menjawab, ‘Aku takut kenyang sehingga lupa terhadap orang-orang yang lapar’. Mengingat orang-orang yang lapar dan miskin merupakan salah satu manfaat rasa lapar. Rasa lapar menggugah sifat kasih sayang, keinginan memberi makan, dan rasa empati terhadap makhluk-makhluk Allah.”

“Manfaat kelima adalah menaklukan segala nafsu berbuat maksiat dan mengalahkan jiwa yang selalu memerintahkan pada kejahatan (al-nafs al-ammarah bi al-su). Seperti yang Mang Endut ketahui juga bahwa pangkal perbuatan maksiat itu kan adalah nafsu dan tenaga yang keduanya bersumber dari makanan. Oleh karena itu, menyedikitkan makanan berarti melemahkan segala nafsu dan kekuatan. Dan hal paling kecil yang ditaklukan rasa lapar adalah nafsu seks dan keinginan untuk berbicara secara berlebihan, sehingga orang itu akan terbebas dari penyakit-penyakit lidah seperti menggunjing, berkata-kata keji, berbohong, mengadu dumba, dan lain sebagainya. Sebaliknya, orang yang kenyang, biasanya, ia membutuhkan hiburan yang dapat diperolehnya dengan cara mencela orang lain. Padahal, seseorang akan dengan mudah dijebloskan ke dalam neraka karena ulah lidahnya.”

“Eiit, nanti dulu, Ki. Meski saya gendut dan doyan makan, tapi saya paling ogah kalau harus ngerumpi kayak ibu-ibu. Selain memang dosa, kayaknya ngerumpi itu pekerjaan ibu-ibu banget, gitu. Cuma, kalau masalah ngeliat cewek muda, saya memang paling hobi, Ki. He, he..heh.”

“Ah, itu dia. Tapi, kayaknya penyakit Mang Endut yang senang ngeliat cewek muda, itu mah sudah dari sono’nya. Bawaan orok kali ya? He..he...”

Derai tawa seketika merebak menengahi obrolan keduanya. Mang Endut yang jadi bahan tertawaan terkekeh, meski wajahnya terlihat memerah.

“Ma’af ya Mang Endut. Ini mah intermezzo saja.”

“Enggak apa-apa, Ki. Kayaknya sih saya memang begitu dari baheula, he, he..”

Aki Eyot yang mendengar hal itu hanya tersenyum sambil menghirup semilir angin yang melintas tepat di wajahnya. Sungguh suasana alam yang indah nan sejuk. Kabut yang terlihat jelas mengapung di atas permukaan telaga menambah daya tarik talaga yang dinamai Cilula itu. Pantas saja tempat itu tidak pernah sepi pengunjung yang datang dari berbagai tempat, tak hanya dari kawasan Komplek Talaga Kahuripan saja.

“Kembali ke laptop, Ki. Kalau yang berikutnya apa?”

“Nanti dulu. Sebelum masuk ke manfaat yang berikutnya, Aki ingin memberi tahu sebuah rahasia bagi orang-orang yang ingin terbebas dari perbuatan maksiat terhadap wanita…”

“Apa itu, Ki?”

“Seorang bijak pernah berkata, siapa saja yang mampu bersikap sabar dan tabah dengan hanya makan sekadar mengisi sebagian rongga perutnya, maka insya Allah akan terbebas dari nafsu terhadap kaum wanita.”

“Oh, begitu.”

“Nah, sekarang kita masuk ke bagian selanjtunya. Manfaat rasa lapar keenam adalah mencegah rasa ingin tidur dan membiasakan tidak tidur di malam hari. Mang Endut tentu tahu bahwa orang yang banyak makan, pasti minumnya pun banyak. Nah, karena banyak minum itulah seseorang akan terlena karena banyak tidur.”

“Tapi, kita kan butuh tidur untuk menjaga kebugaran agar fit ketika bekerja keesokan harinya, Ki?”

“Betul, Mang Endut. Namun bagi kalangan salafussalih, menyedikitkan tidur di malam hari sudah menjadi kebutuhan seperti halnya salat malam. Kalangan salafussalih ini selalu menjaga nikmatnya salat malam, sehingga mereka akan dengan senang hati melakukan salat malam itu karena sudah menjadi kebutuhan. Dan bagi kita, terutama Mang Endut yang harus bekerja, waktu di malam hari bisa saja diatur agar kita juga bisa mengerjakan salat malam tanpa harus hilang kebugaran tubuh. Untuk perilaku seperti ini, Nabi Daud As telah memberikan contoh yang paling baik. Beliau tidur di sepertiga malam pertama kemudian bangun di sepertiga kedua, lalu tidur kembali di sisa-sisa malam hingga kemudian bangun kembali saat subuh menjelang. Dengan begitu, kebugaran tubuh akan selalu terjaga, salat malam pun akan menjadi kebiasaan yang memberikan banyak kenikmatan.”

“Yang ketujuh, rasa lapar akan mempermudah ketekunan seseorang dalam menjalankan ibadah. Dengan rasa lapar, seseorang akan senang berlama-lama berdzikir mengingat Allah, beri’tikaf di masjid, dan tidak terburu-buru dalam beribadah. Jika saat beribadah perut dalam keadaan kenyang, maka yang ada dalam otaknya hanya makanan. Betul kan Mang Endut?”

“Eh, betul, Ki.”

“Manfaat yang kedelapan adalah kesehatan tubuh dan mencegah penyakit. Mang Endut tentu juga tahu bahwa factor yang menyebabkan timbulnya penyakit adalah makan terlalu banyak dan berlebihnya komposisi unsure-unsur di dalam pencernaan dan pembuluh darah. Dahulu, Sultan Harun Al-Rasyid pernah mengumpulkan empat dokter yang berasal dari India, Yunani, irak, dan seorang Sawadi (dari kampung Sawad, sebuah daerah pertanian di Irak tengah bagian selatan). Harun bertanya kepada mereka: ‘Tunjukkan kepadaku, obat apa yang tidak mengakibatkan timbulnya penyakit?’ Dokter dari India berkata, ‘obat seperti itu adalah Al-Halilaj Al-Aswad (myrobalan hitam, sebuah tanaman di India yang biasa dipakai untuk mengobati berbagai macam penyakit termasuk lepra)’. Lalu dokter Irak berkata, ‘menurut saya obat itu adalah Habb Al-Rasyad Al-Abyadh (nasturtium cress, digunakan untuk mengobati penyakit lepra, limpa, dan penyakit-penyakit kaum wanita)’. Dokter Yunani berkata, ‘pendapat saya obat itu adalah air panas’. Dokter Sawadi yang merupakan dokter terpandai dari ketiganya berkata, ‘Myrobalan menipiskan pencernaan, dan ini penyakit. Nasturtium membuat perut berlemak, dan ini penyakit. Sementara air panas dapat mengendurkan perut, dan ini juga penyakit. Menurut saya, obat yang tidak ada efek sampingnya adalah tidak makan kecuali jika telah lapar dan berhenti makan sebelum kenyang’. Begitulah Mang Endut..”

“Aki, saya jadi teringat ceramah seorang ustadz saat khutbah Jumat di kantor saya. Kata dia, seorang filosof sekaligus dokter pernah takjub pada sebuah hadits Nabi Muhammad SAW yang mengatakan: ‘Sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk napas’. Betul begitu, Ki?”

“Tepat sekali Mang Endut. Berkaitan dengan hal itu, Nabi Muhammad SAW juga bersabda: ‘Perut kenyang adalah sumber penyakit dan rasa demam adalah awal kesembuhan. Hendaklah setiap orang membiasakan setiap anggota tubuh berjalan sesuai dengan fungsinya’. Mang Endut juga tentu sudah tahu betul bahwa ada juga sebuah hadits yang mengatakan: ‘Berpuasalah, niscaya kamu sekalian akan sehat’.”

“Nah, sekarang manfaat yang kesembilan. Dengan rasa lapar biaya hidup pun akan ringan. Orang yang terbiasa makan sedikit hanya membutuhkan uang yang sedikit, sedangkan orang yang terbiasa makan kenyang akan merasakan perutnya terus-menerus menagih untuk diisi. Dari hal ini kita sesungguhnya diajarkan untuk tidak rakus terhadap urusan duniawi. Bukankah jika kita terbiasa kenyang, maka kita akan selalu rakus? Si perut kenyang akan mencari uang dari manapun untuk memenuhi rasa laparnya.”

“Betul juga ya, Ki..”

“Dan yang teakhir, Mang Endut. Rasa lapar akan memupuk kebiasaan mendahulukan kepentingan orang lain, bersedekah kepada anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Mang Endut, apa yang kita sedekahkan pasti tersimpan rapi dalam perbendaharaan karunia Allah. Sementara apa yang kita makan hanya akan menumpun di lubang WC. Betul kan? Itulah pentingnya kita memberi makan orang-orang miskin dari kelebihan harta kita. Dari kesepuluh manfaat yang telah kita bincangkan tadi, sesungguhnya terdapat manfaat lain yang tidak terhitung jumlahnya. Menahan lapar adalah perbendaharaan besar bagi segala sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan akhirat. Maka tidak salah jika seorang salaf berkata, ‘menahan lapar adalah kunci ke akhirat dan pintu menuju zuhud. Sedangkan rasa kenyang kunci dunia dan pintu menuju sifat rakus’. Wallahu A’lam bish Shawab..”

“Wah, tuntas sudah Ki..”

“Tuntas bagaimana maksudnya?”

“Tuntas sudah saya bertekad untuk mengecilkan perut yang bunting ini.”

“Yang penting adalah usaha, Mang Endut. Lakukan saja olahraga ringan tapi teratur. Dan jangan lupa, kurangi makan agar sehat.”

“Oke, Ki. Hatur nuhun pisan. Kita jalan lagi, Ki..”

Hayu, lah..”

Matahari mulai merambat naik ketika Mang Endut dan Aki Eyot beranjak dari tempat duduknya. Semilir angin yang tadinya dingin berubah menghangat meski kesejukan masih terasa. Semakin siang, Telaga Cilula bukannya menjadi sepi, justeru bertambah ramai. Satu per satu orang-orang yang bersantai setelah berolahraga pulang ke rumah, digantikan sekelompok keluarga yang membawa tikar dan bingkisan.

“Nah, ini dia..” celetuk Mang Endut spontan.

Aki Eyot yang memerhatikan tingkah Mang Endut hanya geleng-geleng kepala. Seorang wanita muda bercelana street superketat dengan kaus superminim melintas tepat dari arah belakang.

“Maaf, Ki. Saya duluan. Assalamu’alaikum..”

Baca Selanjutnya......