Menumpang Hidup Pada Rezeki Anak

Banyak anak, banyak rejeki. Istilah ini sudah berlangsung begitu lama dalam tradisi masyarakat kita. Namun, apakah benar bahwa banyak anak akan membawa begitu banyak rejeki? Budi Dharmawan dan Yoyoh Yusroh mencoba menepis anggapan itu dengan memberikan contoh yang sebenarnya.

*****

“Dan orang orang yang berkata: “Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al-Furqan: 74)

Amir bin Syuaib dari ayahnya dan dari kakeknya menerangkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Perintahkanlah anak-anakmu mengerjakan salat ketika masih berusia tujuh tahun. Dan pukullah mereka karena meninggalkan salat bila berumur sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka (antara laki-laki dan perempuan)." (HR. Abu Daud)

*****

Di kelilingi banyak anak dalam rumah tangga, rupanya, menjadi impian Budi dan Yoyoh sejak keduanya bersanding di pelaminan. Derai tawa diselingi canda dengan si mungil begitu menggoda pikiran keduanya. Keinginan hati untuk memiliki banyak anak pun telah dipancangkan sejak awal. Kini, setelah 20 tahun mengarungi bahtera rumah tangga, keduanya dikaruniai 13 orang anak; Ahmad Umar Al-Faruq, A’izza Jundana, Asma Karimah, Huda Robbani, Sholahuddin Al-Ayyubi, Ja’far Ath-Thoyyar, Salma Salimah, Muhammad Ayyasy, Walid Ghozin, Adil Gholib, Abdulloh Aminuddin, Helma Hamimah, dan Rahma Rahimah.

Bagi Budi yang kini menjabat staf ahli Menteri Pemuda dan Olah Raga RI, memiliki banyak anak adalah sebuah cara mengikuti sunah Rasulullah SAW. "Bukankah Rasulullah SAW pun memiliki banyak anak?" pikirnya. Apalagi saat menikah, Budi dan Yoyoh adalah pasangan muda dan subur sehingga kemungkinan untuk memiliki anak dapat segera direalisasikan. "Kami berdua juga suka sama anak-anak," katanya.

Meski lahir di Bandung, Budi mengaku dibesarkan dalam lingkungan Jawa yang cukup kuat; Bapaknya asli Salatiga dan ibunya berasal dari Solo, Jawa Tengah. Istilah banyak anak, banyak rejeki pun telah dikenalnya sejak kecil. Namun, istilah tersebut sangat tidak diyakininya. Budi hanya memiliki keyakinan bahwa setiap anak yang terlahir membawa rejekinya masing-masing. Keyakinan inilah yang mendasari dirinya untuk tidak takut memiliki banyak anak. Ia pun yakin bahwa Allah Ta'ala mengurangi rejekinya adalah semata-mata karena dosa-dosa yang pernah dibuatnya. Tapi dirinya tidak yakin jika Allah Ta'ala tidak memberikan rejeki untuk anak-anaknya, karena mereka adalah fitrah, belum memiliki dosa.

Budi mengaku bersyukur karena sampai saat ini Allah Ta'ala masih memberikan rejeki yang berlimpah untuknya. "Bisa jadi ini sebenarnya adalah rejeki yang diberikan Allah Ta'ala untuk anak-anak saya," katanya. Kalau hal itu benar, lanjutnya, berarti saat ini, dirinya tengah menumpang hidup kepada anak-anaknya.

Meski demikian, saat dirinya telah memiliki tujuh orang anak, sempat terpikir dalam benak Budi untuk tidak menambah anak lagi. Namun, ternyata Yoyoh menghendaki untuk tidak melahirkan lagi setelah usia 42 tahun. Rencananya, saat usia Yoyoh menginjak usia 45, ia akan melanjutkan pendidikan ke pasca sarjana. Yoyoh yang kini menjabat anggota DPR RI tengah menggagas sebuah rancangan undang-undang yang mengatur bahwa jumlah anak adalah hak asasi manusia. Jadi, peraturan yang selama ini mengatakan bahwa pasangan suami istri hanya boleh memiliki dua anak diharapkan tidak lagi berkembang.

7 Aspek Pendidikan

"Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan baru" (QS. At-Tahrim:6). Ayat ini dipahami benar oleh Budi dan Yoyoh dalam mengarungi bahtera rumah tangga agar diridloi Allah SWT. Begitu pula dalam memberikan pendidikan kepada ketiga belas anaknya.

Dalam mendidik anak-anaknya, Budi dan Yoyoh memiliki tujuh aspek yang harus dilakukan, yaitu Tarbiyah Imaniyah (Pendidikan Keimanan), Tarbiyah Khuluqiyah (Pendidikan Akhlaq), Tarbiyah ‘Aqliyah (Pendidikan Akal), Tarbiyah Nafsiyah (Pendidikan Jiwa), Tarbiyah Ijtima’iyah (Pendidikan Sosial), Tarbiyah Jismiyah (Pendidikan Jasmani), dan Tarbiyah Jinsiyah (Pendidikan Seksual).

Untuk menerapkan ketujuh aspek tersebut, menurut Budi, harus disiapkan lima buah sarana, yaitu adanya keteladanan, pembiasaan, pengawasan, nasihat, dan adanya konsekuensi atau hukuman. Kelima sarana tersebut, sambung Budi, harus dilakukan secara berurutan, tidak boleh dibalik.

Keteladanan, sebagai sarana pertama, harus dilakukan orang tua dalam keseharian. Sebagai contoh, mayoritas anak-anaknya lebih menyukai membaca Alquran dan bacaan di bidang psikologi disebabkan mereka sering melihat Budi yang sering membaca buku-buku psikologi, sementara Yoyoh membaca Alquran dan kitab-kitab kuning, kitab-kitab yang biasa digunakan di pesantren salaf (tradisional).

Sejak kecil, anak-anak mereka sudah diberikan sejumlah tanggung jawab agar memiliki kepercayaan diri untuk hidup mandiri. Begitu pula dalam menciptakan rasa empati kepada seluruh anggota keluarga. Anak pertama diberikan tugas untuk membimbing dan memperhatikan anak keenam. Sementara anak kedua memperhatikan anak ketujuh, anak ketiga untuk anak kedelapan, dan seterusnya.

Sementara untuk menentukan sebuah kebijakan yang harus dipatuhi seluruh anggota, Budi selalu mengajak anak-anaknya turut dalam rapat keluarga. Dalam rapat tersebut, tak jarang bentuk konsekuensi atau hukuman disosialisasikan kepada seluruh anggota keluarga. Dari situ, seluruh anggota keluarga akan mengetahui konsekuensi atau hukuman apa yang akan diterimanya jika melakukan sesuatu.

Dalam setiap rapat keluarga tersebut, Budi selalu mengatakan bahwa kita ingin bersama-sama memasuki pintu surga. Untuk dapat memasukinya, setiap anggota harus melakukan tiga hal; benar, pintar, dan tegar. “Kalau kita melalaikan shalat berarti kita tidak benar. Kalau tidak belajar berarti tidak pintar, dan kalau tidak rajin memperhatikan kesehatan berarti tidak segar,” tegasnya.

Untuk anak-anaknya yang tidak melakukan sesuatu dengan benar, Budi lebih menekankan pemberian konsekuensi dibanding hukuman. Pemberian konsekuensi ini dilakukan sejak anak-anak masih kecil. Sebagai contoh, uang jajan sekolah dibagikan selepas salat subuh berjamaah. Bagi anak-anaknya yang tidak mengikuti salat subuh berjamaah, maka uang jajan pun tak mereka dapatkan.

Sebagai sarjana agama dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Yoyoh Yusroh memiliki peranan yang sangat dominan dalam pendidikan keislaman. Membaca Alquran mejadi suatu kebiasaannya dalam setiap saat. Tak heran jika penggiat sebuah partai Islam ini telah hafal Alquran.

Saat mengandung, kebiasaan itu kerap bertambah. Begitu pula saat menimang anak-anaknya menjelang tidur, Yoyoh tak pernah lepas membaca Alquran. Rupanya, ketekunan Yoyoh membaca Alquran menular kepada semua anaknya. Kini, minimal 5 juz ayat Alquran dapat dihafal semua anaknya. Bahkan Salma Salimah, anak kedelapan yang masih berusia 9 tahun, dapat menghafal sebanyak 17 juz.

Kecerdasan anak-anak Budi dan Yoyoh, ternyata, tak hanya di bidang keislaman. Mereka pun sukses di bidang ilmu pengetahuan umum. Tiga orang anak saat ini tercatat sebagai mahasiswa di Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. Bahkan anak ketiganya merupakan mahasiswa termuda kedua, karena pada saat masuk ia masih berumur 16 tahun.

Menikah Muda

Bingkai keluarga Islami yang hendak dibangun Budi dan Yoyoh betul-betul dimulai dari awal pertemuan mereka. Tidak seperti anak-anak remaja lainnya, Budi dan Yoyoh tidak pernah merasakan asyik masyuk berpacaran. Sebelum menikah, bahkan keduanya belum pernah saling kenal.

Saat menjadi mahasiswa, Budi yang mulai menggali kajian keislaman memahami betul bahayanya pergaulan dengan lawan jenis. Sejak itulah dirinya memutuskan untuk segera menikah di usia muda. Lewat seorang teman, Budi meminta dicarikan calon istri dengan kriteria pandai di bidang agama, memiliki hafalan Alquran yang banyak, dan memahami bahasa arab.

Kriteria tersebut ia tetapkan dengan harapan anak-anaknya kelak memiliki ibu sekaligus guru yang membimbing dalam rumah tangga. "Dalam benak saya, anak-anak nantinya akan belajar bahasa arab dari ibunya dan bahasa inggris dari saya," kisah Budi yang mengenyam pendidikan di Universitas Indonesia.

Bak gayung bersambut, Budi tak membutuhkan waktu lama untuk berkenalan dengan Yoyoh lewat seorang teman. Dengan penuh kebulatan tekad, perkenalan Budi dengan Yoyoh hanya berlangsung dua hari sebelum kemudian Budi melamarnya. Pihak keluarga yang mengetahui kebulatan tekadnya dengan senang hati memberikan dukungan penuh kepada Budi. Ia pun menikah diusia ke-24 sementara Yoyoh berusia 23 tahun.

Kini, konsep menikah di usia muda pun hendak diterapkan Budi dan Yoyoh kepada anak-anaknya. Perkenalannya dengan pemikiran Abraham Matlow, seorang psikolog berkebangsaan Amerika, berpengaruh besar pada keputusannya itu. Menurut Budi, Abraham menginformasikan bahwa dirinya menikah di usia 20 tahun. "Kalau saja saya menikah lebih muda, maka saya akan lebih produktif," kata Budi menyitir ucapan Abraham yang telah menulis 150 buku.

Konsep itu dipercaya betul oleh Budi dan Yoyoh hingga ia menyarankan kepada anak pertamanya agar menikah di usia muda. "Kalau kamu sudah suka pada seseorang dan merasa sudah siap, menikahlah. Nanti kami akan melamarkannya untukmu," ucapan ini sering dikatakan Budi kepada anaknya.

Pernah, anaknya yang kedua, A’izza Jundana, saat masih SMA diketahui memiliki ketertarikan kepada seorang perempuan. Budi lalu menanyakan kesiapannya untuk menikah agar ia dapat segera melamar untuk anaknya. Dilihat dari kesiapannya mencari nafkah, menurut Budi, A'izza sebenarnya sudah mampu karena memiliki pekerjaan sebagai suplier komputer. A'izza pun dapat menjadi teknisi komputer yang telah memiliki pelanggan cukup banyak. Namun, karena merasa umurnya belum matang, akhirnya A’izza dengan tersipu malu menolaknya. Dengan penuh kasih sayang, Budi pun menyarankan agar A'izza berkonsentrasi pada pelajaran.

Model pendekatan seperti ini, menurut Budi, cukup baik untuk mengontrol perilaku anak saat naluri biologis secara fitrah mulai muncul. Hal ini diyakininya pula merupakan langkah awal agar anak tidak terjerumus pada kehidupan remaja yang berpikir bebas tentang pergaulan dengan lawan jenis.

Indahnya Sebuah Keluarga Besar:

1. SEJAK AWAL: Memberikan pendidikan sejak mengandung anak-anaknya adalah cermin kepedulian orang tua. Anak adalah investasi orang tua di dunia dan di akhirat kelak.

2. KETELADANAN: Perilaku anak akan bercermin pada apa yang diperbuat orang tua. Ibarat pepatah, buah jatuh tak jauh dari pohonnya, perilaku anak tentu tak berbeda dengan apa yang dilakukan ibu bapaknya. Biasakan santun dalam berucap, sopan dalam bertindak.

3. MEMBUKA PELUANG USAHA: Melibatkan anak dalam usaha yang digeluti orang tua adakalanya berdampak positif. Anak akan belajar bagaimana memahami dunia usaha, bagaimana cara mencari rizki. Tumbuhkan mentalitas sosok pekerja keras dalam tubuh anak agar tidak menjadi pemalas di kemudian hari.

4. MUSYAWARAH: Dalam menentukan kebijakan yang mesti dipatuhi seluruh anggota keluarga, musyawarah adalah hal yang tak boleh ditiadakan. Selain menciptakan sistem demokrasi, dalam musyawarah terjadi proses dialogis antara orang tua dan anak. Sebagai orang tua, konsep musyawarah adalah baik agar tidak berorientasi pada sikap otoriter. Begitu pula bagi anak yang akan menuangkan pikirannya secara bebas tentang apa yang diinginkannya.

5. KASIH SAYANG DAN EMPATI: Untuk sebuah keluarga besar, saling memberikan kasih sayang dan empati kepada antar anggota keluarga harus mendapat porsi cukup besar.

6. KONSEKUENSI DAN HUKUMAN: Penerapan konsekuensi dan hukuman adalah bagian dari metode pendidikan. Lewat konsekuensi dan hukuman, anak akan belajar memikirkan setiap tindak tanduk yang akan dilakukan.


(Disadur dari Majalah Taubah Edisi Desember 2005, Imam Fathurrohman)

Baca Selanjutnya......

Tuhan Fair Play, Dong..

Perempuan tua itu meringis kesakitan ketika anak asongan penjaja permen dan rokok sekonyong-konyong menerobos barisan para penumpang yang keletihan. Bahkan perempuan tua itu hampir terjatuh kalau saja bahunya yang doyong tidak tertopang badan gemuk lelaki berkumis tebal yang berlepotan asap rokok.

“Uups.., hampir saja,” gumam si nenek bersyukur meski sejurus kemudian hatinya mengumpat karena jantungnya yang karatan harus empot-empotan menahan sambaran asap rokok.

Si anak asongan yang menjadi pelaku insiden itu hanya cengar-cengir, dingin. Tidak ada kata maaf yang terucap. Begitu juga ketika laki-laki berjaket kulit lusuh mengumpatnya karena sepatu hitam yang dibelinya di emperan Blok M dua hari lalu terinjak. Kali ini si anak asongan pun diam, bahkan tak ada cengar-cengir. Lebih dingin, anarkis!

Mang Endut yang duduk ngedeprok tak jauh dari insiden itu ikut mengumpat dalam hati. Ooh, siakul (sialan, pen) benar si anak asongan itu. Tak tahu rasa hormat! Mang Endut yakin benar si anak asongan tak belajar banyak tentang tatakrama, unggah-ungguh, atau sopan santun. Diajari apa saja oleh orangtuanya?

Episode umpat-umpatan di benak Mang Endut tak berlangsung lama. Karena matanya yang sejak tadi mengikuti arah punggung si anak asongan terbentur badan seorang perempuan nan aduhai. Ah, dasar mata lelaki. Mang Endut yang sudah terlatih dalam perihal ini langsung mengambil sikap ‘waspada’. Matanya yang sebenarnya sudah kriyep-kriyep (mengantuk, pen) dicobanya untuk kembali terjaga.

“Ah, Tuhan memang Maha Adil. Di antara sekian banyak manusia kucel, ada saja bidadari yang dikirim untukku,” gumamnya sok tahu.

Bagi Mang Endut sosok perempuan itu, boleh jadi, adalah anugerah. Kepenatannya yang telah berlangsung sejak dari Stasiun Gambir sedikit pudar. Untuk kali ini, bahkan Mang Endut merasa kecolongan. Dia tidak habis pikir, kenapa baru sekarang matanya melihat perempuan itu. Kenapa setelah melewati Stasiun Universitas Indonesia bidadari itu menampar mukanya yang kusut? Mang Endut menjerit dalam hati. Mang Endut mendesis geram.

Oh, malangnya Mang Endut.

Kemalangan Mang Endut ternyata masih berlangsung. Perempuan nan aduhai itu ikut turun bersama penumpang lainnya ketika kereta berhenti di Stasiun Depok. Dengan sedikit berdesakkan, perempuan itu turun sambil menenteng tas biru berornamen bunga matahari.

Oh, malangnya Mang Endut.

Bayangan perempuan nan aduhai dengan kaus ketat warna putih, celana jeans biru, membuainya ke dimensi khayal.

Oh, andai saja dia mau diajak keliling ITC Depok sebentar saja. Oh, andai saja dia mau diajak menikmati es krim di ujung mall. Oh, andai saja dia mau diajak mampir ke warung tenda di seberang stasiun. Oh, andai saja dia mau diajak ‘sharing’ tentang cinta. Oh, andai saja dia mau... Nyi Larung, good bye.

Mang Endut terlelap membawa khayalan itu ke dimensi mimpi.


***

“Mbok, kenapa saya tidak boleh mencintai Larasati?” Janthuk meradang dengan tatapan serius memandang ibunya.

“Ooalah, Le.. mbok ya kamu sadar. Siapa dirimu dan siapa Ndoro Larasati.” tegas benar jawaban yang diberikan si ibu.

“Saya tidak mengerti, Mbok..”

“Le, kita ini hanya orang miskin. Sampai sekarang saja kita sudah tidak makan nasi sejak dua hari lalu. Beruntung masih ada sisa gaplek yang dikirim tetangga, sehingga kita tidak mati kelaparan. Dan kamu sendiri juga harus sadar, Le. Ndoro Larasati itu ayune kayak Dewi Sembodro. Sementara kamu.. Oh, mukamu bopeng karena bisul yang tak kunjung sembuh sejak kamu dilahirkan. Le, eling yo..”

Janthuk terdiam.

Memang benar apa yang dikatakan ibunya, bahwa mencintai Larasati ibarat punduk merindukan rembulan. Janthuk sendiri sebenarnya sudah paham kondisi ini. Bahkan, telah sejak lama Janthuk mengerti betapa jauh jurang yang menganga di antara dirinya dan Larasati. Janthuk telah sangat paham, lebih paham dari siapapun yang mengenal dirinya.

Yang tidak habis pikir dalam benak Janthuk adalah mengapa Tuhan begitu tega telah menciptakan dirinya berbeda dengan lelaki lainnya. Janthuk berbadan pendek, berkulit legam, bergigi tonggos, dan berwajah bopeng akibat bekas pecahan bisul-bisul yang dideritanya sejak kecil. Sementara lelaki lain berbadan sempurna, meski dengan standar yang berbeda. Jika ada yang jelek, tak ada satupun lelaki di kampung Janthuk yang melebihi kejelekannya. Apalagi Raden Emin yang rupawan ditunjang kepintaran di atas rata-rata.

“Mbok, jika perbedaan itu sangat lebar, siapa yang harus disalahkan? Bukankah saya sendiri tidak pernah meminta dilahirkan dengan rupa seperti ini. Mengapa ini terjadi, Mbok?” pertanyaan Janthuk menghujam tepat di jantung si ibu.

Si ibu terdiam. Suasana seketika hening.

“Ini sudah kersaning Gusti Allah, Le. Terima saja..” datar saja jawaban si ibu.

“Tidak bisa, Mbok. Saya tidak terima diciptakan seperti ini oleh Tuhan. Saya harus protes. Tuhan tidak fair play..”

“Oalah, Le. Sadar, yo..”

“Tidak bisa! Saya harus mencari Tuhan untuk menanyakan hal ini!”

“Ojo dumeh kowe, Le. Kamu jangan macam-macam. Jika Tuhan murka, siapa yang mau menolong kamu?”

“Tidak bisa! Tuhan tidak fair play!”

“Lalu, jika kamu anggap Gusti Allah tidak adil, mau ke mana kamu protes?”

“Ya.. ke Tuhan.”

“Tapi, di mana kamu bisa menemui-Nya?”

“Nah, itulah yang ingin saya tanyakan kepada Simbok. Di mana Tuhan?”

Seketika kepala si ibu dipenuhi kunang-kunang yang hilir mudik berputar tak henti. Pusing benar si ibu ketika alamat Tuhan ditanyakan anaknya. Seingatnya, Tuhan tidak pernah terdaftar dalam lembaran lontar yang tersimpan sebagai arsip di kantor Ki Kuwu. Di dusun ini saja tak ada satupun penduduk bernama Tuhan. Teman-temannya semasa kecil pun tak ada yang bernama Tuhan. Entah di kampung lain. Otak si ibu tiba-tiba lelah memikirkan itu semua.

“Simbok tidak tahu, Le. Ibu pun tidak pernah bertemu dengan-Nya.”

“Jadi, saya harus mencarinya ke mana?”

“Coba kamu tanyakan ke Kyai Bodronoyo atau Habib Rizieq atau Gus Dur atau Amien Rais atau mungkin saja Raden Susilo Bambang Yudhoyono. Barangkali mereka pernah bertemu dengan Tuhan di kampung lain.”

“Baik, Mbok. Kalau begitu saya pamit untuk mencari Tuhan. Doakan agar protes saya ini tersampaikan dan Tuhan mau bertindak fair play..”

“Iya, Le. Si Mbok doakan.”


***


Hari masih siang saat pelepah kelapa kering jatuh menimpa pohon ketela yang ditanam sembarang di tepi jalan setapak. Jatuh pelepah kering itu berdebam seolah-olah pohon kelapa itu melampiaskan emosinya karena jatah air yang diterimanya diserobot pohon ketela. Lagi pula, bukankah pohon ketela seharunya ditanam di ladang bersama sekelompok pohon ketela lainnya? Ah, iseng benar manusia yang menanam pohon ketela itu.

Tanah di jalan setapak melepuh, mengeluarkan asap tipis yang hampir tidak terlihat. Hanya uapnya saja yang sangat terasa mengeringkan kulit siapapun yang melintasi jalan setapak itu. Dan daun-daun lamtorogung turut merasakan panasnya hari dipanggang matahari. Dalam waktu yang tak lama, daun-daun hijau lamtorogung berubah menguning. Sementara yang berwarna kuning secepatnya mengering untuk kemudian jatuh perlahan, terjerembab berserakan menjadi ornamen tanah kecoklatan.

“Assalamu’alaikum, Kyai,” Janthuk menyapa sosok lelaki yang tidak begitu renta di ujung sebelah kanan jalan setapak.

“Wa’alaikumussalam.”

Lelaki setengah tua yang disebut kyai itu menjawab penuh kesopanan. Siapapun pasti mengenalnya sebagai sosok kyai meski sebelumnya tak pernah bersua. Dengan tasbih yang terus diputar di antara jemari dan gamis putih panjang yang dikenakannya, siapapun akan mengenalnya. Terlebih lagi sosok kyai ini juga berpakaian lengkap dengan udeng-udeng yang menghiasi kepalanya dan sorban hijau yang menjuntai hampir menyentuh tanah. Penampilannya persis wali songo atau habib-habib yang bermarkas di Petamburan.

“Kyai, saya ada keperluan mendesak dengan Tuhan. Apakah Kyai mengenal-Nya?”

“Insya Allah saya mengenal-Nya. Allah adalah pencipta semesta alam ini. Dialah yang Maha Kuasa, Maha Rahman, dan Maha Rahim.”

“Kalau itu saya tahu, Kyai. Tapi, apakah Kyai dapat menunjukkan di mana alamat Tuhan? Saya benar-benar memiliki keperluan mendesak yang harus saya sampaikan sendiri kepada-Nya!”

Kyai bersorban hijau itu terdiam. Yang ia tahu Tuhan itu bersemayam di Arsy. Tapi apakah ia musti memberikan alamat Arsy itu kepada anak muda jelek ini? Sementara ia sendiri pun tidak pernah berkunjung ke Arsy. Ah, hati kyai itu menjadi ragu. Ia tidak ingin memberikan alamat yang ia sendiri pun tidak pernah mengetahuinya.

Ataukah Baitullah? Bukankah Baitullah itu merupakan Rumah Allah? Tapi..?

Hati kyai kembali ragu. Telah lima belas kali ia mengunjungi Baitullah untuk berhaji dan telah tiga puluh kali ia berumroh untuk menghiba di Rumah Allah. Tapi, ia sendiri belum pernah menemui Allah di tempat itu. Ah, hati kyai itu menjadi tambah ragu. Ia tidak ingin memberikan alamat yang ia sendiri pun tidak pernah bertemu dengan tuan rumahnya. Ia sendiri tidak yakin benar, apakah ia benar-benar mengenal Tuhannya.

“Kyai..” Janthuk mencoba menyadarkan lamunan Sang Kyai.

“Oh... anak muda, sejujurnya saya sendiri belum pernah bertemu dengan Tuhan. Saya tidak mengetahui secara pasti di mana alamatnya.”

“Bukankah Anda seorang Kyai? Anda tentu lebih menguasai ilmu agama dibanding orang kebanyakan. Anda tentu mengenal Tuhan..”

“Oh, bukan begitu. Saya hanya mengerjakan apa yang telah digariskan sebagai kewajiban. Apapun yang diperintahkan Allah pasti saya lakukan, adapun yang terlarang pasti saya hindari.”

“Bagaimana mungkin? Kyai sendiri tidak mengenal siapa yang memerintahkan kewajiban-kewajiban itu? Apakah Kyai membeli kucing dalam karung?”

Kyai kembali terdiam. Baru kali ini ia mendapat serangan sangat hebat. Selama 35 tahun memimpin pesantren tak satupun santrinya pernah bertanya seperti ini. Tiba-tiba saja ia tersadar betapa dangkalnya ilmu yang ia miliki. Hampir seluruh hidupnya habis untuk menggeluti ilmu agama. Sampai-sampai ia memahami betul tafsir Alquran dan mampu menguak kandungan Alhadits. Kyai benar-benar tersadar bahwa selama ini ia terjebak oleh rutinitas keagamaan yang ia sendiri kurang paham tentang perwujudan sesembahannya.

Miris benar hatinya. Bertahun-tahun ia gigih memperjuangkan nilai-nilai yang dianggapnya benar berasal dari Allah dan Nabi Muhammad SAW. Bertahun-tahun pula ia berbantah-bantahan tentang perihal bid’ah dengan kyai-kyai yang berseberangan dengannya. Ia tak sekadar mencaci bahkan mencap siapapun yang berseberangan dengannya sebagai kafir.

Kini, seorang anak muda menyibak tirai kebodohannya. Kyai tersadar bahwa selama ini ia sosok egois yang tidak mengerti apa-apa!

“Baiklah, Kyai. Kalau begiatu saya pamit meneruskan perjalanan untuk mencari Tuhan.”

“Silakan, Nak. Sampaikan salam kepada-Nya dan katakan pula bahwa saya siap jika sewaktu-waktu dipanggil menghadap-Nya untuk masuk surga.”

“Baik, Kyai. Assalamu’alaikum!”

“Wa’alaikumussalam.”


***

Pegal benar badan Janthuk setelah berhari-hari berjalan menyusuri arah timur mencari Tuhan. Jika dihitung, telah dua puluh satu hari Janthuk menghentakkan kakinya mencari alamat Tuhan. Setiap orang yang ditemui selalu ditanyakan kepadanya di mana alamat Tuhan. Pun ketika Janthuk menemukan pesantren, masjid, mushalla, atau madrasah yang diyakininya berpenghuni orang-orang alim. Hasilnya? Nihil. Tak satupun orang-orang yang ditanyai mengenal Tuhan dan mengetahui alamatnya. Sulit benar mencari Tuhan dan alamat-Nya.

“Selamat sore, Pak.” Janthuk menyapa lelaki tegap bertato naga yang tengah menyantap daging bebek bakar.

“Sore,” singkat saja jawabannya.

“Pak, apakah Anda mengenal Tuhan? Saya ingin bertemu dengan-Nya. Ada keperluan mendesak yang mengharuskan saya bertemu langsung dengan-Nya. Anda tahu di mana tempat tinggal-Nya?”

Berguncang tanah yang dipijak Janthuk ketika lelaki bertato naga itu terbahak menggelegar. Sebagian daging yang berada di mulutnya berloncatan keluar karena lebarnya ukuran mulut lelaki bertato naga itu saat terbahak. Ia terpingkal-pingkal, seolah baru saja melihat bualan Tukul di acara Empat Mata.

“Tuhan? Siapa Tuhan? Saya tidak pernah peduli siapa Tuhan. Yang saya tahu, saya adalah kepala perampok penguasa daerah ini. Bagi saya, Tuhan hanyalah pepesan kosong yang banyak menipu banyak orang. Hei, anak muda! Jadilah dirimu sendiri! Jangan pernah mencari Tuhan karena Dia tidak akan pernah kau temui atau menemuimu!”

“Tapi.., ada persolan mendesak yang harus saya tanyakan kepada-Nya.”

“Persoalan apa? Selesaikan sendiri. Jangan pernah menghiba kepada-Nya!”

“Baik, baiklah. Tapi, tolong tunjukkan saja kepada saya di mana alamat Tuhan!”

Lelaki bertato naga itu terdiam. Ada sesuatu yang mengganjalnya. Bukan, bukan tulang bebek yang mengganjal tenggorokannya. Tapi ada sesuatu yang benar-benar mengganjal hatinya. Tampaknya, lelaki bertato naga itu sebenarnya telah sejak lama mencari Tuhan, cuma dia tidak tahu harus ke mana mencari-Nya. Dia sebenarnya penasaran dengan Tuhan, meski rasa ketidakpedulian lebih menguasai jiwanya.

“Saya tidak tahu. Coba kamu berjalan terus ke timur. Konon di sana ada Rumah Tuhan yang sering ditemui orang banyak.”

“Baik, terima kasih..”

“O, iya. Sampaikan salam kepada-Nya dan katakan bahwa saya siap bertemu dengan-Nya meski di neraka sekalipun. He, heh, heh...”


***


Kali ini rasa penat benar-benar menguasai jiwa Janthuk. Begitu pula letih dan pegal yang menggerumuti tulang belulang di badannya. Janthuk kelelahan. Telah genap tiga puluh hari ia berjalan menjalani misinya. Tidak ada titik terang misinya akan berakhir.

Di tengah keletihan yang sangat, hatinya melonjak girang ketika di depannya terlihat sungai kecil yang dialiri air bening. Badan Janthuk segera meronta, kakinya seketika melompat mengejar kebahagiaan di depan mata. Aliran air itu diyakininya mampu menghilangkan kelelahan sekaligus melenyapkan dahaga yang mengeringkan tenggorokan.

“Selamat pagi, Nek,” sapa Janthuk ketika bertemu seorang nenek yang tengah mencuci beras di pinggir sungai kecil itu.

“Pagi, Nak. Kamu bukan penduduk sini, kan?”

“Bukan, Nek. Saya Janthuk yang sedang mencari alamat Tuhan. Apakah nenek pernah bertemu dengan-Nya? Di mana alamat-Nya?”

Si nenek terdiam.

Diam si nenek bukan diam karena tidak mengerti. Diam si nenek adalah emas yang kemilau karena keluasan ilmu yang dimilikinya. Si nenek adalah mutiara yang kedalaman jiwanya bening, lebih bening dari apapun. Meski bentuk rupa mutiara adalah hitam, namun ‘isinya’ penuh kesucian. Jelas betul perbedaan antara jasad dan isi, antara bathil dan haq.

Si nenek hanyalah tamsil betapa manusia sering terkecoh oleh bentuk, rupa, perwujudan. Manusia kerap melihat sebuah hal hanya dari satu sisi, tidak dari sisi lainnya. Manusia hanya lebih suka melihat yang kasat mata, tapi tidak dari substansinya. Inilah kebodohan yang memang menjadi trademark manusia seutuhnya.

“Nak, kamu benar-benar ingin bertemu Tuhan?” tanya si nenek memastikan.

“Benar, Nek. Tolong tunjukkan di mana Dia bisa saya temui?”

“Baiklah. Saya melihat kesungguhan yang luar biasa dari dirimu. Mudah-mudahan Gusti Allah mendengar kebulatan niatmu.”

“Amin. Tapi di mana Dia?”

“Nak, naiklah ke dheling itu. Niscaya kamu dapat menemui Tuhan dipucuk dheling,” si nenek menunjukkan dheling (pohon bambu) yang tak jauh dari tempatnya mencuci.

“Dheling? Dengan apa saya bisa menaikinya, Nek?”

“Terserah dirimu. Kalau kamu benar-benar berniat menemui-Nya, pasti kamu bisa.”

Si nenek beranjak dari tempatnya. Sementara Janthuk harus terdiam sambil memikirkan cara yang cepat menaiki dheling agar segera menemui Tuhan. Dheling yang dimaksud si nenek, sejatinya, adalah kiasan. Dalam bahasa Jawa, dheling yag dimaksud bermakna kandhele eling-eling, tebalnya iman. Janthuk benar-benar percaya bahwa Tuhan mampu ditemuinya.

Namun, Janthuk bukanlah anak sekolahan yang setiap hari belajar memecahkan masalah dengan teori-teori. Di sampingnya pun tidak ada seorang profesor, dosen, atau ustadz yang bisa dijadikan tumpuan pertanyaan. Lagi pula Janthuk tak yakin benar apakah mereka mampu memberinya solusi. Sejumlah orang yang ditemuinya di sepanjang jalan saja tidak ada yang tahu cara menemui Tuhan.

Akhirnya, Janthuk tak lagi mampu berpikir. Namun, Janthuk tidak mau diam. Tekadnya yang bulat untuk ‘mendemo’ Tuhan harus dilakukan. Janthuk mulai memanjat dheling yang dianggapnya paling tinggi. Ia sangat yakin bahwa Tuhan berada di puncak yang paling tinggi. Tidak mungkin Tuhan bersemayam di dheling yang sedikit rendah. Pastilah yang paling tinggi.

Janthuk segera memanjat dengan sangat hati-hati. Baru sampai ruas bambu yang kedua, Janthuk terjatuh. Begitu pula ketika ia kembali memanjatnya untuk kali kedua, ia pun terjatuh. Janthuk tidak putus asa. Janthuk terus memanjat dheling meski berkali-kali ia terjatuh, meski badannya terbentur tanah keras dan batu-batu. Siang dan malam menjadi saksi betapa Janthuk benar-benar berupaya sangat keras mewujudkan keinginannya bertemu Tuhan.


***

Hari ini adalah yang kesebelas atau keempat puluh satu sejak Janthuk pergi dari rumahnya untuk mencari Tuhan. Sudah beribu kali Janthuk jatuh bangun memanjat dheling. Beberapa bagian badannya terdapat luka-luka, sebagian kering dan sebagian lainnya masih basah. Janthuk adalah petarung sejati yang tak kenal lelah dan tak pernah mengeluh meski beribu kali usahanya gagal. Janthuk sangat yakin jika Tuhan benar-benar dapat ditemuinya.

Dan, benar saja. Usaha Janthuk tidaklah sia-sia. Di tengah malam saat bulan purnama menerangi kegelapan, Janthuk telah mencapai ruas dheling paling tinggi. Janthuk benar-benar berada di pucuk dheling yang menjulang. Di situlah Janthuk, untuk pertama kali, melihat Tuhan. Segala keletihan raga, kepenatan jiwa, luka-luka yang berserakan, seolah sirna seketika. Janthuk benar-benar bersuka ria.

“Benarkan Engkau Tuhan pencipta langit, bumi, dan segala isinya?” Janthuk langsung nyerocos mengajukan pertanyaan pertamanya. Ia tidak ingin setiap waktu yang dilaluinya bersama Tuhan hilang tanpa makna.

“Benar,” Tuhan menjawab.

“Oh, sungguh senangnya hati saya. Tuhan, langsung to the point aja, ya..”

“Silakan,”

“Kenapa Engkau ciptakan saya dengan keadaan seperti ini? Tubuh pendek, kulit legam, dan wajah yang menyeramkan. Berbeda sekali dengan teman-teman saya Anjasmara, Ariel Peter Pan, Thomas Djorghi, atau Raden Tukul Arwana. Engkau juga menciptakan saya sangat berbeda dengan teman-teman di sebelah kampung, seperti Van Damme, Nicolas Cage, Alessandro Del Piero, Trezeguet, David Beckham, Steven Gerard, atau James Bond. Mereka orang-orang yang sangat ‘enak’ dipandang dan digilai banyak wanita. Engkau juga tidak menciptakan saya dalam keadaan pintar, seperti Gus Dur, Amien Rais, Habib Rizieq, Thomas Alfa Edison, James Watt, atau B.J. Habibie. Kenapa? Bahkan untuk mencintai Ndoro Larasati saja saya tidak berhak. Kenapa Engkau tidak fair play, Tuhan?”

Protes yang dilancarkan Janthuk, sesungguhnya jauh dari kesan marah apalagi dikuasai amarah. Janthuk menangis dengan wajah yang tertunduk. Janthuk malu, membiarkan mulutnya mengeluarkan kata-kata itu. Tapi, kata-kata itu musti terucap agar tanda tanya besar yang ada di otaknya mendapatkan jawaban kebenaran.

“Janthuk, sesungguhnya kamu adalah hamba pilihan-Ku. Tahukah kamu, jika Aku telah menetapkan seseorang sebagai hamba pilihan-Ku, maka Aku akan mengujinya. Jika ia bersabar maka Aku benar-benar memilihnya. Dan jika ia ridha maka niscaya Aku akan mengutamakannya. Ikhlaslah atas apa yang telah Aku takdirkan kepadamu, Janthuk.

Kesabaran yang kamu miliki atas apa yang terjadi dalam setiap detik kehidupanmu, itupun menjadi perhatian-Ku. Ketika orang-orang lebih senang mengejekmu, kamu malah rajin bersyukur atas pemberian-Ku. Lidahmu pun tak pernah kering memuji-Ku setiap orang-orang menertawakanmu. Kamu tidak mendendam atas perbuatan mereka, bahkan mendoakan mereka. Ketahuilah Janthuk, sabar adalah sifat utama. Sabar atas apa yang kamu benci, di dalamnya terdapat banyak keutamaan.

Janthuk, meski Kuciptakan kamu dalam keadaan rupa seperti itu, namun kamu memiliki hati yang bersih. Sesungguhnya Aku tidak pernah melihat seseorang dari rupa, pakaian, atau identitas tertentu. Tapi yang Aku perhatikan adalah hati mereka, apakah bersih dan selalu mengingatku ataukah tidak. Begitu pula orang-orang yang mengaku dirinya dekat dengan-Ku, belum tentu Aku pastikan dia masuk ke dalam surga-Ku. Banyak di antara mereka yang merasa pintar dan benar, tetapi sebenarnya mereka congkak dengan menciderai hati banyak orang.

Aku senang atas apa yang telah kamu perjuangkan untuk menemui-Ku. Selama 41 hari ini kamu tidak berputus asa, meski beban yang dipikul jiwa dan ragamu begitu berat. Kamu istiqamah atas niat untuk bersua dengan-Ku. Kini, bersiaplah menerima kenikmatan yang sebenarnya, yang tidak setiap orang mendapatkannya. Bersyukurlah, Janthuk. Protesmu telah mengantarkanmu ke haribaan-Ku.

Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku.”

Mulut Janthuk terkatup. Hatinya berdesir dengan melamatkan Takbir; ‘Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar..’, terus, berulang-ulang. Janthuk tidak menyadari dirinya kini berada di dalam surga yang dijanjikan Tuhan. Saat Janthuk memberanikan diri untuk membuka mata, di sekelilingnya terlihat pemandangan yang sangat indah. Terlebih lagi, puluhan bidadari memutari dirinya mengajak bersenda gurau.


***

“Mang, bangun. Sudah sampai Stasiun Bogor. Habis!”

Lamat-lamat terdengar suara seseorang. Mang Endut yang sejak tadi tertidur masih tetap terbuai dengan mimpinya. Kisah perjalanan Janthuk yang terpampang di televisi mimpinya masih terus berputar. Apalagi episode kali ini memerlihatkan puluhan bidadari yang tengah bermain-main dengan Janthuk di dalam surga. Oh, betapa cantiknya para bidadari itu. Oh, betapa bahagianya Janthuk. Oh...

“Mang, bangun euy. Sudah habis, nih!”

“Mang, mang, kebluk, nya?”

Seperti Janthuk, Mang Endut merasakan kedua tangannya ditarik-tarik. Sejenak, Mang Endut merasakan nikmatnya puluhan bidadari berebut tanganya. Dengan tertawa, puluhan bidadari itu saling tarik-menarik, memperebutkan dirinya.

“Mang! Ayo dong, Mang. Bangun!”

“Tau, nih. Kita cium aja, Yuk!”

Mang Endut terbangun, persis sebelum kedua orang itu berhasil menciumya.

“Oaah.. Eh, di mana saya? Siapa kalian? Jangan macam-macam, ya..” Mang Endut segera terbangun. Betapa kaget dirinya, dia telah dikelilingi dua ‘wanita jejadian’ yang berpakaian menor tak karuan. Tanpa berpikir panjang lagi, Mang Endut segera meninggalkan tempat itu dengan perasaaan bercampur aduk.

Sungguh, Mang Endut senang jika mengingat kembali peristiwa yang terpampang di televisi mimpinya. Namun, Mang Endut akan bergidik jika mengingat dua ‘wanita jejadian’ itu. Mang Endut tak habis pikir, bagaimana jika keduanya berhasil menodai dirinya?

Ah, Mang Endut. Terkadang dirinya kege-eran. Seolah-olah dirinya merupakan manusia paling laku di dunia.


Baca Selanjutnya......

Suerrr, Akang Belum Ikhlas

ANGIN malam berhembus pelan meniup setiap dedaunan yang seketika asyik bergoyang dengan syahdunya. Seperti sebuah orkestra, angin adalah sang arranger yang mengatur dedaunan untuk memunculkan sebuah alunan musik yang indah didengar. Meski tak bersyair, namun sesungguhnya irama orkestra malam itu mengandung pemaknaan nan indah tentang ciptaan Tuhan. Mereka bertasbih dan memuji seraya menyeru keagungan Tuhan dalam setiap desah dan liuk tubuhnya.

Semakin lama orkestra malam semakin seru, apalagi jangkrik dan bangkong sawah mulai bergabung dengan menyumbangkan suara khas. Orkestra malam, kini, mulai berlagu. Syairnya berasal dari jangkrik dan bangkong sawah yang saling bersahutan melantunkan syair berpantun. Tak sulit mengundang jangkrik dan bangkong sawah, karena keduanya merupakan biduan alam yang selalu senang menyumbangkan gemilang suaranya.

Alam selalu memiliki biduan-biduan terindah di jagat raya ini. Selain jangkrik dan bangkong sawah, alam di antaranya memiliki tonggeret dan burung hantu yang selalu melantunkan syair karya Sang Maha Maestro. Sementara di siang hari, panggung orkestra akan dipenuhi para biduan unggulan, mulai dari kenari, kutilang, hingga perkutut yang berkolaborasi indah dengan seruling yang ditiupkan angin.

Malam ini adalah yang kelima belas di bulan Jumadil-Akhir. Tepat pukul tujuh, bulan nan benderang menerangi alam Telaga Kahuripan yang tak seluruhnya berpijar lampu buatan. Walau purnama, danau Cilala tak ramai seperti halnya malam Minggu. Tak ada kelompok geng motor yang semalaman berjoget dangdut di tepi danau, pun tak ada sekelompok satpam yang harus menjaga keamanan. Cilala senyap, meski di beberapa titik terlihat beberapa pasang kekasih tengah asyik-masyuk. Ah, mungkin suasana seperti inilah yang dikatakan sebagai malam terindah oleh orang yang tengah dimabuk cinta.

Menerobos malam yang indah, Mang Endut melarikan sepeda motornya dengan santai. Melintasi Cilala yang sepi tak membuatnya takut atau ngeri dipergoki kuntilanak, gondoruwo, atau jin blegedek ireng (Jin dari jenis apa? Penulis sendiri tidak tahu, no comment!). Bahkan bagi Mang Endut, melintasi Cilala membuat aktifitasnya makin bertambah. Matanya wara-wiri memerhatikan titik-titik tempat sejumlah pasang manusia tengah memadu kasih. Bak kampret Gua Batman (?), mata Mang Endut menelanjangi malam sekadar menciptakan kesenangan hatinya.

Beberapa depa setelah melintasi Cilala, Mang Endut memoncongkan mulutnya untuk menghirup udara sekuat tenaga. Mang Endut bukan sejenis beruk yang gemar memoncongkan mulut, tapi ia sedang memamerkan hobinya menikmati udara nan segar. Tiga jam sebelumnya, Telaga Kahuripan basah diguyur hujan khas Bogor. Bau tanah basah masih menyengat hidung siapapun yang melintasi jalan. Bagi Mang Endut, mengendus bau tanah basah selepas hujan melebihi nikmatnya mengendus asap bakaran sate kambing Abah Warjan. Mang Endut akan mengisi penuh seluruh rongga di dadanya dengan udara segar bau tanah basah.

***

“Sudah makan, Pak?” dengan senyum nan manis Nyi Larung membuka pembicaraan seraya menyorongkan gelas berisi air putih.

“Alhamdulillah, sudah, Nyi,” jawab Mang Engdut yang dengan sigap langsung menenggak habis isi gelas bergambar Tom and Jerry itu.

“Sudah? Di mana? Lauknya apa? Sama siapa?” Nyi Larung bertanya penuh semangat. Tiba-tiba saja di hatinya muncul segunduk perasaan tidak senang atas jawaban Mang Endut.

“Di kantor sama teman-teman. Tadi kita ramai-ramai makan di warung tenda dekat kantor. Enak lho, Nyi. Pecel lelenya gurih dan sambalnya mantaaap pisan!” kisah Mang Endut dengan bangga.

“Oh, jadi begitu ya, Pak? Sejak sore saya tunggu untuk makan bersama, eh, tidak tahunya malah makan di luar. Apa Bapak tidak tahu kalau saya sudah bikin sayur asam, tempe goreng, dan ikan asin jambal roti kesukaan Bapak?”

“Maaf, Nyi. Sehabis rapat di kantor, tiba-tiba kami kelaparan. Jadi, ya..kami makan deh,”

“Lagi pula, bukankah saya sudah pesan tadi pagi supaya Bapak makan malam di rumah?”

“Iya, Nyi. Maaf, itu mah karena accident sedikit saja..”

“Hah? Accident apa-apaan? Bapak sering seperti ini. Tiba-tiba pulang dengan perut kenyang, sementara saya di sini menunggu sendirian seperti kambing congek!”

Gundukan kekesalan yang menyesakkan dada Nyi Larung akhirnya meletup. Suhu malam yang sejuk seketika berubah panas. Senyum manis Nyi Larung yang mengembang ketika Mang Endut datang pun seketika berubah menjadi getir, pahit bukan kepalang. Nyi Larung meradang. Dalam hatinya keluar seribu satu serapah tak jelas maknanya.

Mang Endut yang tersudut hanya diam. Tak ada cengar-cengir yang menjadi ciri khasnya. Suasana hatinya kecut, karena nyali kelelakiannya menjadi ciut. Ibarat bangkong sawah, Mang Endut berada dalam tempurung. Detak jantungnya melemah.

“Maaf, Nyi..”

“Tidak ada kata maaf bagimu!”

“Oh, ya? Nyai tidak mau memaafkan saya?”

“Jika dihitung, ini sudah yang ketiga puluh delapan kali, Pak! Selalu saja makanan di luar lebih Bapak pilih daripada masakan saya!”

“Sekali lagi, maaf, Nyi..”

Permintaan maaf Mang Endut di atas adalah yang terakhir, karena setelah itu suasana menjadi hening. Adapun Nyi Larung dan Mang Endut memiliki suasana hati yang berbeda. Keduanya terdiam, sejenak terlarut suasana hati yang bertolak belakang itu. Denting jam dinding yang menunjukkan tepat pukul delapan berderit parau seolah memiliki suasana hati yang kacau, sebagai bukti partisipasinya pada peristiwa yang tengah terjadi.

***


“Assalamu’alaikum.”

Sebuah suara yang datang dari arah depan mengubah kebekuan suasana. Nyi Larung dan Mang Endut yang terdiam, kini, bergeming. Suasana hati yang semrawut mulai ditata agar peperangan kecil itu tak diketahui orang lain. Seulas senyum pun siap siaga dipasang menghadang siapapun yang tadi mengucapkan salam.

“Wa’alaikumussalam.”

Nyi Larung dan Mang Endut serentak kompak menjawab salam. Tidak ada komando atau aba-aba. Ternyata masih ada sinergi yang menghubungkan hati keduanya.

“Eh, Abah Astagina. Silakan masuk, Abah,” Mang Endut yang membuka pintu dengan ramah menyambut tangan lelaki yang disebutnya Abah Astagina itu untuk diciumnya. Begitu pula Nyi Larung yang tidak ingin ketinggalan mencium tangan Abah Astagina.

Rasa hormat Nyi Larung dan Mang Endut kepada Abah Astagina begitu tinggi. Maklum saja, Abah Astagina merupakan ayah dari Nyi Larung, yang berarti juga merupakan mertua Mang Endut. Tak hanya sepasang suami-istri itu saja yang menaruh hormat kepada lelaki berusia 70 tahunan itu. Hampir seluruh warga di Gugus Candraloka, Telaga Kahuripan pun turut menaruh hormat kepadanya. Selain dituakan, Abah Astagina merupakan tempat bertanya setiap warga karena luasnya kebijaksanaan, pengalaman hidup, dan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Bahkan konon dirinya merupakan sosok yang weruh sa’durunge winarah, mengerti yang akan terjadi.

“Abah tidak sengaja mendengar percakapan sengit kalian. Maaf, bukan bermaksud menguping, tapi kebetulan saja Abah memang sengaja ingin berkunjung ke sini,” Abah Astagina menuturkan maksud kedatangannya.

Nyi Larung dan Mang Endut saling melirik. Ada perasaan tidak nyaman yang dirasakan keduanya karena peristiwa tadi di dengar Abah Astagina. Mang Endut tertunduk, sementara Nyi Larung menarik napas lebih dalam. Keduanya masih bingung, bagaimana menjelaskan peristiwa.

“Ya, seperti yang telah Abah dengar. Kang Endut ini telah membuat hati nyai kecewa..” Nyi Larung mencoba memberanikan diri untuk menjelaskan duduk persoalan.

“Meski telah membuat kecewa, apakah Nyai kehilangan rasa ikhlas telah membuat masakan untuk suami?”

“Ya, jelas, Abah..”

“Dan kamu, Endut. Perilakumu yang mengecewakan hati Nyi Larung, apakah benar-benar telah kamu sadari?”

“Sudah, Abah. Saya berjanji untuk tidak mengulanginya lagi,” kali ini Mang Endut menjawab dengan mantap.

“Nah, sebenarnya sudah selesai persoalannya, kan? Apakah Nyai masih tetap kesal?”

“Ya, jelas, Abah..”

“Cobalah untuk memaafkan, Nyai. Ikhlaskan apa yang telah terjadi. Tugas Nyai sudah benar dengan menyiapkan masakan buat suami. Adapun masakan itu, jika akhirnya tidak dimakan suami, mungkin saja hal itu sudah menjadi bagian dari rencana Tuhan. Ikhlaskan, Nyai. Insya Allah, Nyai akan mendapat balasan kebaikan yang setimpal.”

“Abah, ini bukan persoalan ikhlas atau tidak ikhlas. Ini persoalan betapa Kang Endut telah lalai dan melanggar janji yang telah diikrarkan!”

“Nyai, ikhlas itu merupakan sebuah tindakan yang tidak meminta imbalan apapun bentuknya. Begitu juga dengan apa yang telah dilakukan Nyai. Jika imbalan yang diminta Nyai hanyalah sebatas agar suamimu memakan apa yang Nyai masak, hal itu mungkin masih wajar. Akan tetapi jika imbalan itu dipinta dengan paksaan, maka niscaya hilanglah substansi keikhlasan itu. Adapun janji yang dilanggar suamimu itu pun akan menjadi pertimbangan di hadapan Tuhan!”

Nyi Larung dan Mang Endut yang mendapat penjelasan itu kembali tertunduk. Keduanya semakin menyadari betapa tindakan yang telah dilakukan tak sepatutnya terjadi jika saja keduanya memahami posisinya masing-masing. Penjelasan Abah Astagina kali ini benar-benar menohok batin sepasang suami-istri itu.

“Sudah saatnya kalian belajar bertindak ikhlas. Sebab keikhlasan itu sangat dekat dengan keridhaan Tuhan. Dalam sebuah hadis, Rasulullah Saw. berkisah...”

“Maaf sebentar, Abah. Sebelum melanjutkan, apakah Abah ingin minum? Air putih saja, kan?” Nyi Larung memotong ucapan Abah Astagina.

“He, he, heh.. Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar juga, Nyai. Apa saja yang penting enak,” Abah terkekeh melihat putrinya tanggap pada situasi.

Nyi Larung bergegas menuju dapur menyiapkan air putih untuk sang ayah. Sebagai seorang anak, Nyi Larung paham betul jika ayahnya memiliki masalah dengan tenggorokan. Usia Abah Astagina yang sudah tua ditandai pula dengan batuk yang beberapa kali diperdengarkan. Tak mungkin jika Nyi Larung memberikan teh manis yang nantinya dapat memicu batuk.

“Terima kasih, Nyai,” ujar Abah Astagina saat sebuah gelas dan sepiring singkong rebus menghampirinya.

“Endut, Nyai, ketahuilah bahwa sangat sedikit orang-orang yang memiliki keikhlasan di hatinya. Karena keikhlasan, sejatinya, bukanlah hal yang dapat di-cloning ke siapapun atau bersifat genetik. Para ulama mengatakan, ikhlas merupakan anugerah yang Allah Ta’ala berikan kepada hamba-hamba yang benar-benar mencintai-Nya. Konon, karena persoalan ikhlas inilah Baginda Rasulullah Saw. pernah mengernyitkan dahinya ketika seorang sahabat bertanya tentang apa yang dimaksud dengan ikhlas.

Setelah mematung sejenak, Rasulullah Saw. memusatkan perhatian dan menyampaikan pertanyaan serupa kepada Malaikat Jibril a.s., ‘Aku bertanya kepada Jibril As tentang ikhlas, apakah ikhlas itu?'' Lalu Jibril bertanya kepada Tuhan Yang Mahasuci tentang ikhlas, apakah sebenarnya? Allah Swt. menjawab Jibril dengan berfirman, ‘Suatu rahasia dari rahasia-Ku yang Aku tempatkan di hati hamba-hamba-Ku yang Kucintai.’ Demikianlah, begitu sulitnya menemukan ikhlas di hati semua orang, sampai-sampai Rasulullah Saw. sangat berhati-hati mengupas definisi ikhlas.

Endut, Nyai, seorang ulama kenamaan, Imam Al-Qusyairi An-Naisabury berpandangan bahwa bila seseorang memiliki sifat ikhlas, sesungguhnya ia akan menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan hidup. Apa yang dilakukannya semata-mata untuk Allah meski yang dia perbuat untuk mengurangi penderitaan sesama manusia. Ia akan selalu membantu orang, dengan alasan karena Allah memang Zat yang senang membantu. Ia akan bekerja kalau Allah yang menjadi tujuannya.”

“Wah, wah, beruntung sekali orang yang diberikan rasa ikhlas oleh Allah. Tapi, Abah. Apakah kita bisa menilai seseorang yang memiliki rasa ikhlas?” tanya Mang Endut.

“Oh, bisa. Sahabat Anas Ibnu Malik menuturkan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda mengenai ciri-ciri seorang mukhlis (orang yang memiliki keikhlasan), ‘Belenggu tidak akan masuk ke dalam hati seorang muslim jika ia menetapi tiga perkara; ikhlas beramal hanya bagi Allah, memberikan nasihat yang tulus kepada seorang penguasa dan tetap berkumpul dengan masyarakat muslim.’ Kalau kita bedah ketiga perkara ini, maka di dalamnya terdapat sebuah jihad an-nafs yang luar biasa. Kita dianjurkan untuk beramal hanya karena Allah Ta’ala saja, kita juga dianjurkan untuk memberikan nasihat kepada penguasa yang harus kita berikan nasihat dengan tanpa meminta pamrih apapun, baik uang maupun kekuasaan atau yang lainnya. Dan yang terakhir, kita pun dianjurkan untuk berkumpul dengan orang-orang muslim, yang tentunya mampu saling mengingatkan tentang kebenaran dan kesabaran.

Dan bagi seorang yang ikhlas, seluruh perbuatannya akan selalu berdasarkan suara nurani untuk kebaikan semua orang dan semua makhluk. Jika timbul dalam hatinya sebuah niat baik, ia akan melakukannya. Hidupnya mengalir seperti air bah, menerjang apa saja yang ada di depannya. Untuk apa yang dia perbuat, dia sudah melupakan apa yang disebut dengan pujian dan cercaan. Kata Dzun Nun Al-Mishry, ‘Amalnya tak lagi memberi ruang bagi lahirnya pujian atau cercaan’. Orang yang ikhlas akan tetap bekerja sesuai pesan Allah, meski manusia di sekitarnya memberikan pujian atau malah mencelanya.

Demikian tingginya derajat keikhlasan itu sehingga tidak semua orang mampu menjangkaunya. Dan ingat! Gara-gara ketidak-ikhlasan inilah orang-orang yang kita anggap saleh, justru pada akhirnya banyak yang tergelincir di jurang neraka!”

“Kenapa bisa begitu, Abah?” Mang Endut bertanya dengan serius.

“Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim r.a. dijelaskan bahwa Rasulullah Saw. mengisahkan tentang keadaan tiga orang yang melakukan amalan saleh: Orang yang pertama adalah seorang yang pandai membaca dan mengajarkan Al-Qur’an. Orang kedua adalah orang yang banyak bersedekah. Orang yang ketiga adalah orang yang berjihad di jalan Allah. Ketiganya merupakan orang-orang yang bergelimang pujian di mata masyarakat.

Ketika di akhirat, ditampakkan kepada ketiga orang ini nikmat-nikmat yang telah Allah berikan kepada mereka. Mereka lalu ditanya untuk apa nikmat yang Allah berikan tersebut. Orang yang pertama mengatakan bahwa nikmat yang Allah berikan itu dia pergunakan untuk membaca dan mengajarkan Al-Qur’an ikhlas karena Allah. Orang yang kedua begitu juga, dia menyebutkan bahwa nikmat dari Allah dia manfaatkan untuk bersedekah di jalan Allah. Dan orang yang ketiga berucap bahwa nikmat yang Allah berikan dia manfaatkan untuk berjihad di jalan Allah.

Setelah mereka menjawab pertanyaan tersebut, mereka ternyata tidak dipercayai oleh Allah. Orang pertama yang membaca serta mengajarkan Al-Qur’an, ternyata, memiliki secuil niat di dalam hatinya agar disebut sebagai qari’ (pembaca Al-Qur’an). Adapun orang kedua yang banyak bersedekah, memiliki secuil niat yang jauh di hati sanubarinya agar dipanggil sebagai dermawan. Sedangkan orang ketiga yang menghabiskan sebagian umurnya untuk berjihad, pun dinilai Allah memiliki secuil niat agar dia populer dengan panggilan pemberani dan saat meninggal nanti berharap mendapat gelar pahlawan.

Nasib mereka kemudian sangat tragis. Allah memerintahkan para malaikat agar ketiganya diseret ke dalam api neraka. Bahkan, lebih dari itu mereka diseret dengan sangat terhina!”

“Iiiih, serem sekali, Abah,” Nyi Larung yang merinding mengusap tangannya.

“Ya, begitulah, Nyai. Tiga orang yang melakukan perbuatan begitu mulia ternyata malah diseret ke dalam api neraka dengan sangat terhina. Apalagi kita yang hanya melakukan pekerjaan biasa saja, atau bahkan cenderung lalai terhadap apa yang diperintahkan Allah Ta’ala?”

“Berarti ketiganya memiliki persoalan dalam masalah niat, ya, Abah?” Mang Endut yang mencoba menganalisis kisah tadi bertanya dengan nada serius.

“Betul, Endut! Perbuatan baik mereka tercoreng oleh niat yang tidak diridhai Allah, meski hanya secuil! Oleh karena itu, Endut dan Nyai, marilah luruskan niat kita. Jangan sampai ibadah kita sia-sia karena tidak pandai menata niat. Jangan sampai sedekah kita diniatkan untuk popularitas, memberi makan orang miskin diniatkan agar dibicarakan orang, membaca Al-Qur’an di masjid-masjid supaya kelihatan alim, salat berjamaah di masjid biar dikira kita banyak ibadah, memerangi kemaksiatan supaya mendapat apresiasi dari banyak kalangan sebagai pemberani, atau lain sebagainya.”

“Wah, kalau begitu, sulit juga kita melakukan amal kebaikan. Bukankah terkadang kita sulit untuk melakukan sesuatu kalau tidak ada pamrih, Abah?” lagi-lagi Mang Endut bertanya.

“Itulah gunanya latihan beramal. Biasakan kita berniat dengan tulus hanya karena mengharapkan ridha Allah Swt. saja.”

“Kasihan juga, ya, para politisi kita yang menebarkan uangnya atas nama kadeudeuh. Karena di saat membagikan sembako, uang, sarung, dan Al-Qur’an, mereka juga membagikan kartu nama agar warga mengingat dirinya dan pada akhirnya memilih dia saat pilkada,” kata Nyi Larung.

“Memang, sejatinya para pemimpin dan calon pemimpin di negeri kita ini memberikan contoh terbaik kepada rakyatnya. Para pemimpin yang memiliki keikhlasan tentu akan selalu bekerja sesuai amanat rakyat, meski dia sadar tak ada orang yang memujinya. Dia selalu bekerja tanpa kompromi terhadap pelanggar dan pengkhianat rakyat, meski tahu akan dicerca banyak orang, bahkan koleganya.
Bagi orang yang hidupnya diliputi tabir keikhlasan, malah akan selalu melupakan apa yang telah dia amalkan. Anehnya, para pemimpin yang mendapatkan amanat rakyat justru tidak pernah mau bekerja dan beramal. Bahkan, kalau pun harus bekerja, dia masih menunggu apakah memang terbuka peluang bagi munculnya pujian. Keberaniannya memberantas korupsi langsung mengkerut, setelah berhitung betapa banyak yang akan mencercanya.

Para pemimpin yang hatinya bersimbah keikhlasan ini akan berlaku adil, tidak hanya memihak golongannya saja, tetapi juga mendengarkan aspirasi sebagian rakyatnya yang lain. Ia pun akan bersifat universal, lintas agama, lintas golongan ataupun lintas kepentingan politik, asalkan masih berada dalam koridor kebenaran. Pemimpin semacam inilah yang selalu menjadi gunjingan positif publik dunia sekaligus didengarkan segala aspirasinya.”

“Betapa indahnya negeri ini jika memiliki para pemimpin dan wakil rakyat yang hatinya berselimut tabir keikhlasan, ya, Abah. Sayangnya, para pemimpin kita dan wakil rakyat, sepertinya, memiliki political will yang jauh dari keikhlasan untuk menyejahterakan rakyatnya. Mereka malah sibuk mementingkan kebutuhan pribadi dan golongannya dengan menghalalkan segala cara dan tidak peduli pada kondisi riil rakyatnya.”

“Tapi ingat, Nyai, bukan karena kisah dari Rasulullah Saw. tadi kita kemudian menyurutkan langkah untuk beramal kebaikan. Bisa jadi orang-orang yang mendengarkan kisah di atas berpendapat untuk lebih memilih tidak berbuat amal kebaikan dibandingkan berbuat namun tetap saja dijebloskan ke neraka. Bukan begitu. Teruskan saja kita beramal kebaikan, namun, yang perlu diingat dan diperhatikan adalah: kita harus menjaga niat!”

“Oh, begitu. Hampir saja saya berpendapat bahwa mungkin lebih baik saya tidak menyiapkan masakan untuk Kang Endut. Karena saya takut jika salah niat, apa yang saya kerjakan pun menjadi sia-sia.”

“Wah, jangan begitu dong, Nyai. Bagaimana dengan cacing-cacing yang ada di perut saya?” Mang Endut memprotes dengan kekanak-kanakannya.

“Betul, jangan begitu, Nyai. Sebagai manusia, kita adalah mahalul khatha’ wa an-nisyan, tempat salah dan lupa. Jadi, saat kita merasa ada sedikit saja niat kita yang melenceng dari koridor yang benar, maka perbaikilah. Ucapkan istighfar ketika kita tergeincir, agar Allah Swt. berkenan mengampuni kita dan meluruskan kembali niat kita. Setelah memohon ampun, tatalah kembali hati kita untuk berniat, apa pun yang kita kerjakan hanya berharap mendapat keridhaan Allah Swt..”

“Sekarang saya mengerti, Abah. Mulai sekarang saya akan tetap tersenyum meski masakan saya tetap saja tidak dimakan Kang Endut,” Nyi Larung mengangguk dengan nada bersemangat.

“Nah, begitu dong, Nyai. Sebagai istri, melakukan service terbaik untuk suami adalah kewajiban. Kalaupun hasilnya tidak seperti yang diharapkan, ya, itu persoalan lain. Jika suami tidak mau memakannya, mungkin saja dia sudah kenyang atau memang kurang menghargai usaha istrinya. Hal itu jangan kamu pikirkan, Nyai. Biar saja itu urusan suamimu di hadapan Allah.”

“Betul, Abah! Biar saja Kang Endut digerus ulekan malaikat Malik jika sekali lagi berani mengingkari janjinya!” tiba-tiba Nyi Larung berpaling ke arah Mang Endut sambil memelototkan matanya.

“Iih, ulah kitu, Nyai. Saya janji tidak mengulanginya. Sueerr,” Mang Endut yang bergidik melihat ulah istrinya langsung mengacungkan dua jarinya.

***

Kehadiran Abah Astagina benar-benar menjadi pelita dalam keluarga Mang Endut dan Nyi Larung. Setidaknya, keributan yang terjadi dapat padam dan berubah menjadi sebuah kebahagiaan. Kini, di hadapan Abah Astagina tampak sebuah pertunjukan dagelan yang diperankan Mang Endut dan Nyi Larung yang saling berbantahan sambil sesekali tertawa.

Denting jam berulang sepuluh kali, pertanda tepat pukul sepuluh malam. Aura kebahagiaan yang terpancar di ruangan lagi-lagi memberikan imbas pada jam dinding. Kini, suara dentingannya tak lagi parau, melainkan nyaring pertanda turut bahagia pada suasana hati sang majikan.

“Alhamdulillah. Tidak terasa, ternyata sudah pukul sepuluh malam. Nyai, Endut, Abah pamit pulang,” Abah Astagina berdiri sambil merapikan bajunya.

“Abah, ini kan sudah larut. Sebaiknya Abah menginap saja di sini. Kamar depan sudah saya persiapkan untuk Abah,” Nyi Larung menawarkan.

“Terima kasih, Nyai. Mungkin lain kali saja, ya,”

“Tidak, Abah. Nyai berharap sekali Abah menginap malam ini. Bukankah di rumah ada Nyi Laras dan Dawala? Biar nanti saya menelepon ke rumah. Menginap saja, Abah,” Nyi Larung merengek seperti anak kecil meminta balon kepada ayahnya.

“Baiklah. Kalau begitu, Abah langsung tidur saja. Sudah mengantuk.”

“Sudah salat isya, Abah?” tanya Mang Endut.

“Alhamdulillah sudah.”

Abah Astagina langsung menuju kamar yang ditunjukkan Nyi Larung. Setelah pintu kamar tertutup, suasana ruang keluarga itu kembali hening.

“Nyai, kenapa Abah diminta menginap di sini?” tanya Mang Endut.

“Lho, memang kenapa, Pak?”

“Nyai, apa kamu lupa kalau malam ini malam Jumat?”

“Ada apa dengan malam Jumat, Pak?”

“Iih, Nyai. Kata orang, malam ini kan sunah rosul kalau kita...”

“Oh, begitu.. apa hubungannya dengan Abah?”

“Ya.., tidak nyaman saja.”

“Pak, ikhlaskan saja kehadiran Abah di sini. Mudah-mudahan amal kebaikan kita mendapat ridha Allah. Belajar ikhlas, ya, Pak,” begitu lembut Nyi Larung membelai wajah suaminya.
Ikhlas? Kata-kata itu masih mengganjal dalam hati Mang Endut. Untuk situasi yang lain, mungkin kata-kata itu masih bisa dipahami. Tapi, dalam keadaan seperti ini? Mang Endut masih harus berpikir ulang untuk menggarisbawahi kata ikhlas!

"Nyai, suerrr..Akang belum ikhlas," gumam Mang Endut lirih.

Ah, Mang Endut...

Baca Selanjutnya......